Catatan Kecil Akhir Tahun

Catatan Kecil Akhir Tahun

6

Halo Pembaca Seword yang budiman,tidak terasa kita sudah memasuki penghujung tahun 2016,tahun dimana menurut penulis adalah tahun yang sedikit istimewa dan penuh gejolak.

Yah sedikit istimewa karena pada tahun ini mantan presiden Kuba Fidel Ramos yang seangkatan dan murid ideology Soekarnomeninggal dunia bangga juga rasanya mempunyai Presiden dengan pengaruh yang mendunia.Tapi dilain sisi aneh juga melihat berita ada sebagian orang di New Mexico yang merayakannya dengan suka cita,sedangkan hampir separuh dunia berduka cita.Hmm,ga penting juga dibahas.

Selain itu tahun ini juga ditandai dengan adanya Presiden terpilih baru Amerika Serikat yang seperti biasa menjadi pusat perhatian dunia.Negara adidaya ini mampu menjadi pusat perhatian karena prestasinya dalam kekuatan perekonomian dan pencipta kedamaian (logika penulis sih kebalikannya) yang berpengaruh besar di dunia.Hal ini membuat penulis bertanya kapan Indonesia bisa menjadi pusat perhatian dunia karena prestasinya bukan karena prestasi represif aparat jaman Orba dan prestasi negara berpenduduk intoleran dalam satu tahun terakhir.

Prestasi Polri dalam menggagalkan usaha teror teroris dan mengamankan aksi-aksi demo intoleran yang damai juga menjadi kado manis di tahun 2016 ini.

Menyikapi aksi demonstrasi ini,penulis yang menjadi salah satu pelaku sejarah yang mengalami tiga era demokrasi dan pergantian enam presiden.Asyik juga menjadi warga yang pernah dipimpin oleh sekaligus enam presiden yang berbeda.Cukup bangga juga dibandingkan ayah dan kakek penulis yang sudah almarhum cuma pernah dipimpin satu dan dua presiden,tapi lama diperintah Raja Mataram sih.

Kembali ke masalah demonstrasi ini,penulis yang bukan ahli faham-faham isme melihat perkembangan demokrasi di indonesia yang pernah dialami terbagi menjadi tiga jaman.Jaman Demokrasi Pancasila Orba,jaman demokrasi reformasi dan jaman demokrasi Liberal.

Pada masa Orde Baru demokrasi yang dikembangkan di Indonesia adalah demokrasi dengan pendekatan represif dan penuh tekanan.Hak berbicara diberangus,hak mengemukakan dipasung,hak berpolitik dibatasi menjadi tiga saluran,dua parpol dan satu orsospol.

Pada masa ini penyampaian informasi kekuasaan diseragamkan menjadi satu saluran lewat Departemen Penerangan,terjadi gejolak perjuangan yang melawan gaya demokrasi ini yang dimotori oleh masyarakat golongan menengah dan mahasiswa.

Dan hebatnya perjuangan melawan demokrasi represif pemerintah ini benar-benar murni tanpa kepentingan politik praktis dan hanya menuntut reformasi total untuk mencapai kehidupan berdemokrasi yang lebih baik,dan tanpa bermaksud Riya,penulis cukup berbangga hati pernah menjadi bagian dalam perjuangan itu.Figur-figur seperti Sri Bintang Pamungkas,Amien Rais dan Rachmawati bersatu padu dengan tokoh-tokoh seperti Megawati,Gus Dur,Syafii Maarif memperjuangkan demokrasi menuju arah yang lebih sehat dan berpihak kepada rakyat.

Namun nama-nama seperti Habib riziek,Bahtiar Nasir atau tengku Zulkarnain belum sempat mampir ke telinga penulis pada waktu itu,atau mungkin berada satu sisi dengan pihak Kivlan Zein,SBY dan Wiranto penulis tidak tahu,Wallahualam.

Kondisi pada masa itu,adalah kebalikan pada masa sekarang,para pejuang demonstrasi adalah kelompok yang banyak dihujat sebagai kelompok yang membuat gaduh,meresahkan dan menghambat pembangunan.

Setelah terjadi People Power yang menghendaki perubahan ( reformasi) total pada pemerintahan mulailah di lakukan pembaharuan-pembaharuan demokrasi yang lebih berpihak pada perimbangan kekuasaan kepada rakyat dengan upaya-upaya desentralisasi.

Perjuangan fisik seperti demonstrasi di jalanan mulai ditinggalkan,selain tidak ada aspirasi lain yang diperjuangkan ,mereka lebih memilih merumuskan sistem pemerintahan dengan tatanan demokrasi yang baru.

Kehidupan berdemokrasi pada awal masa reformasi di rasakan cukup nikmat dan nyaman bagi penulis,masyarakat mulai merasakan kebebasan menyalurkan aspirasi lewat saluran-saluran politik yang berlimpah.

Setelah masa pemerintahan Megawati selesai mempersiapkan infrastruktur kemajuan demokrasi,akhirnya terpilihlah Presiden SBY yang sebagai tonggak awal pemilihan umum presiden secara full demokratis.

Memasuki era pemerintahan SBY,perkembangan berdemokrasi meningkat pesat dan bangsa indonesia memasuki peradaban baru dalam demokrasi liberal.Dimana kebebasan liberal mulai mewarnai masa ini dan mulai meninggalkan adab kesopanan dan norma kesantunan.

Demokrasi mulai dirasakan tidak asyik lagi apabila mulai melanggar hak-hak pribadi orang perorang maupun kelompok.Namun heran nya penulis adalah terjadinya pembiaran dan aksi tutup mata dan aksi tutup telinga yang dilakukan pemerintahan SBY dalam menyikapi kelompok-kelompok yang memaksakan kehendaknya dengan kekerasan dan pemaksaan ideologynya dengan dalih demokrasi.

Ketika pemaksaan dengan kekerasan dan cenderung anarkis ini mulai memancing reaksi publik dan publik mulai menuntut penghentian dan pengutukan aksi ini,barulah pemerintah memberikan reaksi yang penulis nilai cukup terlambat dan tidak berarti samasekali.

Tindakan pemerintah hanya dikesankan dengan wujud simpati dan empati dengan pidato-pidato “Saya prihatin” tanpa tindakan apapun.Hal ini menimbulkan menjamurnya aksi-aksi pemaksaan yang teroganisir dan melembaga di masyarakat.

Dengan kedok demokrasi mereka mulai memunculkan isu-isu keagamaan dan suku sebagai alasan dari aksi-aksi pemaksaan kehendak ini.

Dan di tahun 2016 ini aksi-aksi serupa muncul kembali dengan isu terakhir adalah proses Pilkada DKI Jakarta.

Ironis memang,dulu pada masa Orba,pihak ormas pendemo pasti menjadi pihak yang terpinggirkan dan menjadi bulan-bulanan pemerintah,tetapi pada masa sekarang ini pemerintahlah yang menjadi bulan-bulan ormas.

Pemerintah terpontang-panting dalam menerima aspirasi ganjil ormas pendemo.Ormas pendemo sepertinya tidak pernah puas dengan tuntutan mereka.Dipenuhi satu aspirasinya masih berdemo kembali dengan aspirasi lain lagi,dipenuhi lagi aspirasinya masih berdemo lagi,akhirnya karena kehabisan aspirasi maka bersholat Jumuah di tengah jalan yang menjadi tuntutannya.

Penulis yang menunjukkan ekspresi keheranannya mulai dengan menggeleng-gelengkan kepala,menjadi mengangguk-anggukan kepala hingga memutar-mutar kepala saking herannya.Ternyata keheranan penulis ini disambut baik oleh kepolisian dengan mengawal aksi demo intoleran itu berseragam dinas PDH (Pakaian Dinas Heran)..hehehe,maap ya pakpol cuma becanda.

Ceritanya belum habis disini,penulis melihat telah terjadi krisis multidimensi pada bangsa ini,dimulai dari krisis identitas diri,krisis dasar negara,krisis keberagaman,krisis toleransi,krisis pemahaman ketuhanan,krisis nurani dan krisis-krisis lain yang masih banyak lagi.

Kalau pada masa perjuangan Reformasi,krisis yang terjadi digerakkan oleh masyarakat lapis menengah dan mahasiswa dan yang menjadi korban adalah ras Cina dan sebagian masyarakat elit,maka pada krisis tahun 2016 ini krisis digerakkan oleh elit politik yang masih haus kekuasaan.

Dengan kedok berdemokrasi dan mengangkat isu SARA elite-elite politik ini menggerakkan beberapa Ormas keagamaan untuk memobilisasi massa yang di klaim berpartisipasi dikarenakan panggilan nurani.Makna mobilisasi dan partisipasi itu berbeda,kalau mobilisasi ada penggeraknya atau yang memerintahkan sedangkan partisipasi itu bersifat sukarela.

Krisis apapun pasti membuat orang di sekeliling menunjukkan warna yang sebenarnya entah itu berwujud sikap maupun perbuatan.Dengan adanya krisis ini kita dapat melihat pihak-pihak mana yang sangat berkepentingan memanipulasi,mana yang murni menginginkan perubahan ke arah kebaikan.

Dan penulis yakin dan percaya dengan adanya krisis ini kita akan berproses menuju suatu perubahan.

Keyakinan penulis didasari dengan mulai adanya gerakan-gerakan masyarakat kelas menengah yang selama ini menjadi mayoritas masyarakat Indonesia.Memang ada yang pro maupun kontra,tetapi dengan adanya gejolak pasti akan terjadi suatu formula atau rumus untuk menenangkannya.

Kelas menengah dengan kemampuan logikanya untuk menyikapi suatu permasalahan pasti akan merasa gerah akan kondisi krisis ini dan memulai gerakan-gerakan yang melawan manipulasi kelompok-kelompok yang mengambil keuntungan dengan berpolitik praktis.

Seperti yang penulis lakukan bersama Seword ini adalah salah satu upaya mengatasi krisis ini dengan cara menyampaikan pencerahan lewat opini artikel.

Sebagian besar kelas menengah ini ingin mapan,tapi tidak dengan cara korupsi,kepingin menyampaikan aspirasi,tapi tidak biasa demonstrasi.Kelas menengah tidak perlu memanipulasi dalam menyampaikan pendapat juga tidak perlu politik praktis dalam menentukan sikap.Karena kelas menengah mempunyai api dan daya ekspresi,sehingga politik kelas menengah adalah politik kita semua yaitu politik yang menghendaki perubahan ,menuju perbaikan.

Sekarang arah angin sedang berpihak kepada pemerintah,kami semua mendukung langkah perbaikan oleh pemerintah,usaha kami dalam mendukung sudah optimal,namun kekuatan dan kewenangan untuk menindak kelompok-kelompok yang menyulut krisis ini ada di tangan pemerintah.

Akhir kata,penulis sangat mengharapkan dengan berakhirnya tahun 2016 ini menjadi awal perbaikan krisis multidimensi ini.Namun apabila pemerintah ternyata melakukan hal yang sama seperti pada masa pemerintahan SBY dengan terus menerus melakukan tindakan pembiaran atas aksi-aksi intoleran yang mengancam stabilitas bangsa dan negara,dengan segala kesadaran,kami akan melakukan perjuangan melawan semua itu dan berdiri pada sisi yang berlawanan dengan pemerintahan.

Demikianlah Kura Kura pendapat saya yang mulai bosan ber Pura Pura memahami permasalahan bangsa ini…Wassalam.

 

 

 

 

Share.

About Author

Just Aji...cuma itu tanpa tambahan apapun

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com, jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat menghubungi:

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage