Dua Kebohongan Besar Irena Handono yang Dibawa Sepanjang Hidupnya

Dua Kebohongan Besar Irena Handono yang Dibawa Sepanjang Hidupnya

177

Saya malas sebenarnya menulis tentang Irena. Mengapa? Karena di nafas awal ceramahnya, apalagi yang menyinggung iman Kristen Katolik, dia menunjukkan pengetahuan yang sangat tanda tanya, terkesan dipaksakan. Ini bukan termasuk manusia yang perlu ditanggapi kata-katanya.

Begini, ada 2 tipe orang belajar. Pertama, orang yang belum tahu namun punya bakat cerdas, sehingga sedikit saja dapat pengetahuan, dia bisa mengkolaborasi dengan mencari sendiri sumber lain, lalu menghasilkan pemikiran. Kedua, orang yang belum tahu namun IQ memang terbatas. Sudah tahu sedikit, kapasitas otak juga sedikit, jadi ujung-ujungnya omong kosong panjang-panjang supaya kelihatan pintar. Kebetulan tipe yang pertama kurang cocok untuk dibahas lebih lanjut di tulisan ini.

Suatu hari, dibantu dengan buku-buku referensi, saya mungkin bisa menyanggah apapun yang dikatakan Irena tentang iman Katolik. Itu bukan karena saya pintar, tetapi karena lawan saya yang terlalu janggal pemahamannya. Cocokmologi ilmunya, bukan Kristologi. Di sini, saya tidak akan menulis tentang urusan keilmuan, urgensinya kurang dan bicara esensi satu agama cenderung tidak pas di ranah publik yang memiliki keberagaman kepercayaan.

Jadi apa yang akan saya bicarakan di sini? Kredibilitas Irena Handono sebagai manusia, itu saja. Saya akan menulis dengan menggunakan istilah sangat umum, sehingga teman-teman non-Katolik bisa memahami tulisan ini.

DUA KEBOHONGAN BESAR

Pertama, Irena Handono mengaku mantan biarawati Katolik dari kelompok (ordo) biarawati Santa Ursula. Ada banyak ordo biarawati dengan berbagai macam fokus karya sosial. Walaupun beragam fokus karya sosial, pada umumnya seorang calon biarawati harus menjalani pendidikan awal 2-5 tahun di ordo apapun sebelum resmi disebut sebagai Suster (sebutan biarawati).

Setelah 2-5 tahun itu pun, sifatnya juga masih Suster sementara. Janji (atau kaul) sifatnya sementara dan harus diperbaharui per tahun (bila lamaran tahunan diterima). Mirip melamar kerja, bedanya setiap tahun harus mengulang melamar.

Irena Handono tidak lebih dari 2 tahun di biara Santa Ursula, jadi resmi kalau dia itu hanya ‘calon’, belum menjadi biarawati atau apapun. Istilah calon ini biasa disebut ‘aspiran’ atau bisa juga ‘postulan’ (dua kata dengan makna berbeda tapi keduanya bukan biarawati), katakanlah semacam orang yang nebeng hidup untuk mengenal tata cara hidup seorang biarawati. Numpang makan, belajar dikit, kerja dikit, kewajiban doa sedikit, intinya apapun dikit-dikit, karena statusnya sebatas hanya untuk mengenal.

Kedua, karena hanya 2 tahun bisa dibayangkan sejauh mana Irena Handono belajar tentang Teologi Katolik. Sedikit. Dari mana saya yakin?

Mudah saja. Dia mengaku seorang Kristolog. Di dalam Sekolah Tinggi Teologi manapun, Kristologi hanya dipelajari di semester akhir menjelang Skripsi. Mata kuliah itu paling menjadi momok bagi mahasiswa tingkat akhir. Mustahil seorang penebeng biara yang belum menjadi biarawati, belajar mata kuliah mahasiswa tingkat akhir. Seorang Suster hanya dikuliahkan setelah menjadi Suster resmi dan punya karya, jadi paling cepat kira-kira tahun ke-7 setelah masuk Biara. Itu paling cepat.

Dua tahun sebagai aspiran atau postulan (penebeng numpang hidup di Biara) belajar Kristologi? Ini barisan sakit hati yang delusional. Mustahil yang semustahil-mustahilnya. Dipaksa pun, otak tidak akan sampai karena perlu pendasaran awal sebelum masuk Kristologi. Perlu deretan mata kuliah lain sebelum mata kuliah Kristologi.

Mungkin yang dia pikir Kristologi itu semacam les pengisi waktu yang biasa diberikan kepada calon suster maupun calon pastor (biasa disebut frater) di masa-masa awal pendidikan sebagai penebeng hidup di biara. Les pengisi waktu ini biasanya tentang: apa dan bagaimana karya hidup biara, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, pengantar Kitab Suci, ya semacam itu-itu saja lah. Belum ada yang sampai tahap analitis dan logis. Bahasa kasarnya, pelajaran-pelajaran sepele dari pada nganggur karena toh sudah dikasih makan.

Sedikit informasi saja. Untuk menjadi Pastor Katolik, butuh minimal 8 tahun pendidikan (8-12 tahun tergantung Ordo). Di tahun ke-3 baru pendidikan formal, entah itu Filsafat murni dulu atau langsung Teologi, lagi-lagi tergantung Ordo-nya. Setelah lulus pun harus berkarya dulu, lalu ada kemungkinan pendidikan formal lagi. Pokoknya rata-rata ditahbiskan di tahun ke-10, kalau lamarannya diterima ya.

Untuk menjadi Suster (biarawati) Katolik butuh waktu yang lebih cepat. Biasanya 2-5 tahun, sudah mengucapkan janji sementara (kaul sementara) dan sudah dipanggil “Suster”. Setelah itu baru hidupnya akan diisi dengan karya sosial atau pendidikan formal, tergantung kebutuhan Ordo-nya dan kalau lamarannya diterima juga ya.

Irena Handono, di bawah 2 tahun. Dia belum berkarya, belum kaul sementara, belum menyelesaikan pendidikan formal, belum apapun selain les pengisi waktu di biara dan penugasan belajar pengantar filsafat. Hanya pengantar, semester satu. Ini seperti calon biarawati yang homesick saja lalu pikirannya kemana-mana.

Karier dakwahnya dimulai dengan kebohongan. Titel Kristolog itu gelar dari dia untuk dirinya. Gelar dagelan yang tidak akan dipandang mereka yang benar-benar belajar. Apakah sesuatu yang dimulai dengan kebohongan menjanjikan kebenaran di kemudian hari?

MELURUSKAN FAKTA HIDUP

Saya tidak menjustifikasi sosoknya, saya hanya meluruskan apa yang selama ini dia gembor-gemborkan dengan bangga. Irena Handono bukan Kristolog atau apapun semacamnya. Dia manusia non-gelar selain Doktor Delusional. Ilmunya hanya Cocokmologi yang kebetulan mendatangkan popularitas, jadi dilanjutkan sebagai karier.

Dia menjadi mualaf, saya turut bersyukur. Saya berharap hidayah yang didapatkannya dapat membuat dia menjadi lebih baik sebagai manusia. Agama apapun, tidak jadi soal. Menjadi manusia yang baik adalah pilihan. Manusia yang baik adalah yang bisa menghargai manusia yang lain dengan tidak berbohong, tidak menghancurkan karakter orang lain, tidak mem-fitsa-hats (baca: fitnah), tidak menjual agama, dan yang paling utama adalah kesadaran menghargai perbedaan antar manusia.

Keluarga besar kandung saya, separuh Muslim, separuh Katolik. Ketika berkumpul, tidak ada yang peduli menonjolkan agama, tidak ada yang mempermasalahkan siapa agama apa. Paling banter gosip tentang si Anu sifatnya begini atau karakternya begitu. Nah, itulah! Yang dilihat adalah sifat dan karakter, bukan agama. Karakter dan sifat seorang manusia menentukan kualitas manusia itu.

Menurut Suster Lucyana, rekan biarawati di biara yang sama, Irena hanya beberapa bulan di biara. Selama beberapa bulan kisah, ini kisahnya :

  • Betul bahwa Irena pernah hidup di biara Katolik, namun hanya sebagai “calon magang”.
  • Betul bahwa Irena ditugaskan belajar di tahun awal.
  • Salah bahwa dia belajar Kristologi. Ilmu yang didapat waktu itu hanya Pengantar Filsafat dan Sejarah Gereja.
  • Salah bahwa dia mengundurkan diri. Lamaran dia tidak diterima, maka dia dikeluarkan dari biara. Alasan tidak diterima, Irena memiliki beberapa penyakit termasuk asma. Penyakit itu membuat dia harus diperlakukan spesial, bahkan seprai kasurnya berbeda. Sulit untuk memberi status ‘spesial’ kepada calon biarawati muda ketika dia seharusnya berkarya. (Bayangkan saja Anda harus menerima karyawan baru yang belum apa-apa harus diperlakukan secara spesial)
  • Salah bahwa dia sudah resmi sebagai seorang Suster biarawati. Dia tidak sampai tahap kaul.
  • Salah bahwa dia berjiwa “biarawati”. Salah satu kaul adalah “kemiskinan”. Dia membawa motor pribadi dari orangtua dengan merk Suz*ki saat masuk biara. Seorang biarawati biasanya tidak diperbolehkan memiliki kendaraan atau rekening uang pribadi sebagai bentuk penghayatan kaul kemiskinan.
  • Betul bahwa dia bukan apa-apa, termasuk pengetahuannya tentang Teologi Katolik.

Sumber tentang kisah hidup Irena dari Suster Lucyana ada di sini > SUMBER

PENUTUP

Terima kasih sudah membaca. Semoga teman-teman Muslim, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu dan aliran kepercayaan Nusantara, bisa memahami tulisan sederhana ini sehingga bisa membayangkan bagaimana sosok Irena Handono di masa lampau. Kisah hidupnya tidak sedrama yang dibayangkan kok. Biasa saja. Tanpa Wow dan Sumpah mi’ Apa. Hanya biasa saja.

Sekarang mungkin sudah sedikit terlihat titik cerah mengapa di sidang Ahok kemarin, dia mengatakan kesaksian yang jauh dari fakta hingga membuatnya harus berurusan dengan pasal kesaksian palsu. Kisah hidupnya saja dikurangi banyak dan ditambah banyak sesukanya, apalagi hanya mengurangi dan menambah fakta kesaksian atas hidup orang lain di pengadilan, itu mah urusan gampang. Bukan hal yang sulit untuk seorang Irena Handono yang seumur hidup sudah berbohong tentang dirinya.

Klik foto saya di atas untuk tulisan otak rusa yang lainnya.

Share.

About Author

Manusia kepala rusa.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat menghubungi:

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage