Anies Mendapatkan Posisi, Ahok Memenangkan Hati

Anies Mendapatkan Posisi, Ahok Memenangkan Hati

14

Hiruk pikuk Pilkada DKI 2017 beserta rentetan demo-demo selesai sudah.  Anies-Sandi menang, Ahok-Djarot kalah.  Kita semua bisa menganalisa mengapa Anies menang, dan Ahok kalah dengan berbagai macam teorinya, tapi yang jelas itu fakta yang harus diterima semua pihak.  

Sebagai bangsa yang percaya Tuhan, kita mengerti bahwa “ujian” ini pun seijin Tuhan.  Artinya, Tuhan punya rencana, dan Dia punya hitunganNya sendiri. Melebihi teori konspirasi manapun, teori Ilahi tidak bisa dipahami sepenuhnya oleh manusia.

Meskipun demikian, kita sebagai manusia ber-Tuhan dan beradab, bukan sekedar beragama, bisa belajar dari kesalahan masa lalu dan belajar untuk menjadi lebih baik dikemudian hari.  Apa yang bisa kita pelajari sebagai bangsa dari Pilkada DKI 2017?

Banyak.  Tapi, saya cuma mau kita melihat sebuah realitas yang sangat kentara paska Pilkada.  Anies memang benar mendapatkan posisi Gubernur DKI, tapi Ahok ternyata memenangkan hati bangsa Indonesia (bukan hanya Jakarta).  Tidak heran, Anies-Sandi 100 hari pertama terus berusaha menghilangkan stigma politisasi agama, dan tiba-tiba menjadi penenun kebangsaan lagi.

Disini jaringan Indonesia Mengajar Anies akan berperan aktif untuk menghidupkan kembali brand image Anies sebagai penenun kebangsaan.  Menyatakan hal ini, saya mohon maaf dengan teman-teman baik saya yang masih aktif disana (saya sendiri bukan aktifis IM).  Tidak ada kepentingan saya merusak hubungan, tapi sama-sama kita belajar menyalakan lilin ditengah kegelapan, bukan mengutuki.

Jangan salah, saya akan terus dukung Anies-Sandi sebagai gubernur DKI yang amanah, tapi untuk mendukung gerakan sosial yang ada, saya tidak merekomendasi lagi.  Karena permainan berbahaya Anies harus diseimbangkan. Biarlahlah 5 tahun ini Anies belajar menjadi gubernur yang baik, dan semoga menjadi perjalanan rohani lagi bagi dia sehingga bisa menemukan hakekat menjadi penenun kebangsaan.

Kita dukung Anies di posisinya sekarang untuk kepentingan rakyat Jakarta, Jakarta Baru.  Tapi, kita harus mendukung Ahok untuk kepentingan yang lebih luas, Indonesia Baru. Memang itulah peta yang saya lihat, Ahok naik kelas, Anies turun kelas.  Tapi semuanya adalah kebaikan bagi mereka berdua, juga untuk kita WNI.

Saat ini karena Anies sudah mendapatkan posisi, maka dia sedang menghadapi ujian yang sebenarnya.  Apakah akan lulus? Kita hanya bisa mengikuti kiprahnya. Dan jangan heran, Anies-Sandi akan berusaha mencuri hati rakyat dengan berkampanye positif.  Jadi, setelah menang pun mereka masih harus berkampanye karena “hutang politik” di masa kampanye yang asli.

Dilain pihak, Ahok sekarang tanpa posisi, tapi mendapatkan hati masyarakat. Kasus ini seperti ketika Anies dipecat, justru dia dibela rakyat.  Tidak seperti sekarang, menang tapi dijauhi rakyat.  Lalu kemana Ahok harus berlabuh? Sebuah hitungan politik yang rumit, tapi sebenarnya sebuah rasionalitas yang sederhana.

Right man on the right place. Konsep HRD sederhana ini harusnya terus dipakai dalam memilih pejabat publik.  Tapi sayangnya faktor politik, dan rakus akan kekuasaan telah menghancurkan. “Sing penting menang” (baca: yang penting menang) itu komentar yang terlihat berseliweran di linimasa paska Pilkada.

Ahok harus diposisikan yang paling tepat untuk membangun Indonesia Baru. Rekam jejak dia memperlihatkan dia sangat bagus mulai dari strategi sampai implementasi, tapi yang paling menonjol adalan keberaniannya untuk melawan korupsi, dan mengatur birokrasi sehingga menjadi profesional.  Kedua hal itu adalah kekuatan yang dibutuhkan Jokowi untuk memenuhi Nawacita.

Tapi seperti kata Ahok, kekuasaan itu dari Tuhan sebuah amanah atau mandat, tidak perlu dicari tapi terus menyiapkan diri. Ketika panggilan untuk mengabdi itu datang, itulah waktu Tuhan untuk Ahok ambil bagian lagi didalam birokrasi.  Sebelum itu datang, minimal sampai Oktober 2017, Ahok tetap berkiprah menjadi gubernur aktif, dan saya yakin hati dalam 6 bulan kedepan, hati rakyat akan semakin terpaut kepada Ahok – Djarot.

****

Qin Sin Huang adalah raja pertama kekaisaran Tiongkok yang mampu “menyatukan” semua kerajaan-kerajaan kecil menjadi dinasti Qin. Tapi akibatnya dia menjadi raja yang dibenci rakyat karena kekejamannya. Bahkan alkisah, dia mati dalam perjalanan mengambil hati rakyat dan adipati (sumber)

Sepanjang posisi jabatannya yang pendek, raja Qin selalu berusaha menyenangkan rakyat, tapi tidak berhasil. Rakyat tidak bisa percaya lagi.  Sekali lancung keujian seumur hidup orang tidak percaya adalah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan.

Mendapatkan posisi tapi tidak dicintai adalah situasi yang dihadapi Anies. Sementara senyum dan ketawa legowo Ahok telah mengajar kita semua bahwa memenangkan hati lebih penting dari sekedar memenangkan posisi.

Bagi saya pribadi Pilkada DKI 2017 mengajarkan kepada saya bahwa membangun Indonesia Baru harus dimulai dari kemurnian hati untuk mengabdi. Karena meskipun memiliki ambisi positif untuk membangun bangsa, itu pun bisa terselewengkan. Intinya bukan soal saya, atau kita, tapi soal Indonesia Baru. Sebuah pengabdian.

Doa saya tetap sama untuk Ahok, Djarot, Anies, Sandi, dan Indonesia.  Biarlah kehendakNya terjadi di bumi seperti di surga.

 

Salam Damai Indonesia Baru
Pendekar Solo

#HidupBenar Lebih Baik Daripada Hidup Sukses

Share.

About Author

Seorang WNI yang merindukan Indonesia Baru

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage