Dugaan Korupsi Amien Rais Dipinggirkan oleh Hakim, Amien Rais Bebas?

Dugaan Korupsi Amien Rais Dipinggirkan oleh Hakim, Amien Rais Bebas?

18

Amien Rais dan Habib Rizieq (http://www.mwordnews.info/2017/06/)

Ketika nama Amien Rais disebut-sebut menerima aliran dana korupsi alat kesehatan (alkes) sebesar Rp 600 juta, pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) dan mantan ketua MPR RI ini marah besar. Semula ingin memberikan klarifikasi langsung kepada KPK. Tapi KPK menolak. Ini bisa dimaklumi, karena KPK dilarang bertemu dengan orang yang diduga atau yang terkait dengan kasus.

Utusan Amien yang terdiri atas anggota komisi I DPR RI Hanafi Rais, politisi PAN Dradjad Wibowo, Saleh Daulay, Zamhur dan Ansufri ID Sambo memang diterima KPK pada tanggal 5 Juni 2017. Namun, yang dibahas bukan melulu jawaban mengapa nama Amien disebut terkait dalam korupsi Alkes itu.KPK malahan menjelaskan proses persidangan kasus korupsi pengadaan alat kesehatan yang menjerat mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari. (Kompas.com)

Karena dinilai buntu, maka Amien pun langsung menghubungi banyak pihak untuk menyusun barisan perlawanan kepada KPK. Ia mengadakan konferensi pers untuk membantah berita itu. Ia bicara di mana-mana untuk membersihkan diri seraya mencitrakan orang-orang KPK tidak becus. Ia tampak bingung. Gelisah. Panik.

Melihat hal tersebut, para sahabat kentalnya, pengagumnya, pun langsung turun tangan. Diawali oleh Fahri Hamzah. Ia tidak percaya kalau Amien Rais terlibat korupsi. Itu hanya serangan politik, katanya. Bagi Fahri siapa saja yang menyerang Amien Rais, sama dengan menyerang dirinya.

Pernyataan senada ini juga dikemukakan oleh orang yang sealiran pemikiran dengan Amien Rais dan Fahri. Di antaranya, Din Syamsudin, Hidayat Nur Wahid, Zulkifli Hasan, Fadli Zon, Idrus Marham, dan Hanafi Rais, putra Amien Rais sendiri. Mereka semua senada mengatakan bahwa Amien Rais mustahil salah. Yang salah pastilah pihak lain, kata mereka.

Ada yang menyalahkan jaksa KPK, ada yang menyalahkan orang tertentu entah siapa yang intinya dinilai ,mau menjatuhkan Amien Rais sebagai tokoh politik, orang bersih, tegas membela kepentingan umat Islam dan kritis terhadap pemerintah.

Yang lebih ganas dari pandangan itu datang dari Zulkifli Hasan. Ia bilang penyebutan nama Amien Rais di sidang Siti Fadilah merupakan orderan orang tertentu. “Saya tahu persis, pasti ini orderanlah. Jangan begitu dong. KPK kan lembaga yang selama ini legitimasinya kuat, kan harus adil. Adil itu kan adil secara publik, dirasakan. Yang ngasih uang saja, Mas Tris (Soetrisno Bachir), enggak bilang kok,” katanya kepada juru warta.

Sayangnya, pernyataan Zulkifli itu tak ada bukti. Sama sekali dia tidak menyebut nama yang order tapi seolah-olah ada di depan matanya. Tentu saja kalau tidak hati-hati, kata-kata semacam itu dapat menyesatkan rakyat.

Apakah dengan pembelaan itu Amien tenang? Ternyata tidak. Dia malah mengambil kesempatan untuk menemui Habib Rizieq di Arab Saudi yang lagi tiarap karena dikejar-kejar kasus chatting porno dengan Firza Husein. Mereka bicara banyak hal terkait politik di Tanah Air. Juga menyinggung soal penegakan hukum yang dinilai tebang pilih dan mengincar orang-orang yang tak sejalan dengan pemerintah, serta adanya upaya mengkriminalisasi orang-orang tersebut (Merdeka.com).

Amien terus keliling mencari dukungan seraya mengatakan bahwa KPK sudah tak benar. Busuk! Sampai-sampai ia meminta DPR mengambil tindakan konstitusional kepada KPK apabila ternyata busuk.

Hukum Akan Bicara

Belum selesai kepanikan Amien Rais, secara tiba-tiba, majelis hakim berkata lain. Dalam perkara korupsi mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari tersebut, majelis hakim menyatakan, uang Rp 600 juta ke mantan Ketua Umum PAN, Amien Rais, tidak terkait pengadaan alat kesehatan (alkes) buffer stock anggaran Kementerian Kesehatan 2005.

“Menimbang bahwa mengenai uang yang ditransfer kepada Sutrisno Bachir dan Amien Rais tersebut tidak dapat dipastikan uang tersebut berasal dari proyek alkes atau bukan, maka majelis hakim tidak mempertimbangan lebih lanjut karena tidak relevan dengan perkara terdakwa Siti Fadilah Supari,” kata hakim Diah Siti Basariah dalam sidang pembacaan vonis di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jumat.

Dalam perkara itu Siti Fadilah Supari divonis empat tahun penjara. Terdakwa juga dikenakan denda Rp 200 juta dengan subsider 2 bulan kurungan. “Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi sesuai dengan dakwaan kesatu alternatif keempat dan kedua alternatif ketiga,” ujar ketua majelis hakim, Ibnu Basuki, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat, 16 Juni 2017.

Majelis hakim juga menjatuhkan pidana uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 1,9 miliar. Namun Siti telah mengembalikan Rp 1,35 miliar sehingga tersisa Rp 550 juta. Ibnu menuturkan, apabila dalam waktu sebulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap Siti tidak dapat membayar Rp 550 juta, negara berhak menyita aset-aset terdakwa untuk dilelang. Namun jika tetap belum bisa menutupi pembayaran uang pengganti, terdakwa dijatuhkan hukuman tambahan selama 6 bulan kurungan. (Tempo.co, 16/07/2017)

Putusan tersebut tentu saja menggembirakan hati Amien Rais. Pernyataan Hakim Diah Siti Basariah tersebut bak segelas air ketika bagi seorang pejalan kaki di gurun pasir. Pasti melegakan hati, menambah harapan hidup.

Namun, apa benar demikian? Sampai saat ini Amien Rais belum memberikan respons. Apakah diterima atau ditolak? Jika menerima, apakah masalah aliran dana ke rekening Amien Rais dengan sendirinya selesai? Apakah ia akan mencabut pernyataannya yang memberi predikat busuk kepada KPK?

Amien Rais tampak masih malu-malu. Dalam hati tentu saja ia senang. Untuk sementara ia tidak diuber-uber. Jika sampai tulisan ini dibuat beliau belum memberi respons, tentu bukan pertanda ia ogah. Mungkin beliau tengah mencari waktu yang pas untuk mengadakan konferensi pers. Atau mungkin tengah menyusun pernyataan manis dengan kalimat-kalimat memukau untuk memuji KPK seraya berhadap agar aliran dana tersebut tidak diperiksa lebih lanjut.

Pertanyaannya, apakah pernyataan hakim sudah final? Apakah suatu pernyataan bisa mengalahkan ketentuan hukum? Tentu tidak, bukan? Hal ini terjelaskan dari pernyataan JPU KPK, Ali Fikri, yang mengatakan bahwa soal uang yang mengalir ke Amien Rais dan Yayasan Soetrisno Bachir Foundation, masih dapat didalami di luar perkara Siti Fadilah Supari.

Itu artinya, Amien Rais boleh menari-nari untuk sementara. Boleh saja teriak-teriak menyangkal terlibat atau menyatakan diri bersih. Para pengagumnya juga boleh menuduh siapa saja sebagai pihak yang mengriminalisasi atau membunuh karakter Amien. Itu hak mereka.

Amien Rais sendiri boleh menggandeng Habib Rizieq, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Din Syamsudin, Zulkifli Hasan, Bachtiar Nasir, Munarman, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, dan kawan-kawannya yang lain untuk membuat “pagar besi” dari betis meereka mengelilingi Amien agar tidak disentuh oleh KPK. Namun, kalau pemeriksaan dan pembuktian berdasarkan ketentuan hukum kelak menyatakan bahwa Amien Rais terlibat korupsi, walaupun di luar alkes, tentu saja hotel prodeo selalu sabar menunggu kedatangan Amien Rais. Begitulah kura-kura!

Salam Seword

Tulisan saya yang lain:

Bengkoknya Logika DPR

Share.

About Author

Warga negara Republik Indonesia yang terus berusaha belajar untuk bisa memaknai hidup dengan berbagi ide kepada publik.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage