Benarkah Jokowi Tidak Bisa Dilawan?

Benarkah Jokowi Tidak Bisa Dilawan?

8

Paska Ahok dipenjara, suhu politik Indonesia menurun tapi terlihat dan terasa pertarungan “under the carpet” justru semakin strategis. Kasus Riezieq, Buni Yani, yang disusul HT bergulir dengan sangat natural sehingga memperkuat posisi politik Jokowi. Keberhasilan meredam harga-harga, dan macet lebaran telah membuat Jokowi semakin kuat secara sosial.  Tapi apakah Jokowi benar-benar tidak ada celah untuk dikalahkan di 2019?

Pertanyaan ini penting untuk dikaji karena kasus Ahok yang “sudah jelas menang” yang bisa tiba-tiba jatuh. Kita bisa mengutuki para politikus yang menggunakan SARA untuk mengalahkan Ahok, ataupun para pecundang-pecundang yang mendompleng Pilkada DKI untuk memperkuat posisi tawar, sampai rakyat yang begitu culun sehingga sanggup dimanipulasi sedemikan rupa, tapi realitasnya tetap sama Ahok jatuh, mereka tertawa.

Bahkan Ahmad Dhani dengan pongahnya mengatakan dia bukan anggota tim sinkronasi, tapi anggota tim melengserkan Ahok. Menurut saya, twit Dhani kali ini mengkonfirmasikan bahwa tim melengserkan Ahok berapapun harganya itu memang ada.  Ahok yang telah bermanifestasi sedemikian kuatnya telah menjadi “musuh bersama” bahkan disinyalir oleh anggota parpol pendukungnya sendiri.

What’s the point?

Selalu ada celah. Itulah poinnya. Seperti Ahok, Jokowi pun juga bukan Tuhan yang tidak ada kelemahan dan kesalahan. Seperti singa, musuh politik Jokowi selalu mengelilingi dan mencari cara untuk menerkam. Ahok lengah, maka dia pun menjadi mangsa. Sebab itu pendukung Jokowi tidak boleh terlena, Jokowi pun bisa jatuh apabila tidak berhati-hati.

Politikus tak bermoral tidak akan peduli apapun, mereka hanya fokus satu hal, bagaimana menang dan mengalahan musuh.  Setelah ada di posisi, dengan enteng mereka akan menjadi malaikat lagi dan berbicara soal apapun yang indah-indah dari rekonsiliasi sampai toleransi pun akan dilakukan.

Dimana Celah Jokowi?

Kekuatan kita dapat menjadi kelemahan kita. Demikiran juga kelemahan kita bisa menjadi kekuatan kita. Ahok sangat kuat dalam menjalan tugasnya, tapi justru ketika dia berusaha untuk memakmurkan masyarakat kepulauan seribu dengan “berlebihan” itu ternyata menjadi batu sandungan Ahok.

Sekali lagi, lupakan dulu sejenak moral atau tidak bermoral dalam kita mencoba menganalisa dan mengerti pikiran “singa-singa” kelaparan disekitar Jokowi-Ahok. Dengan mencoba memakai bingkai berfikir tak bermoral, baru akan terdeteksi strategi mereka.

Kembali soal kekuatan dan kelemahan. Kekuatan Jokowi yang terutama hasil kerja yang sangat jelas terlihat dan dirasakan. Yang kedua, Jokowi juga mampu untuk menyimpan emosi dengan baik sehingga seperti “pemain poker” banyak kartu Jokowi yang sulit dibaca.

Yang ketiga, Jokowi memiliki anak-anak yang tidak berpolitik sekaligus berdikari sehingga mampu memberikan keyakinan ke masyarakat bahwa Jokowi tidak KKN. Yang keempat, Jokowi memiliki relawan-relawan militan yang sangat loyal, bahkan relatif hampir semua relawan Ahok adalah pendukung loyal Jokowi juga.

Yang kelima, Jokowi didukung parpol pemenang pemilu 2014, sekaligus pendukung-pendukung yang sudah solid dalam konsilidasi sehingga terasa bagaikan benteng yang sangat kuat.  Dan daftar kehebatan Jokowi ternyata tidak begitu sulit dicari, sehingga yang ke-6, ke-7, dsb bisa ditambahkan.  Tapi kembali pertanyaannya, tidak adakah celah sama sekali?

Kalau dalam hukum ada yang disebut no perfect crime, kita harus bisa menerima  bahwa no perfect president. “Kesempurnaan” Jokowi ini justru bisa menimbulkan rasa dengki dan iri dari banyak pihak. Seperti halnya dengan Ahok. “Roh Iri Hati” ini dalam primbon-primbon kitab suci adalah pertarungan yang paling awal.

Ketika Kain membunuh Habil, motivasi awal yang mendorong Kain adalah iri hati. Sebab itu dikatakan “spirit of cain” ini akan membangkitkan Yudas-Yudas, Brutus-Brutus, dan yang lain-lain. Suara-suara sumbang yang bermunculan menyerang Jokowi sebenarnya akarnya adalah iri hati.  Dan kekuatan dari iri hati ini apabila terkumpul maka bermanifestasi seperti aksi demo-demo Ahok yang berjilid.

So What?

Jokowi harus mampu meredam pihak-pihak yang iri hati ini, minimal memecah suara mereka sehingga tidak menjadi satu arus yang bisa gelombang balik yang kuat. Isu agama, PKI, freeport, dll tidak akan mendapatkan momentum apabila tidak didukung massa yang dibakar api iri yang apabila telah bermanifestasi menjadi dengki dan benci akan semakin mustahil untuk dibendung.

Tim inti Jokowi harus mulai memetakan pihak-pihak yang merasa bisa lebih baik dari Jokowi, dari sanalah akan terpetakan musuh yang sebenarnya. Karena merasa lebih baik adalah bentuk dari iri hati.  Paling tidak pemetaan bisa dimulai dari 4 nama besar yang secara implisit maupun explisit merasa lebih baik dari Jokowi yaitu Prabowo, SBY, HT, dan JK.

Sekali lagi perlu diingatkan, Ahok dikalahkan oleh para pemilih subyektif, bukan obyektif, jadi mengerjakan sisi obyektifitas Jokowi sudah sampai titik jenuh, saatnya mengelola sisi subyektif yang emosional. Doesn’t sound good, but it did work with Ahok!

 

Pendekar Solo

 

 

Share.

About Author

Seorang WNI yang merindukan Indonesia Baru

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage