Allan Nairn Ungkap Peran Harry Tanoe, Tommy Soeharto, Fadly Zon, Dibalik Gerakan Makar Al-Maidah

Allan Nairn Ungkap Peran Harry Tanoe, Tommy Soeharto, Fadly Zon, Dibalik Gerakan Makar Al-Maidah

239

Siapa Allan Nairn?

Allan Nairn adalah sosok yang menakutkan bagi para Jenderal militer di Indonesia. Pria kelahiran Morristown, New Jersey, Amerika Serikat, yang lahir pada tahun 1956 yang silam adalah seorang jurnalis kawakan spesialis investigasi yang khusus menulis artikel tentang hasil investigasinya terkait kebijakan luar negeri Amerika Serikat di negara-negara konflik seperti Haiti, Guatemala, Indonesia, dan East Timor.

Pria yang diklaim pernah tujuh kali masuk ke Indonesia secara ilegal itu bagaikan monster yang mengerikan di kalangan militer Indonesia. Di jaman rezim Soeharto dulu, melalui andil Amerika Serikat, Allan Nairn pernah merasakan dinginnya jeruji besi penjara di Indonesia karena ditangkap dan dijebloskan ke dalam tahanan oleh pasukan militer Indonesia.

Allan Nairn adalah saksi kunci dalam insiden Santa Cruz di Dili, East Timor, pada tanggal 12 November 1991 yang silam. Militer Indonesia kala itu melakukan pembantaian terhadap 271 warga sipil di Santa Cruz, Dili. Allan Neirn mengalami luka retak di kepala akibat dihantam popor senapan M16 tentara Indonesia.

Pada tahun 2010, Allan Nairn kembali menjadi incaran militer Indonesia karena dianggap telah melakukan fitnah yang keji terhadap militer Indonesia. Allan Nairn menantang dan mengancam balik akan membuka semua borok militer Indonesia jika ia ditangkap.

Pada masa pilpres 2014 yang lalu, nama Allan Nairn kembali mencuat ke permukaan karena membuat mantan Komandan Jenderal Kopassus Prabowo Subianto murka. Boroknya Prabowo Subianto dibuka Allan Neirn ke publik dalam wawancara eksklusif mereka pada tahun 2001 yang silam.

Prabowo berang karena Allan Nairn telah melanggar janji untuk tidak mengungkap isi wawancara itu ke publik sehingga banyak orang awam di negeri ini akhirnya jadi tahu sisi gelap pemikiran sang mantan Jenderal.

Akibat nyanyian merdu Allan Nairn saat itu, elektabilitas Prabowo Subianto yang sedang berjuang keras memenangkan pertarungannya melawan Jokowi untuk merebut kursi orang nomor satu di negeri ini akhirnya tumbang dan ambruk tanpa ampun.

Itulah sekilas sepak terjang Allan Neirn, sosok yang paling dibenci dan sekaligus momok yang paling mengerikan dikalangan militer Indonesia. Lantas apa peran Hary Tanoe, Tommy Soeharto, dan Fadly Zon dibalik otak upaya makar melalui Kasus Al-Maidah? Mari kita simak paparan berikut.

Permufakatan Jahat Untuk Menjungkalkan Presiden Jokowi Melalui Kasus Al-Maidah

Dalam tulisan investigasi Allan Nairn yang berjudul, “Trump’s Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President”, disebutkan bahwa pendukung utama gerakan permufakatan jahat dalam aksi makar untuk menggulingkan Presiden Jokowi yaitu didukung penuh dari belakang layar oleh Fadli Zon, Wakil Ketua DPR-RI saat ini, dan rekan bisnis Donald Trump di Indonesia, Hary Tanoe.

Sumber-sumber hasil investigasi Allan Neirn tentang gerakan makar untuk menggulingkan Presiden Jokowi diperoleh Allan dari sejumlah wawancaranya dan dokumen-dokumen yang ia peroleh dari internal TNI, Kepolisian, Intelijen Indonesia, serta Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) yang dibocorkan oleh Edward Snowden.

Dalam investigasi Allan Nairn dengan tokoh-tokoh kunci yang menggerakan perlawanan terhadap Presiden Jokowi, kasus penistaan agama yang menimpa Ahok hanyalah jembatan untuk menuju tujuan yang lebih besar, yaitu menumbangkan Presiden Jokowi dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia.

Awal gerakan makar dimulai dari gelombang aksi besar-besaran dengan tema aksi bela Islam yang bermunculan bak jamur di musim penghujan dalam masa Pilpres DKI Jakarta 2017. Aksi-aksi itu sengaja diciptakan sebagai pintu masuk gerakan makar dengan dalih menuntut Ahok segera ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara atas tuduhan penistaan terhadap agama Islam dalam kasus Al-Maidah.

Kivlan Zein mengatakan kepada Allan Nairn bahwa Ahok adalah berkah bagi gerakan makar melalui kasus keseleo lidahnya tentang Al-Maidah ayat 51 itu.

Aktor dalam rantai jejaring komando yang berperan sebagai pembuka jalan adalah Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin oleh Rizieq Shihab. Selain Rizieq, juga ada peran Juru Bicara dan Ketua Bidang Keorganisasian FPI, Munarman, serta Fadli Zon, Wakil Ketua DPR RI saat ini.

Arsip Snowden banyak menyimpan dokumen tentang ormas besutannya Rizieq Shihab yang merupakan cabang dari Jemaah Islamiyah, yaitu jaringan jihad yang terlibat dalam kasus Bom Bali pada tahun 2002 yang silam. Selain itu, Munarman juga pernah terekam hadir dalam pembaiatan massal kepada ISIS dan Abu Bakar al Baghdadi.

Dengan kekuatan pendanaan yang baik dan terorganisir rapih, mereka berhasil mengumpulkan masa umat Islam dari berbagai wilayah di Jakarta dan dari luar Jakarta untuk mengepung Jakarta.

Allan Nairn mendapat informasi yang detil terkait aksi-aksi tersebut dari lima laporan internal Intelijen Indonesia. Salah satu laporan menjelaskan bahwa penyandang dana gerakan aksi bela Islam sebagian didanai oleh Tommy Soeharto.

Peran Tommy Soeharto dalam aksi upaya makar terhadap Presiden Jokowi juga diakui oleh Jenderal (Purn) Kivlan Zein yang memiliki peran yang besar untuk membantu FPI dalam memimpin aksi besar-besaran bela Islam di Jakarta pada bulan November 2016 yang lalu.

Selain Tommy Soeharto, laporan lainnya memaparkan bahwa sebagian dana berasal dari Hary Tanoe, rekanan bisnis Donald Trump di Indonesia. Hary Tanoe adalah sosok yang dianggap penting untuk menjembatani akses Prabowo Subianto ke Donald Trump.

Laporan lainnya yang dipaparkan Allan Nairn dalam tulisan hasil Investigasinya bahwa sebagian dana gerakan FPI juga berasal dari mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Tujuh staf intelijen/militer dan pensiunan militer mengatakan kepada Allan Nairn bahwa SBY memang menyumbang dana untuk aksi-aksi FPI, tetapi ia menyalurkannya secara tidak langsung.

Salah satu informan Allan Nairn adalah Laksamana (Purn) Soleman Ponto, mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan penasehat aktif Badan Intelijen Negara (BIN). Soleman Ponto mengatakan bahwa SBY menyalurkan bantuannya melalui Masjid dan sekolah.

Soleman Ponto mengetahui hal ini karena selain keterlibatannya di dunia intelijen, ia juga tergabung dalam grup WhatsApp “The Old Soldier” yang terdiri dari Jenderal-Jenderal tua. Menurut Soleman Ponto, para pendukung gerakan makar menunggangi kasus Ahok sebagai pintu masuk untuk menggulingkan Presiden Jokowi.

Caranya bukan dengan melakukan serangan langsung militer ke Istana Negara dengan melakukan kontak senjata, melainkan melalui kudeta hukum dengan menduduki gedung parlemen, seperti yang dilakukan mahasiswa ketika menggulingkan Presiden Soeharto pada tahun 1998 yang silam.

“Makar ini seperti people power. Tetapi karena semuanya sudah ada yang mengongkosi, militer tinggal tidur. Dan Presiden sudah terjengkang saat mereka bangun”, ujar Soleman Ponto dalam tulisan investigasinya Allan Nairn.

Skenario lainnya, aksi-aksi yang dipimpin FPI dikondisikan untuk membikin Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia kacau balau. Tentara hanya akan turun tangan jika ada kekacauan, dalam keadaan damai, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Rencana besar ini diuraikan secara rinci oleh dua pentolan FPI, Muhammad Al Khattath dan Usamah Hisyam, saat Allan Nairn bertemu mereka pada bulan Februari yang lalu.

Setelah Al Khattath diringkus Polisi, Usamah mengirim pesan kepada Allan Nairn bahwa kini ia yang ambil alih kendali perjuangan di lapangan, seperti halnya peran Al Khattath yang mengambil alih kendali Rizieq di lapangan setelah digembosi melalui kasus skandal seks dengan Firza Husein, Ketua Yayasan Solidaritas Cendana.

Kivlan Zein memberitahu Allan Nairn bahwa beberapa hari sebelum demonstrasi besar-besaran digelar di Jakarta pada tanggal 4 November 2016 yang lalu, Kivlan menerima pesan teks dari Mayjen (Purn) l Budi Sugiana yang memintanya untuk ikut serta dan mengambil alih gerakan 411.

Misinya yaitu bergabung bersama Rizieq di atas mokom (mobil komando) selama demonstrasi berlangsung, karena mereka butuh orang untuk mengambil alih massa di luar Istana Negara seandainya Rizieq ditembak mati.

Di depan massa, para pemimpin gerakan diharuskan mengklaim bahwa mereka sangat terluka oleh ucapan Ahok. Tetapi secara strategis, pernyataan Ahok itu mereka terima dengan senang hati karena membuka jalan bagi mereka ke arah makar. Pada bulan Desember 2016, subuh dini hari, Kivlan Zein dijemput Polisi dari kediamannya dan digelandang ke Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

Saat Allan Nairn duduk dengan Usamah dan para pimpinan gerakan lainnya, mereka berdiskusi panjang lebar tentang Hary Tanoe yang mereka puji sebagai pendukung utama gerakan mereka melalui bantuan dana langsung dan melalui stasiun-stasiun televisi milik Hary Tanoe.

Mereka yang berada dalam ruangan itu sepakat dan satu suara menginginkan duet pemerintahan Prabowo-Hary Tanoe, Hary sebagai Presiden dan Prabowo sebagai Wakil Presiden, atau sebaliknya, tergantung polling nantinya bagaimana.

***

Artikel ini saya tulis berdasarkan referensi tulisan dari versi asli tulisan Allan Nairn yang berjudul, “Trump’s Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President”.

Gaya bahasa dalam tulisan ini saya olah dengan gaya bahasa yang sederhana agar mudah dimengerti oleh semua kalangan. Apa yang dipaparkan oleh Allan Nairn diatas hampir mendekati kebenaran, karena realitanya Ahok hanyalah tumbal politik. Saya ingat ucapan Presiden Jokowi di televisi ketika diwawancarai oleh wartawan, masalah pilkada kok larinya ke saya.

Untungnya Presiden Jokowi bukan Presiden yang mudah digulingkan. Beliau mampu mengkosolidasikan kekuatan dalam situasi genting saat itu dengan mengunjungi kekuatan militer yang setiap saat bisa digerakan dan melakukan pendekatan kepada para Ulama pemimpin agama, sehingga ketegangan politik dalam negeri akhirnya dapat dilumpuhkan dan situasi menjadi kondusif.

Sekalipun latar belakangnya bukan militer, Presiden Jokowi adalah sosok seorang pemimpin bangsa yang mampu menaklukan para Jenderal bengis yang siap menerkam dan mencabik-cabiknya setiap saat dikala lengah.

Seperti statement Jokowi dalam acara debat pilpres 2014 yang lalu, “Kalau soal kedaulatan bangsa, jangan dikira saya tidak bisa tegas. Kita akan bikin rame”.

Kura-kura begitu.

Baca juga: Investigasi Allan Nairn, Prabowo Subianto Bahaya Laten Demokrasi NKRI

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage