Baru Didaulat Menang “Quick Count”, Sandi Malah Kasih Sinyal Reklamasi Akan Dilanjutkan

Baru Didaulat Menang “Quick Count”, Sandi Malah Kasih Sinyal Reklamasi Akan Dilanjutkan

243

Sejak awal menulis di seword.com saat heboh aksi 411 tahun lalu, saya selalu berjuang untuk yang terbaik bagi Jakarta. Bagi saya, Ahok adalah yang terbaik. Ia adalah alasan saya untuk terus terlibat dalam argumen-argumen politik yang sebelumnya saya cukup alergi mendekatinya.

Saya tahu, malam kemarin adalah batas akhir tulisan saya tentang Ahok dalam babak Pilkada DKI. Saya pun akhirnya tahu, bahwa sosok yang saya perjuangkan itu akhirnya kalah. Ahok dengan lapang dada menerima kekalahan meski disuguhi dengan air mata dari para pendukungnya. Lalu, apa alasan saya untuk tidak menerikam kekalahan ini?

Kita mulai babak baru. Babak ini bukan lagi soal mempertahankan Ahok dari gempuran fitnah dan tudingan-tudingan lawan. Babak baru ini akan lebih mengetengahkan soal sang pemenang. Kita akan mengawal janji-janji sang pemenang. Sebab janji adalah hutang. Dan hutang, dalam Islam, hukumnya wajib dibayar.

Kali ini saya mau mulai dengan Bang Sandiaga Uno, pengusaha muda yang sukses di dunia usaha juga pilkada. sudah ratusan miliar digelontorkannya untuk merebut kursi DKI 2. Tentu setelah berdarah-darah bertempur dengan segala sumber daya, baik harta, jiwa dan raga.

Belum lama didaulat menang oleh “perhitungan cepat”, Sandiaga Uno telah mengafirmasi bahwa proyek reklamasi akan dilanjutkan. Meski tidak secara gamblang, pernyataan Sandi di TV One malam ini bersama seorang tokoh nelayan di Muara Angke, telah membuktikan bahwa komitmen Anies-Sandi untuk menghentikan reklamasi adalah “manis di bibir-memutar kata”.

Sandi mengatakan, “Kota lain di dunia ada reklamasi. Entah itu di Hongkong, di Singapur. Tapi harus siapa dulu, lahan ini dibangun untuk apa dan untuk siapa. Nah setelah itu kita perhatikan. Setelah kita berkoordinasi dengan pemerintah pusat tentunya kita harus pastikan bahwa warga kota Jakarta adalah yang menjadi penikmat dari program-program yang tentunya harus berpihak para rakyat kecil.”

Sandi tidak lagi mengatakan “stop reklamasi”. Tapi reklamasi bisa dilanjutkan dengan melihat negara-negara tetangga seperti Hongkong dan Singapur. Yang penting, kata Sandi, dibangun untuk apa dan untuk siapa.

Tidak ada lagi kata-kata “hentikan reklamasi” atau “stop reklamasi” sekarang. Mengapa? Ya tentu ada perhitungan politik yang menjadi beban moral mereka. Saya tidak mau berspekulasi dulu dengan mengait-ngaitkan semua ini dengan keluarga Cendana. Karena memang pengaruh mereka cukup besar soal reklamasi.

Tapi poinnya adalah komitmen Anies-Sandi terkait reklamasi seperti terhempas angin yang tak tentu arah. Kemana arah angin berhembus, Anies-Sandi akan mengarah kesana.

Lalu, seorang nelayan yang berada di studio TV One menjelaskan dengan nada medhoknya, “Jadi kalau reklamasi dilanjut di teluk Jakarta, itu kan, akan direncanakan reklamasi 17 pulau. Kalau reklamasi dilanjutkan berarti teluk Jakarta habis sama reklamasi semua. Dengan sendirinya nelayan akan terusir walaupun tidak diusir ya. Ia dengan sendirinya akan pergi.

Moderator bertanya, “Walaupun disiapkan konsep-konsep tentang kampung nelayan, rumah sakit, rumah susun?

Nelayan tadi menjelaskan lagi, “Itu tidak akan bisa mencakup kesejahteraan nelayan. Karena nelayan sejahtera itu karena tanah lautnya subur, lautnya ada, tidak dirampok pulau reklamasi. Itu akan mensejahterakan nelayan. Tapi konsep-konsep kayak rumah, mata pencahariannya gak ada ya sama aja.

Dari awal Sandi menjelaskan soal reklamasi, mimik wajahnya seperti mengungkapkan ketidakyakinan dia untuk menjelaskan soal reklamasi. Ia seperti mencari-cari kata dan kalimat yang bisa merangkul semua. Ia seperti takut melihat ke layar. Sepertinya ia tak mau kalau pernyataannya ini malah menghancurkan harapan dari jargon yang memenangkannya malam ini.

Tapi di sisi lain. Sandi juga merasa mustahil untuk menghentikan reklamasi. Bagaimana dengan teman-teman pengusahanya? Bagaimana dengan keluarga Cendana yang telah mendukungnya? Bagaimana dengan dasar hukum reklamasi?

Semua itu mengganggunya. Pada akhirnya, ia tak mampu merangkul setiap orang. Pada akhirnya, ia harus mengorbankan pihak tertentu. Meski pihak tersebut yang memberikan kontribusi paling besar untuk kemenangannya.

Itu baru soal reklamasi. Masih banyak janji-janji Anies-Sandi yang harus dikawal. Tapi masih lama kok. Santai aja yah. hehehe..

videonya disini: https://twitter.com/PartaiSocmed/status/854697865859391488?s=08

Share.

About Author

~cuma buih yang hendak berbagi secuil makna~

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage