Ekonomi 212: Sebuah Skeptisisme

Ekonomi 212: Sebuah Skeptisisme

15

Beberap saat yang lalu, dan juga sempat beberapa kali, saya menerima broadcast Whatsapp INFO UNTUK UMAT ISLAM, yang berisi  hasil musyawarah alumni 212 dalam pembentukan Koperasi Syariah 212. Susunan perumus yang terdiri atas 50 orang, termasuk di dalamnya sebagai dewan pengawas yaitu HRS dan BN. Perlu diketahui, status BN sedang dipertanyakan terkait dengan isu penggelontoran dana pada kelompok pemberontak Suriah.

Ada beberapa yang perlu juga dipertanyakan berkaitan dengan pembentukan Koperasi itu sendiri, misalkan mengenai dasar atau latar belakang pendirian koperasi tersebut. Terkait dengan kata Alumni 212, maka pertanyaan yang muncul, apakah koperasi ini merupakan sebuah eksklusivitas yang mana para pendirinya dan anggotanya adalah mereka yang memiliki visi dan misi, pandangan, kesepahaman yang sama mengenai keadaan Indonesia hari ini?

Mengingat kembali, 212 adalah sebuah gerakan yang mengikuti dua aksi sebelumnya, yaitu 14 Oktober 2016 dan 4 November 2016, atau dikenal dengan 411. Gerakan-gerakan ini mengusung agenda penuntutan atas penangkapan Basuki Tjahaja Purnama/Ahok yang ditengarai sebagai tersangka penista agama berkenaan dengan pernyataan beliau di dalam diskusi dengan warga kepulauan seribu. Detail permasalahan tersebut dapat dilihat pada link: https://seword.com/politik/mengiringi-sidang-ahok/

Eksklusivitas serupa itu tentu membutuhkan visi misi yang baru ketika hendak membuat sebuah bentuk organisasi ekonomi, agar tidak rancu antara tujuan pembangunan ekonomi masyarakat dengan tujuan hukum/politik untuk memidanakan seseorang. Bilamana dilihat dari visi dan misinya, tidak tercantum jelas, kecuali untuk tujuan mengembangkan berbagai unit usaha seperti supermarket, hotel, travel, bahkan penerbangan. Ditambah pula sebuah jargon bombastis, “Insya Allah Indonesia akan terbeli kembali“. Maka, pertanyaan kembali muncul, Indonesia sudah terjual kah? Terjual kemana dan berapa harga sebuah negara bernama Indonesia?

Indonesia selalu akan berdiri sebagai Indonesia. Sejak dua tahun belakangan, ibu pertiwi sudah mulai bangkit berdiri, menggeliat dalam pembangunan-pembangunan yang berkesinambungan, meski pernah mangkrak dan menghabiskan banyak uang. Jangan suka mendramatisir keadaan tanpa bukti yang valid, karena itu sama saja memprovokasi kericuhan dan kekhawatiran, sementara yang diperlukan dalam pembangunan adalah optimisme dan kerjasama.

Selanjutnya, di dalam satu halaman broadcast yang sama, disebutkan pula rencana pendirian MUSLIM212MART, yang disingkat M212M. Konsep yang ditawarkan juga membangkitkan hasrat untuk angkat telunjuk, dan bertanya. Bagaimana sebuah pembangunan minimart akan menumbangkan pasar yang dibangun kapitalis, sementara pasar ini juga masih berorientasi pada laba atau keuntungan? Konsepnya adalah, modal dari umat, yang belanja adalah umat dan orang lain, laba untuk umat.

Pertanyaan berikutnya, pahamkah anda sekalian tentang kapitalisme? Pengumpulan modal untuk kemudian mendapatkan keuntungan dari perdagangan. Lalu apa bedanya? Lantas, kalau memang ingin memutus rantai perdagangan yang disebut sebagai kapitalis itu, di mana kah anda akan membeli barang-barang, sementara barang-barang tersebut diproduksi dengan biaya yang minim karena industrialisasi dan dapat dijual dengan keuntungan maksimal, tentunya. Kalau baru akan berpikir untuk memproduksi barang sendiri, mengepak dan mendistribusikan secara manual, tanpa kalkulasi yang matang, niscaya, banyak kesulitan yang akan dihadapi.

Pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan masyarakat yang mandiri adalah cita-cita yang tulus dan sangat patut didukung. Dan sebenarnya, itu pula cita-cita yang diinginkan oleh seluruh pendiri bangsa dan para pahlawan yang telah mengorbankan diri untuk kemerdekaan Indonesia. Tetapi, tentu saja semua cita-cita harus memiliki langkah-langkah yang applicable dan rinci, agar setiap langkah tersebut dapat semakin mendekati perwujudan dalam kenyataan, bukan hanya angan-angan belaka.

Pembentukan dua institusi ekonomi, yaitu koperasi dan mart, harus didasari dengan falsafah ekonomi yang mendukung ekonomi kerakyatan dan kebersamaan. Jangan hanya berbasis pada eksklusivisme di tengah masyarakat majemuk. Jangan pula memulai sebuah niatan baik dengan gerakan yang kurang baik, seperti mengkudeta, melarang, mendiskriminasi unit perdagangan lain. Setiap rezeki akan sampai pada setiap umat tanpa harus diarah-arahkan, sehingga upaya-upaya yang tidak perlu dan bahkan cenderung menistakan seyogyanya tidak dilakukan.

Yang terakhir, tentu saja kembali pada pertanyaan tentang permodalan dan izin usaha atau legalitas. Apakah institusi yang didirikan ini telah mendapat legalitas dari pemerintah, betapapun tampaknya mereka yang terlibat merupakan pihak oposisi pemerintah? Apakah permodalan yang kiranya nanti akan dikumpulkan dari rakyat, walaupun secara sukarela telah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang biasanya akan menjamin keberadaan dana masyarakat? Bagaimana sistem pelaporan dan transparansi keuangan akan dilakukan kepada para pemegang saham maupun masyarakat, walaupun ada yang tidak menanamkan modal?

Permodalan dan keuangan adalah suatu divisi yang rentan tindak pidana pencucian uang dan penipuan. Tidak jarang ditemukan kelompok-kelompok berbasis agama yang mengumpulkan dana dari masyarakat, namun hanya memperkaya petinggi-petinggi agamanya. Sehingga kemudian malah menimbulkan cekcok antara petinggi agama dan para pengikutnya, yang terpaksa melibatkan negara dalam penyelesaian masalah tersebut.

Disebutkan di dalam broadcast bahwa terdapat berbagai tingkatan simpanan di dalam koperasi, mulai simpanan pokok sebesar Rp.212.000, sampai modal awal sebesar Rp. 21.200.000. Kurang dijelaskan apakah simpanan dan modal ini per orang atau tidak, sekali saja atau berkali-kali. Penyertaan modal mart juga terentang antara Rp.50 ribu sampai Rp. 15 juta, yang juga tidak disebutkan apakah ini per orang atau tidak. Bilamana memang seluruh Alumni 212 yang menurut perkiraan mencapai sekian juta orang, maka maksimal yang akan terkumpul hanya untuk satu juta peserta dengan modal Rp. 15 juta adalah 15 trilyun rupiah.

Transparansi akan menjadi suatu hal yang hakiki bila menyangkut dana masyarakat, agar tidak menimbulkan prasangka-prasangka buruk, betapapun para pengikut dan pendonasi dengan sukarela menyumbangkan hartanya. Dana Rp. 15 T adalah jumlah uang yang tidak sedikit, dan akan sulit pertanggungjawabannya bila tidak menyertakan audit dan pelaporan berkala. Jangan sampai pelaporan hanya dilakukan sekali-sekali, dan tidak terperinci, namun dengan bangga menyebutkan jumlah yang luar biasa, seperti yang terjadi pada percakapan Ni Luh Djelantik dan JRG (bukan Jahe, Royal Jelly, Ginseng loh yaa. -red) yang dapat dilihat kembali pada link: https://seword.com/politik/analisis-pernyataan-jonru-dalam-percakapan-via-telepon-dengan-ni-luh-djelantik/. Banyak masyarakat yang akan bertanya, apakah dana tersebut dipergunakan dengan benar, apakah tidak ada penyelewengan dana untuk kepentingan pribadi, dan lain-lain.

Sebagai masyarakat yang juga Muslim, saya pribadi cukup kagum dengan semangat kebersamaan untuk membuat sistem perekonomian sendiri yang sesuai dengan syariat Islam. Namun, saya masih harus memperhatikan banyak aspek yang telah dipertanyakan di atas tadi. Skeptisisme bukan berarti tidak mendukung dan tidak percaya, tetapi hanya sebuah sikap untuk tidak langsung terjun bergumul pada sesuatu yang tidak saya ketahui.

 

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Donasi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage