Agus-Sylvi Kebakaran Jenggot dengan Postingan Pataresia Tetty??

Agus-Sylvi Kebakaran Jenggot dengan Postingan Pataresia Tetty??

20

Facebook Tetty Patiresa yang di blokir

 

Masih ingat dengan seorang warga Kramat Jati bernama Pataresia Tetty? Yang memposting pengalamannya didatangi, di data dan kaca rumahnya di tempeli stiker pasangan Agus-Sylvi? Saya sempat menulisnya disini

Postingan tersebut sangat viral dan menjadi heboh baik di media sosial maupun media massa, tetapi sayangnya Bawaslu seperti BUTA dan TULI, pura-pura gak tau, sehingga walaupun indikasi kecurangan ini sudah terlihat jelas dan beritanya menyebar dimana-mana, tidak ada tindak lanjut yang dilakukan oleh Bawaslu kecuali “memperingatkan tim kampanye”.

Bawaslu sepertinya sedang berada di comfort zone nya, nyaman di lingkungannya sendiri, sehingga tidak perlu mempedulikan hal-hal yang bersifat dapat menciderai nafas demokrasi kita. “Peduli amat sama berita heboh itu, emang gue pikirin? Tinggal konpers sebentar, sudah aman” Mungkin begitu komentar Bawaslu mengenai berita ini. Padahal bila dilihat dari kebenaran beritanya bahwa siapapun dia yang mendata ulang warga dan meng-atasnama-kan orang Kelurahan sudah merupakan suatu pelanggaran besar yang harus ditindak.

Karnanya maka saya, sambil tangan kanan ditaruh didada dan tampang memelas yang khas berkata “SAYA PRIHATIN..” Grrrrrr… Geregetan campur aduk melihat kelakuan anomali keadaan, mbok ya kalau dikasih tugas, jabatan, amanah itu dikerjain yang bener gitu loh.. Kalau ada laporan atau komplenan warga ya cepet diusut dan ditindak sebagaimana mestinya, jangan malah didiamkan saja kayak orang budeg, pura-pura gak tau, lalu cuma memperingatkan tim kampanye si pelanggar.

Masalahnya menurut saya ini bukan pelanggaran ringan, mereka mendata warga dan meng-atasnama-kan Kelurahan, bahkan memanfaatkan tenaga honorer yang notabene digaji oleh Pemprov. Yang pertama, datanya mau digunakan untuk apa? Yang kedua, baik PNS/Tenaga Honorer yang digaji pemerintah DILARANG memihak apalagi menjadi tim kampanye, tim survey salah satu calon. Haram.

Seperti pertanyaan saya di artikel sebelumnya, kalau laporan atau komplenan warga dan indikasi pelanggaran seperti ini didiamkan saja, lalu apa gunanya peraturan dan Bawaslu? Peraturan diciptakan bukan untuk dilanggar, Bawaslu di dirikan bukan untuk memihak, tetapi untuk kerja mengawasi dan mengusut jalannya pesta demokrasi, jika Bawaslu tidak bekerja sebagaimana mestinya ya BUBARIN saja, sungguh sesuatu yang mubazir, buang-buang duit, mempekerjakan sekelompok orang yang tidak bekerja seperti seharusnya. “Un use” kalau kata teman saya mah.

Kembali ke Mbak Pataresia Tetty, entah berkenaan dengan postingannya yang menjadi viral melalui Faceobook atau dugaan pihak Agus-Sylvi yang kebakaran jenggot setelah indikasi kecurangannya memanfaatkan Petugas Kelurahan terbongkar, yang pasti sejak beredarnya postingan tersebut dan Mbak Tetty didatangi orang yang mengaku dari Bawaslu, tidak lama kemudian akun Facebooknya di non aktifkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Benar-benar mencurigakan.

Berikut pemberitahuan Mbak Tetty atas pe-non-aktifan akun Facebook miliknya:

 

Waow… Mereka bergerak cepat! Haha entah siapa yang bergerak cepat, pihak Agus-Sylvi atau Bawaslu?

Mari kita analisa..

Bila yang kebakaran jenggot adalah kubu Agus-Sylvi bisa dibilang masuk akal karna tentu saja mereka tidak ingin pencitraan yang selama ini dibangun rusak dalam sekejap hanya karna postingan testimoni seorang warga yang mencoba jujur dan menyuarakan kebenaran.

Bagaimana mungkin seorang Agus yang mantan perwira dan anak kesayangan Pepo yang seorang mantan penguasa 2 periode (dan seorang pencipta lagu itu)  #eh melakukan kampanye negatif dan tidak beretika dengan memanfaatkan petugas Kelurahan untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh tim suksesnya?

Bisa-bisa sang Memo “mengamuk” lagi dan berkata: “Tidak ada gen Yudhoyono yang melakukan hal tidak benar seperti itu!” begitu kira-kira “amukan” sang Memo bila mendengar berita ini, hohoho.. Iya Mem.. Keluarga Yudhoyono memang selalu ingin dicitrakan sebagai keluarga yang baik.. Pencitraan lagi kan judulnya?! wkwkwkkk

Lalu bagaimana bila kita lihat dari sisi Bawaslu?

Adakah kemungkinan Bawaslu sedikit terusik dengan lontaran bahwa Bawaslu buta-tuli? atau lontaran bahwa Bawaslu memihak? atau Bawaslu yang tidak bekerja dengan benar? Sehingga membuat Bawaslu memutuskan mendatangi Mbak Tetty dan memperingatkannya: “Kedepannya, bila ada kejadian yang sama dan tidak sepakat lebih baik langsung menolak dengan tegas, tidak perlu dibikin rame di media sosial dan menjadi viral”.

Masalahnya Pak Bawaslu, Tuh orang yang datengin warga ngakunya Petugas Kelurahan, lah kalo warga yang awam mah didatengin Petugas Kelurahan ya iya aja jatohnya.. Masih untung Mbak Tetty ngerti, mengantisipasi dengan mendokumentasikan stiker, kalender dan kejadian ini sehingga membuat masyarakat luas tau kalau hal kotor seperti ini benar terjadi.

Gimana dengan warga yang gak ngerti? Boro-boro mau mikir mendokumentasi, namanya yang dateng orang Kelurahan.. Di data ulang ya oke saja.. gak ngerti kalau itu bukan pendataan resmi. Dan jumlah warga yang awam seperti ini BUANYAK!! Bisa mikir gak data yang mereka kumpulkan itu akan digunakan untuk apa?

Lalu kalau yang memperingatkan Mbak Tetty benar dari Bawaslu, bukankah seharusnya Bawaslu mengusut dan menindak pasangan Agus-Sylvi ya? Bukannya malah mau “membungkam” mulut warga sedemikian rupa, apalagi sampai me-non-aktifkan media sosialnya.

Kan namanya saja BAWASLU, Badan Pengawas Pemilu. Tugasnya udah jelas buat mengawasi indikasi kecurangan sedikit apapun, mengusutnya, menindaknya. Bawaslu HARUS NETRAL DAN TIDAK MEMIHAK, Bawaslu milik semua pasangan, kalau beraninya “membungkam” seperti itu sama saja seperti centeng, Ini macem kamu punya istri 3 tapi pilih kasih, lebih condong memberikan segalanya kepada 1 istri saja, istri 2 lainnya cuma jadi pelengkap, ya gak usah poligami kalau gitu, tidak adil. Tidak usah menjadi Bawaslu kalau memihak.

Selain Mbak Tetty diatas, saya sebenarnya memiliki testimoni lain dari warga Jakarta yang merupakan pembaca saya, beliau membenarkan bahwa tenaga honorer kelurahan yang biasa membantu kegiatan RT bahkan dijadikan sebagai Tim Survey Paslon No urut 1, Agus-Sylvi. “Ada semacam penggiringan PKK, Jumantik dan Pekerja Sosial Masyarakat untuk paslon No.1” begitu tulisnya saat berbincang dengan saya. Bahkan beliau sendiri pernah dipinang oleh orang Dinsos Kecamatan untuk dijadikan timses dan saksi paslon no.1. Terakhir beliau diminta oleh PKK Kelurahan untuk merekrut orang untuk dijadikan tim survei timses paslon no.1. Yang kemudian ditolaknya.

Lihat saja, semua lini di Kelurahan dimanfaatkan, dari ibu-ibu PKK sampai honorernya. Kalau begini terlihat sangat sistematis dan terselubung. Pengalaman dari Pemilu sebelumnya, yang melakukan hal “curang” begini ini biasanya petahana, tapi kali ini petahana nya sportif, adem ayem, malah anaknya si mantan dan pasangannya yang ngebet banget.

Tidak salah setiap paslon memiliki tim sukses, tim survey, tim kampanye dan tim-tim yang lainnya. Asal TIDAK memanfaatkan alat negara, alat pemerintahan. Petugas Kelurahan, Kecamatan, Pekerja Honorer yang dibayar oleh Pemprov dengan menggunakan uang rakyat itu SEHARUSNYA NETRAL. Tidak memihak. Walaupun Mpok Sylvi seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya merupakan orang lama di kalangan PNS DKI.

Lagipula jika mau melakukan survei, lembaga surveinya harus didaftarkan ke KPU dan ada aturan-aturan yang harus diikuti sehingga resmi.

Warga Jakarta, bila mengalami hal yang sama dan berkenan untuk di share, silahkan komen dibawah atau email ke redaksi Seword.com, terimakasih.

Karna kita tidak ingin mendapatkan pemimpin hasil kecurangan. 5 tahun adalah masa yang tidak sebentar untuk di sia-siakan.

“Kejahatan akan selalu merajalela bila orang-orang baik diam saja”

 

 

 

Ucapan Terimakasih Warga kepada Pak Ahok, Atas Pembangunan di Kalijodo

Gerilya Agus-Sylvi. Analisa Indikasi Kecurangan Paslon No. 1

“Premannya” FPI Menghadang Ahok. Lagi

Penistaan Politik Oleh Sandiaga Uno! Kok Gak Ada yang Demo?!

Jadi Gubernur, Ambisi Si Agus atau Pepo nya?

Rizieq Shihab di Polisikan, Polisi Punya Nyali Menindak?

Teroris, Kalian Manusia Tak Berguna!

Semua Gara-Gara Ahok!

Sumarsono. “Menikmati” Menjadi Gubernur

Sumarsono, Plt “RASA” Gubernur

 

 

 

 

 

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat menghubungi:

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage