Anies dan Omong Kosong: Menyoal Tenun Kebangsaan yang Ia Koyak Sendiri

Anies dan Omong Kosong: Menyoal Tenun Kebangsaan yang Ia Koyak Sendiri

2

Anies Baswedan

Oleh Nikki Tirta.

“Sayang”, demikian benak saya memulai percakapannya. Sangat disayangkan, Anies mengoyak sendiri apa yang pernah ia rajut sebelumnya. “Tenun Kebangsaan” dan “Festival Gagasan” yang pernah beliau ungkapkan justru makin pudar seiring dengan makin dalamnya langkah kaki mantan Menteri ini di pilkada DKI. Dua konsep yang sangat elok ini ternyata usianya hanya seumur jagung. Bagaimana tidak? Tidak mungkin orang sekelas Anies tidak bisa mengerti bahwa kelompok-kelompok yang saat ini sedang ia rangkul adalah kelompok yang paling konsisten di dalam menyuarakan sikap eksklusivisme dan radikalisme dengan nuansa SARA yang sangat kental.

Bukan hanya itu, sikap Anies yang memanfaatkan situasi dari kasus dugaan penodaan agama yang menjerat salah satu kompetitornya membuat realita makin pahit. Dalam hal ini, ia memang pandai mengemas sikapnya dalam balutan kata-kata yang manis.

Dalam tulisan kali ini, secara khusus kita akan mencermati beberapa pernyataan Beliau pada saat diwawancarai oleh salah satu media nasional[1]. Saya akan mengutip beberapa bagian dari pernyataan beliau.

 “…menurut saya, kita harus memiliki tradisi berbeda dan matang. Itu sebabnya, saya merasa siap bersilaturahmi dengan siapa saja. menurut saya, salah satu problem masalah ini adalah terputus. Saya merasa kepemimpinan di Jakarta ini memecah belah. Statmentnya pun memecah belah, saya beri contoh: Pancasila sempurna bila minoritas jadi pemimpin jadi presiden. Itu pernyataan memecah belah. Seorang pemimpin harus mengekspresikan gagasan yang mempersatukan. Membuat orang fokus. Kalau saya bilang, Pancasila sempurna jika terjadi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pak Basuki ini mungkin bekerja dengan baik dengan apa yang dikerjakan, tetapi Jakarta juga membutuhkan kepemimpinan yang mempersatukan. Tapi kepemimpinan yang mempersatukan itu enggak selalu mudah, apalagi jadi jembatan. Kenapa jembatan itu tempat orang yang diinjak-injak. Tapi kalau enggak ada jembatan itu gak bakal ketemu.”

Persepsi yang Dibuat Keliru

Ada satu persepsi yang salah, bahkan cenderung menyesatkan di dalam komunikasi politik Anies. Pernyataan ini sesungguhnya tidak elok dan pantas bagi seorang akademisi yang mengedepankan objektivitas. Anies menyinggung soal apa yang pernah disampaikan oleh Ahok; perihal minoritas yang menjadi Presiden[2]. Di sini kita harus cermat di dalam menyikapi pernyataan Anies.

Pertama, pokok dari pernyataan Ahok bukanlah perihal “minoritas harus menjadi pemimpin”. Kalau kita mencermati pernyataan Ahok selama ini, pokok pernyataan Ahok adalah pada “Pancasila akan terealisasi secara utuh jikalau kaum minoritas pun bisa mendapatkan hak yang sama untuk menjadi pemimpin ketika kinerja mereka layak”[3]. Dalam hal ini, butir kelima Pancasila (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia) menjadi riil oleh karena boleh atau tidaknya seseorang menjadi pemimpin negeri bukanlah diukur dari suku, ras, agama maupun golongan mereka; melainkan berdasarkan kapabilitas mereka. Ini jelas, dan Ahok tidak membawa pesan ini kepada segregasi atau dominasi kaum minoritas terhadap mayoritas. Saya rasa akademisi sekelas Anies seharusnya bisa mengerti hal yang sederhana ini.

Kedua, sayangnya Anies malah menggiring pesan Ahok kepada sentimen yang negatif. Ia mengarahkan penafsiran terhadap pesan Ahok kepada isu segregasi SARA dan dominasi minoritas-mayoritas. Selanjutnya Anies malah membenturkan pernyataan Ahok dengan butir kelima dari Pancasila; butir yang sama yang menjadi tulang punggung dari pernyataan Ahok. Ini sudah merupakan penggiringan opini publik yang sesat. Mas Anies, kenapa Anda berubah sampai sejauh ini hanya karena kursi DKI?

Ketiga, Anies menuduh bahwa Ahok telah menjadi pemimpin yang tidak mempersatukan. Dalam hal ini mari kita bandingkan dengan Anies yang bersilaturahmi ke kubu Front Pembela Islam (FPI). Secara implisit, Ahok dinilai tidak dapat menjadi jembatan. Salah satu alasannya karena Ahok terus berseteru dengan kubu FPI, sedangkan Anies tidak. Karena itulah Anies menyatakan ia siap bersilaturahmi dengan siapa saja, termasuk FPI. Permasalahannya adalah, FPI tidak membangun ideologi kenegaraan mereka di atas Pancasila, terutama sila kelima. Terbukti dari mana? Terbukti dari, salah satu alasan penolakan FPI terhadap kepemimpinan Ahok adalah karena Ahok seorang non-Muslim[4].

Bersilaturahmi dengan maksud untuk mendulang suara dari kantong-kantong yang selama ini telah menjadi corong perpecahan bukanlah suatu bentuk kematangan demokrasi dan persatuan. Bagaimana mungkin akomodasi terhadap kelompok-kelompok yang selama ini mengoyak persatuan bangsa menggunakan isu SARA dianggap sebagai upaya membangun jembatan persatuan? Ini yang saya takutkan dari orang seperti Anies. Beliau manis dalam bermain kata, namun mengaburkan makna.

Duduk Paling Kiri: Muhammad al khattat (Sekjen FUI dan Pimpinan HTI). Berdiri Paling Kanan: Farid Okbah (Dewan Penasihat VOA-Islam). Duduk Paling Kanan: Bachtiar Nasir (Ketua GNPF-MUI dan Indonesian Humanitarian Relief – IHR).

Manisnya Kata yang Tak Pernah Sama dengan Realita

Pertanyaan: Kalau terpilih apakah masih mau nerusin program gubernur sebelumnya?

Nomor satu yang akan saya lakukan adalah menjalankan semuanya yang belum dijalankan oleh gubernur sebelumnya. Karena yang tidak dijalankan lebih banyak dibanding yang sudah dijalankan. Saya akan bikin jalan dulu. Apa sih yang enggak jalan, membangun keadilan sosial bagi warga Jakarta, membuat akses bagi kesejahteraan (warga) Jakarta. Saya akan hentikan pembiaran para orang miskin. Ini lebih mendasar. Saya akan membangun manusianya bukan benda mati. Karena itu politisi senang dengan benda mati, karena kelihatan. Membangun manusia itu kalau difoto tidak ada bedanya, itu kualitasnya. Dan saya akan fokus dengan keadilan sosialnya.

Perlu konsentrasi yang cermat ketika bermain kata dengan Anies. Ia pemain persepsi yang ulung melalui kalimat-kalimatnya yang rapih. Jikalau kita mengibaratkan diri sebagai seorang wanita, maka Anies adalah seorang perayu yang ulung nan rupawan. Wanita yang kurang awas akan sangat mudah ia permainkan. Mari kita perhatikan paragraf terakhir dari hasil wawancara denganya. Beberapa closing statement-nya menarik untuk dianalisa.

Pertama, Anies secara implisit melakukan diskredit pada prestasi kompetitornya (dalam hal ini Ahok) dengan menekankan yang belum dijalankan lebih banyak dari apa yang sudah dijalankan. Sebenarnya kalimat ini lebih mematikan bagi Anies sendiri. Bandingkan Ahok yang tetap menjabat sebagai gubernur yang sah hingga saat ini, dengan Anies yang “dicukupkan” masa jabatannya setelah hanya menjabat selama 20 bulan (kurang dari 2 tahun). Anies memiliki lebih banyak “yang belum dijalankan” ketimbang Ahok.

Kedua, kalimat “Membangun keadilan sosial bagi warga Jakarta” hingga “Saya akan hentikan pembiaran para orang miskin” ini merupakan kalimat normatif yang belum ada penjabaran riilnya; semua orang dapat mengatakan hal tersebut, bagaimana caranya? Itu lebih penting. Lalu Anies menyambungnya dengan kalimat “Saya akan membangun manusianya, bukan benda mati”, ini jargon yang selalu digembar-gemborkan oleh Anies belakangan ini. Kalimat ini cantik, tapi kontradiktif.

Dalam hal ini, bukan saja Anies berusaha memposisikan diri sebagai kontra Ahok, ia pun berusaha membangun persepsi bahwa dia lebih baik satu tahap dari Ahok yang dikenal apik membangun infrastruktur. Namun dalam hal ini, jargon Anies menceraikan pembangunan infrastruktur yang sesungguhnya merupakan salah satu elemen penting dalam menunjang pembangunan kemanusiaan. Sederhana saja, taraf kemanusiaan dari orang-orang yang tinggal di bantaran sungai yang kumuh tidak akan pernah terbangun kalau mereka tidak dipindahkan ke infrastruktur yang lebih layak.

Ketiga, pembangunan manusia yang bukan sekadar wacana pasti memunculkan dampaknya secara nyata. Antara sebelum dan sesudah harus terlihat perbedaannya. Adalah omong kosong ketika kita katakan akan membangun manusianya, kalau antara sebelum dan sesudah proses “pembangunan” itu tidak terlihat perbedaannya; bagaimana mengukur apa yang sudah kita kerjakan? Bagaikan ketika kita mengatakan kepada Istri kita bahwa kita sudah naik pangkat, tetapi gaji yang kita terima masih sama saja. “Naik pangkat rupamu!”, semprot Istri kita. “Udah sono kerja yang bener, ngomong mulu lu”, sambungnya.

Anies Baswedan Ketika Bersilaturahmi ke Markas Besar FPI, Petamburan (01/01/2017).

Akhir kata dari saya, jikalau Anies mau bicara soal membangun keadilan sosial, beliau bisa memulainya dari program Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus miliknya terlebih dahulu. Jikalau Anies benar-benar mengerti apa artinya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, maka seharusnya dia juga mengerti bahwa tidak perlu mengiming-imingi pemegang KJP di Jakarta dengan tambahan Kartu Indonesia Pintar (KIP)[5]. Sebab, jikalau dia mengerti sila kelima Pancasila itu, dia seharusnya sadar bahwa anak-anak kita yang membutuhkan bantuan pendidikan tidak hanya berada di Jakarta, melainkan di seantero pelosok Indonesia. Bukankah ia katakan bahwa keadilan sosial itu bagi seluruh rakyat Indonesia? Sayangnya, bagi saya, dalam hal membicarakan keadilan sosial, ia sudah gagal sedari awal.

[1]  Sumber: https://www.merdeka.com/khas/anies-pemimpin-itu-menyatukan-bukan-memecah-belah.html – Diakses pada 06/01/2017.

[2]  Sumber: https://www.merdeka.com/politik/curhatan-hati-ahok-memimpikan-kaum-minoritas-jadi-presiden.html – Diakses pada 06/01/2017.

[3] Sumber: http://www.tribunnews.com/nasional/2016/10/16/ahok-kalau-tahun-depan-saya-terpilih-karena-prestasi-bukan-karena-sara – Diakses pada 06/01/2017.

[4]  Sumber: https://www.merdeka.com/peristiwa/fpi-tolak-ahok-jadi-gubernur-karena-bukan-islam-bacotnya-busuk.html – Diakses pada 07/01/2017.

[5] Saya membahas ketimpangan dan tidak adilnya rancangan program KJP Plus Anies ini di dalam artikel saya yang berjudul: Manisnya KJP Plus-plus dari Anies.

Share.

About Author

Penulis awam yang masih belajar. Seorang amatir. Bergabung dengan Seword pada November 2016. Daftar tulisan: seword.com/author/nikki. Email: nikki.tirta.seword@gmail.com.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage