Anies Gunakan Perumpamaan Fira’un untuk Serang Ahok

Anies Gunakan Perumpamaan Fira’un untuk Serang Ahok

16

Perumpamaan Fira’un pertama kali dipopulerkan oleh Aa Gym. Perumpamaan ini hendak mengkritik pemimpin yang cuma bisa membangun fisik daerahnya. Tapi gagal membangun warganya. Banyak orang yang terkesima dengan perumpaan fira’un ini. Sebab, benar-benar menghantam pemimpin yang kinerja pembangunannya masif, terstruktur dan tepat sasaran. Contohnya, Pak Ahok dan Pak Jokowi.

Aa Gym menulis, “Kalau ada orang Muslim dukung Ahok karena katanya Ahok bisa membangun, maka sampaikanlah pada dia bahwa fir’aun bisa membangun mesir menjadi Negara gemerlap. Pendukungnya hidup makmur tapi fir’aun menistakan Agama Allah, maka Allah hancurkan dia.”

Tak jauh beda apa yang Anies sampaikan dengan apa yang Aa Gym sampaikan. Hanya, Anies berhenti apa aspek pembangunan saja. Dikatakan, “Pembangunan yang seharusnya dilakukan bukan hanya soal pembangunan fisik dan kota yang megah.” Sedang Aa melebar hingga bawa-bawa “penistaan agama”.

Saya jadi bertanya-tanya, mengapa banyak yang alergi dengan pembangunan (fisik)? Lebih jauh saya menduga-duga, agak-agaknya, mereka yang alergi ini lebih senang kalau pembangunan fisik bangsa kita diam di tempat bahkan mangkrak.

Misalnya, kita ambil contoh kasus Hambalang. Eh, jangan ada yang baper yeh..!! Dikarenakan pembangunan mental sepak bola bangsa kita masih jauh dari harapan, pembangunan stadion dan wisma atlet pun dihentikan. Bisa saja kan alasannya, “Pembangunan karakter orangnya belum siap.” Masuk akal toh alasan ini, kalau memakai konsep “perumpamaan fira’un”?

Seharusnya, Pak Jokowi ndak usah susah-susah membuat pemerataan pembangunan fisik di Indonesia Timur, toh mental orang disana pun belum siap. Ndak apa-apa BBM harganya selangit, semen harganya meroket, sembako harganya berlipat-lipat. Tidak usah bangun jalan-jalan fisik. Sebab, jalan-jalan non fisiknya belum terbangun.

Kalau “perumpamaan fira’un” kita pakai secara konsisten, orang-orang di Indonesia Timur bakal menjerit. Mereka hanya bisa pasrah meratapi nasib sebagai daerah yang tertinggal. Justru ini telah membunuh ra(i)sa keadilan kita sebagai sebangsa, setanah air, dan sebahasa. Justru kita sedang membangkitkan fira’un di negeri ini dengan bersikap diskriminatif terhadap mereka yang tertinggal.

Ingatlah. Pembangunan itu bermula dari fisik. Coba tanya Irene Handono saat pertama kali jadi muallaf. Bagaimana ia belajar shalat? Apakah shalat harus dibangun dari batin dulu, yakni kekhusyu’an yang mendalam? Tidak. Boro-boro khusyu’. Hafal bacaan dan gerakan shalat saja belum bisa. Lalu, apakah harus menunggu hingga gejala batin itu muncul baru melakukan shalat?

Seorang muallaf hanya bisa mengukuti gerakan-gerakan shalat dulu saat ia pertama kali belajar. Apakah shalatnya diterima? Allah lebih tahu dari para polisi syari’ah yang sok tahu. Gestur dari gerakan shalat pun sudah mewakili bacaannya. Lama-kelamaan, mereka pun akan bisa shalat dengan tata cara yang benar.

Repot jika seorang muallaf yang baru masuk Islam, lalu diajari shalat, langsung masuk ke pembahasan menikmati shalat yang khusyu’. Bukan jenjangnya itu. Kekhusyu’an akan muncul dengan sendirinya, saat ia telah membangun shalatnya secara fisik. Meski, banyak juga yang shalat, gerakannya bagus, bacaannya merdu, dahinya hitam, kecingrangannya tak diragukan, pokoknya sunnah pisan dah. Tapi, ia tidak bisa menjaga dirinya dari perbuatan keji dan munkar. Padahal dikatakan, “Shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar.”

Dari mulutnya keluar kata-kata keji. Dari tangannya lahir kezaliman. Dan dari lidahnya keluar kebohongan. Antara ibadah yang dilakukan dengan perilakunya sehari-hari tidak memperlihatkan harmonisasi yang ideal. Ini mengakibatkan terjadinya labil spiritual yang sangat kontroversial. Sehingga, akhlakul karimahnya terkudeta. Apasihhh..??

Fira’un memang jahat (fira’un yang hidup sezaman dengan Nabi Musa as.). Tapi setidaknya, ia telah menciptakan sebuah maha karya indah, yang pada zamannya hal itu sungguh sangat mustahil dilakukan. Saya yakin, jika Aa dan Anies pergi ke Mesir, takkan melewatkan momen untuk foto selfie di Piramida ciptaan Fira’un. Jadi, jangan terlalu sensi dengan pembangunan fisik, suatu hari nanti, kita bisa saja termakan omongan.

Mas Anies mengatakan, “Kalau hanya membangun kota yang megah, maka Fira’un pun dulu bisa membangun kota yang megah, tetapi menghadirkan keadilan, nah itu enggak bisa karena di sana enggak ada.”

Membangun kota yang megah itu susah loh Mas. Membangun sebuah masjid provinsi saja susahnya ndak ketolongan. Gubernur-gubernur silih berganti, tapi orang Jakarta hanya bisa bangga dengan masjid Istiqlal. Itu tempat ibadah. Belum lagi RUSUN. Baru sejak era Jokowi-Ahok pembangunan rusun dilakukan secara masif. Apa membangun itu mudah?

Kalau Mas Anies mengatakan pembangunan fisik itu hampa keadilan, maka adil mana, membiarkan orang-orang tinggal di pinggiran kali, dalam keadaan kumuh, terancam, juga bau atau merelokasi mereka ke tempat yang layak, bersih dan sehat semacam rusun? Pembangunan itu kan ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat. Masa dikatakan hampa keadilan?

Memangnya, Mas Anies sudah membangun apa saja sejak menjadi jadi menteri pendidikan? Proyek KIPnya kok mandek? Bahkan banyak laporan yang menyatakan “tidak tepat sasaran”. Inikah yang Mas Anies sebut sebagai keadilan?

Ra(i)sa-ra(i)sanya begitulah.

Share.

About Author

~cuma buih yang hendak berbagi secuil makna~

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage