Bersama SBY Kita Bisa (II)

Bersama SBY Kita Bisa (II)

26

Halo Pembaca Seword yang budiman, beberapa hari ini selama liburan penulis berkunjung ke rumah orang tua di Magelang. Selain silaturahmi dengan orang tua yang tinggal semata wayang (bapak sudah meninggal dunia), juga ada agenda terselubung untuk bernostalgia menikmati kuliner masakan kegemaran penulis di masa sekolah dulu.

Sup Senerek (kacang merah) Bu Atmo, yang berisi sup kacang merah yang ditaburi bawang goreng dan bayam rebus dan di lengkapi dengan bacam jerohan (usus) sapi. Warung Bu Atmo ini menjadi salah satu heritage dari kota Magelang dikarenakan telah ada sejak tahun 1967.

Namun selama 3 hari menginjakkan kaki di kota Magelang, rencana penulis untuk bersantap kuliner kolonial Belanda ini gagal total karena selalu kehabisan ketika mendatangi warung itu sebanyak dua kali.

Ketika penulis sudah kembali liburan ke rumah, secara kebetulan ada teman istri yang berbaik hati membawakan masakan sup senerek lengkap dengan suwiran daging ayam tebal ke rumah. Walaupun beda rasa tetapi penulis cukup puas menikmati kebetulan ini.

Kita sering menemui kejadian kebetulan-kebetulan ini selama hidup kita, entah itu memang campur tangan Malaikat yang mendengar suara hati kecil kita lalu menyampaikan ke Tuhan sehingga dengan KuasaNya yang tidak terhingga meluluskan keinginan kita tanpa kita sadari. Atau memang hal itu kejadian lumrah nan wajar layaknya kejadian alam di sekitar kita sehari-hari.

Penulis belum pernah mendengar sebuah penelitian yang mengadakan riset ilmiah tentang kebetulan ini.

Seperti kejadian sop Senerek itu, penulis pun menemui hal kebetulan lain yang baru saja terjadi.

Tiga hari yang lalu penulis sempat membuat artikel yang melawan kebiasaan penulis Seword, dengan judul Bersama SBY Kita Bisa https://seword.com/umum/bersama-sby-kita-bisa/ . Isi artikel ini banyak di kecam oleh sesama rekan penulis juga para pembaca Seword dikarenakan ide penulis untuk menggunakan kemampuan seorang SBY untuk menjadi bagian dari solusi pemecahan permasalahan krisis moral, intoleran serta politik akhir-akhir ini.

Kebanyakan mengecam artikel penulis yang di anggap membelot menjadi pendukung SBY. Mungkin dikira 10 tahun dirasa kurang jalan bergandengan dengan SBY. Padahal sebenarnya isi artikel itu adalah satire yang hiperbolik. Dengan solusi menjadikan bagian dari masalah untuk menyelesaikan permasalahan atau kongkritnya mengangkat seorang maling yang sering beroperasi, menjadi keamanan/security pada komplek yang sama.

Dan secara kebetulan pada malam ini di salah satu stasiun TV menayangkan wawancara dengan SBY yang berisi Klarifikasi,Saya Anti Makar.

Seakan-akan ada yang memberitahukan artikel penulis sebelumnya kepada SBY, sehingga perlu memberikan klarifikasi.

Dan di lain sisi ternyata ada sebuah kebetulan yang kedua. Kemaren Bloomberg me-release The Best Asian-Australia Leader 2016 adalah presiden Jokowi, dan secara kebetulan hal ini sekilas sepertinya perlu di klarifikasi oleh SBY.

Hal ini sangat terlihat pada narasi wawancara yang dengan SBY yang menceritakan kesibukan selain hobby bermusik selepas menjadi presiden.

Seolah ingin meng-klarifikasi pemberian predikat The Best dari Bloomberg ini SBY menceritakan kebanggaannya yang diminta oleh para pemimpin dunia yang dia sebut teman untuk menjadi ketua Global Green Growth Institute.

Hal ini seolah ingin menegaskan setelah 10 tahun berkiprah sebagai pemimpin dalam negeri, sekarang tingkatan SBY sudah naik ke tingkat dunia. Dan predikat The Best Leader kepada Jokowi tidak berarti apa-apa.

SBY juga menyikapi permasalahan suhu politik yang mulai menghangat dengan mengambil sikap berpihak kepada aksi-aksi yang dia sebut kekuatan tekad untuk mencari keadilan pada 411 dan 212.

Dia memilih cara yang berseberangan dengan Jokowi dalam mengelola kekuatan aksi tersebut. Yaitu dengan menemui perwakilan pihak pendemo untuk mendengarkan aspirasinya, dan memerintahkan kepada para pembantunya para menteri dan Kapolri untuk segera bertindak memenuhi aspirasi permintaan ganjil pendemo. Dan dalam wawancara itu seperti biasa sewaktu menjadi Presiden dulu ungkapan solusi dia hanyalah menyikapi tanpa solusi yang kongkrit.

Isu makar juga ditanggapinya pada kesempatan ini dengan memposisikan dia bersama keluarga sebagai korban pemfitnahan dan di zalimi dengan menggunakan pola strategi lama yaitu penggunaan kosa kata yang hiperbola untuk menyangatkan suatu arti seperti fitnah, keji, (sungguh) keterlaluan.

Sehingga publik lebih tersihir ke area itu tanpa memikirkan alasan SBY untuk menangkis tuduhan makar itu sendiri. Sekali lagi seperti sewaktu menjadi Presiden dulu penjelasan logisnya hanyalah penjelasan yang retoris tanpa penjelasan logis yang kongkrit.

Untuk definisi dari kata makar itu sendiri sepertinya SBY agak kesulitan untuk mengaitkannya dengan tujuan politis yang ingin disampaikan ke publik.

Sepertinya ada dilema dalam dirinya waktu proses penyampaian ke publik.Di satu sisi ingin mendudukkan kata makar itu sebagai hal yang mustahil di lakukan oleh para tokoh yang disangkakan oleh pihak Kepolisian, namun disisi lain ada pesan yang ingin dia kesankan ke pemerintah akan kekuatan people power.

Secara eksplisit dia ibaratkan bahwa tindakan makar itu seperti yang dilakukan oleh Dewan Revolusi kepada Bung Karno para medio 1965,dan peristiwa pada tahun 1998.

Penulis harap para pembaca bisa merenungkan kedua peristiwa itu dengan pesan yang dikesankan oleh SBY.

Dan secara implisit SBY ingin mengatakan bahwa posisi dia tidak berada dalam satu kubu dengan para penggerak utama aksi-aksi mobilisasi massa itu khususnya FPI, dengan perbedaan pemahaman hitungan jumlah massa yang di klaim FPI.

SBY menyebutkan perkiraan jumlah peserta demo itu jutaan di seluruh Indonesia dan ratusan ribu pada satu titik di Jakarta. Hal ini adalah pesan penting yang ingin dia kesankan untuk menangkis kedekatan dia dengan ormas fenthung itu. Padahal host wawancara tidak menanyakan hal itu.

Menuju pada konsensi 2017, sekali lagi SBY ingin memperlihatkan superioritas prestasinya dalam hal memimpin Indonesia dibandingkan Jokowi.

SBY menilai selama 2016, keberhasilan pemerintahan Jokowi hanya dalam hal penciptaan stabilitas politik yang dapat diartikan bahwa dia ingin masyarakat tahu hanya urusan politik yang selama ini dikerjakan oleh Jokowi dengan mengumpulkan kekuatan 2/3 dari jumlah anggota DPR.

Padahal kalau kita jeli hal ini berarti melawan dengan pernyataan pada narasi di awal wawancara yang menyatakan mulai bulan September stabilitas politik meningkat panas (bukan lagi anget seperti yang dikatakan Jokowi).

Dan untuk kekurangan pemerintahan Jokowi, SBY melakukan penggandaan seperti Dimas Kanjeng.

Dia menyebutkan ada empat kekurangan pemerintahan yang harus disikapi segera dengan mengucapkan please,tolong. Lucu juga lihat orang segede itu lebay.

Yang kesatu, SBY menyoroti pertumbuhan perekonomian era jokowi yang Cuma berkisar di 5,2% kalah dari pencapaian pada era SBY yang ada di titik 6%.

Yang kedua adalah adanya proses penegakan hukum yang masih tebang pilih dengan adanya intervensi pemerintahan,sehingga masih belum dapat mendudukan hukum sebagai panglima.

Yang ketiga adalah adanya proses penegakan hukum yang masih tebang pilih dengan adanya intervensi pemerintahan,sehingga masih belum dapat mendudukan hukum sebagai panglima. Inilah penggandaan yang penulis maksud.

Yang keempat, penerapan demokrasi yang dinilai kebablasan pada era kepemimpinan Jokowi. Sehingga demokrasi hak asasi pribadi dia nilai mulai menuju ke demokrasi yang absolut. Hal ini dia maksudkan bahwa pemerintahan Jokowi dinilai tidak tegas terhadap aksi-aksi ormas intoleran dan ujaran kebencian pada medsos, yang penulis prediksi akan menjadi jalan masuk untuk menghantam pemerintahan Jokowi selanjutnya.

Pada sesi terakhir SBY (lagi-lagi) menyoroti sikap pemerintahan Jokowi yang dinilai tidak mendukung penuntasan permasalahan Suriah dengan ISIS secara proaktif.

Wawancara SBY ini menurut pengamatan penulis sebenarnya bukanlah suatu bentuk klarifikasi tetapi sebenarnya adalah suatu hantaman ke pemerintahan Jokowi.

Untuk mendapatkan kekuatan tawar politik (bargaining politic) kembali,SBY mencoba menarik publik untuk kembali melihat kemampuan SBY dalam memimpin lebih tinggi daripada Jokowi.

Sehingga hal ini akan mempermudah SBY dalam mencari panggung untuk menyebar luaskan opini-opini dia untuk kepentingan politisnya.

Di samping itu,jabatan sebagai Ketua Umum partai dia ingin memperlihatkan ke publik bahwa SBY beserta partai Demokrat masih merupakan kekuatan besar di Indonesia.

Sedangkan dalam hal pencalonan AHY,malah dia mengesankan sebagai mastermind karena pelitnya pernyataannya yang menyikapi seorang AHY.

Akhir kata,seperti artikel penulis sebelumnya tentang SBY ,penulis masih belum bisa menghilangkan kesan curiga terhadap seorang mastermind SBY.

Demikianlah Kura Kura analisa saya yang masih terus ber Pura Pura memahami permasalahan bangsa ini.

 

 

Share.

About Author

Just Aji...cuma itu tanpa tambahan apapun

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage