Agus-Sylvi kok Tak Kompak Soal Penggusuran?

Agus-Sylvi kok Tak Kompak Soal Penggusuran?

1

Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur hendaknya mempunyai visi misi yang sama saat berkampanye. Ini penting, sebab jika antara cagub dan cawagub punya visi misi yang berbeda, maka korbannya adalah pemilih. Mereka mau berkiblat kemana? Ke cagubnya, atau ke cawagubnya, atau berkiblat ke barat?

Hal ini terjadi di kubu Agus-Sylvi dalam memberikan penjelasan soal gusur-menggusur. Antara Agus dan Sylvi punya pandangan yang berbeda dalam menyikapi masalah ini. Agus tetap pada pendiriannya bahwa tidak akan ada gusur-menggusur. Agus, jika terpilih nanti, berani menjamin tidak akan menggusur warga, meski itu di lingkungan kumuh sekalipun.

Apalagi setelah ramai Agus mempromosikan program “kota apung” buah pemikirannya yang cemerlang. Pemilih makin yakin bahwa Agus punya komitmen yang kuat untuk tidak menggusur warga. Meski apa yang Agus tawarkan kepada warga begitu imajinatif lagi mengada-ada, tapi setidaknya Agus sudah berani berfantasi. Tinggal pemilih saja memutuskan untuk ikut berfantasi di tengah himpitan hidup yang makin sulit, atau memilih untuk tetap realistis.

Di tempat lain, Sylvi malah membuat pernyataan yang berlainan dengan Agus soal gusur-menggusur ini. saat warga Krukut meminta kepadanya untuk tidak menggusur mereka, Sylvi malah menjawab, “Mereka minta, Bu, jangan digusur. Saya selalu katakan masyarakat harus cerdas. Kenapa mau digusur? Karena akan ditata.”

Sylvi malah mengajak warga untuk bersikap cerdas soal penggusuran. Itu artinya, orang yang tidak mau digusur, padahal ia tinggal di atas tanah pemerintah, orang ini tidak mau diajak cerdas. Pemerintah punya niat baik untuk menata. Oleh karenanya, warga harus mau untuk ditata (digusur). Tapi, semua ini akan dilakukan setelah warga diajak dialog untuk mencari solusi.

Saya menganalisis, Mpok Sylvi menggunakan pendekatan persuasif untuk memberi pemahaman kepada warga, bagaimana menjadi warga yang baik dan cerdas. Bukan menina-bobokan dengan janji-janji imajiner. Ini sangat bagus, karena warga Jakarta diajak untuk waras, realistis dan tahu diri. Kalau mau hidup enak, rapi dan beradab, ya ikutin aturan pemerintah.

Ini sungguh berseberangan dengan Mas Agus yang terlihat terus menyuapi warga. Warga mau ini, ya saya akan kasih. Warga mau itu, ya saya akan kasih. Ini tidak mendidik. Pemimpin yang baik seperti yang Mpok Sylvi lakukan. Memberi pemahaman ke warga kalau permintaannya akan berbenturan dengan kepentingan yang lain yang sifanya jauh lebih penting.

Malahan. Saya melihat Mas Agus terlalu memaksakan. Mungkin saking tidak ingin mengecewakannya warga. Tapi, itu tidak baik Mas. Ini namanya pembodohan. Karena tugas pemimpin adalah mencerdaskan. Bukan buang-buang anggaran untuk hal-hal sebenarnya cukup dilakukan dengan kasih pemahaman.

Mas Agus sepertinya mau memakai konsep lama Pak Beye “asal warga senang”. Warga kasih duit, kasih tempat tinggal meski kumuh, tak perlu ada penggusuran meski banjir bakal menyerang, pokoknya, semua yang diminta warga, ya kasih. Ini cara lama yang sepertinya sudah tidak ampuh lagi Mas. Kecuali anda jadi calon gubernur di tempat lain. Mungkin, cara-cara seperti ini masih dapat dilakukan. Tentu itu tidak akan terjadi. DKI 1 dan RI 1 adalah tempat yang paling layak untuk Keluarga Cikeas.

Melihat ketidak-kompakan ini, para pemilih akan bingung mau mencoblos atau tidak. Di satu sisi, para pemilih senang dengan adanya janji tidak akan ada penggusuran dari Agus. Di sisi lain, mereka bimbang karena mereka tetap aja digusur dengan alasan penataan kota. Kebimbangan ini akan mengarahkan para pemilih untuk melirik Paslon nomor urut dua, Ahok-Djarot. Sebab, dari pada mereka digusur lebih baik mereka direlokasi ke Rusun.

Bukankah Ahok-Djarot sudah pengalaman dengan urusan relokasi? Rusun sudah ada, ya tinggal pindahkan warga saja. normalisasi sungai dan pemberantasan pemukiman kumuh yang bikin Ibukota kusut dapat dilaksanakan secepatnya. Tanpa warga harus susah payah lagi cari rumah. Bukankah ini sangat realistis ketimbang “kota apung” yang entah gimana wujudnya?

Ahok-Djarot tidak menggusur, tapi memindahkan. Ini adalah solusi yang tidak menimbulkan masalah sampingan. Mempertahankan kekumuhan, lalu ditata dan dilukis sedemikian rupa, tidak akan pernah memberikan solusi atas banjir. Malah, akan banyak biaya yang tidap tahunnya dikeluarkan oleh pemerintah. Ujung-ujungnya, pemerintah akan masa bodoh. Ini jelas-jelas memberikan solusi yang berpotensi memunculkan masalah lain yang lebih besar.

Dan terakhir. Ketidak-kompakan Agus-Sylvi harus segera diselesaikan. Karena, kasihan tim kampanye, tim sukses, juga jubirnya, harus terus-terusan ngeles menghadapi banyak masalah yang penimpa Paslon nomor urut satu ini. Mulai dari Jamran yang terlibat makar, para penghadang Ahok, penempel stiker, Gus Joy si pelupa dan penipu, dan kini Agus-Sylvi-nya sendiri yang mulai tidak kompak.

Saya rasa, begitulah kura-kura.

 

Share.

About Author

~cuma buih yang hendak berbagi secuil makna~

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage