Enak Banget Lu Hok !

Enak Banget Lu Hok !

14

Pemilukada DKI Jakarta akhirnya selesai dengan hasil 58% masuk surga dan 42% harus bertobat, begitulah sepenggal bunyi toak yang terdengar di salah satu sudut Jakarta. Temanku yang seorang muslim sampai terheran-heran dan berkata ” sudah menang pun masih begini, parah ya mas”. Aku hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa.

Miris memang tapi warga Jakarta sudah memilih pemimpinnya, dan persentase kemenangannya cukup besar yaitu 16%. Banyak spekulasi mengatakan bahwa Ahok sengaja dikalahkan agar para penggerak radikalisme yang marak belakangan ini dengan aksi-aksi bernomor cantik laksana nomor togel mengalami orgasme secara politik, dan Indonesia terhindar dari chaos yang mana akan dapat memperkeruh keadaan baik secara politik maupun ekonomi, serta para dalang-dalang politik kekuasaan yang selama ini mensupport aksi-aksi tersebut kebingungan karena alasan untuk menggoyah dan mengganggu kinerja Pak Dhe Jokowi semakin kecil.

Anies-Sandi sudah mengucapkan bahwa dalam kepimpinannya kelak tidak akan ada yang mampu mendikte yang merupakan suatu pernyataan yang menyejukkan seperti biasanya. Anies bahkan sudah berkunjung ke Balai Kota sehari setelah dinyatakan menang oleh hasil quick count di beberapa media, yang mana menurutku terlalu cepat dan cenderung terkesan menyindir secara tidak langsung.

Tapi itu tidak jadi masalah, karena masalah sebenarnya adalah sisa masa jabatan Basuki-Djarot yang masih tersisa 6 bulan lagi sampai dengan Oktober 2017 harus mampu dimaksimalkan.

Mereka harus mampu memperbaiki segala kelemahan sistem yang ada serta rencana kerja yang belum terealisasi guna menetapkan standard kualitas serta kuantitas pemimpin Jakarta selanjutnya terlepas standard itu mampu atau tidak di penuhi oleh sang pemenang.

Enak aja lu Hok, masih bisa cengar-cengir. Elu yang bertanding gw yang kalah, nyesek banget lagi. Sampai lupa gw bukan warga berktp Jakarta. Emang bener Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil, tapi ekspresi wajahmu setelah kalah serta ekspresi wajah dan gestur tubuhmu saat dikunjungi Anies menimbulkan kesan yang penuh tanda tanya. Seolah tersirat pesan kalah 1 hari tertawa 5 tahun.

Banyak pendukungmu yang mengucapkan selamat kepada Anies-Sandi namun langsung mengingatkan semua janji kampanyenya. Aku juga mungkin dalam beberapa waktu kedepan akan mencoba untuk berpindah domisili menjadi warga Jakarta mumpung masih gratisnya beneran. Mau bikin ormas, nikah terus banyakin anak kalau bisa setim sepakbola beserta cadanganya biar dibikinin stadion sekelas Old Trafford, buka usaha, kredit rumah dp 0, jadi ketua RW. Jangan tertawa, ini serius aku orangnya optimis.Biar tahu, masih rencana saja sudah banyak teman dan sanak keluargaku yang menitip rumah tanpa Dp. Kalau ada elu mereka tidak bakalan berani nitip, takut dibalas “titipan nenek lu”.

Ternyata ada hikmah Pak Ahok kalah, bisa sejahtera masyarakat Jakarta tanpa harus bersusah payah cukup bernafas saja. Bapak hanya akan menjadi sejarah masa lalu. Ibarat mantan kekasih, harus bisa move on saatnya aku berubah arah, jika Bapak tidak ingin rencanaku menjadi nyata dan segala peninggalanmu hanya akan menjadi cerita maka bertarunglah dengan waktu tersisa untuk menetapkan segala sesuatu yang terbaik untuk Jakarta walaupun ada kajian tentang pemindahan Ibukota. Jagalah nasib setiap laskar-laskar pelangi yang telah terbentuk yang mana telah bekerja berpeluh bahkan bertaruh nyawa bersamamu dalam menjaga kenyamanan warga Jakarta.

Jagalah nasib pembangunan Jakarta agar tidak ada CSR-CSR yang ternyata ditenderkan juga dalam APBD DKI Jakarta. Jagalah agar tidak ada warga yang membangun dipinggiran kali-kali yang telah kau gusur. Jagalah nasib setiap penumpang transportasi umum terutama pengguna bus Transjakarta agar tidak ada bus yang sembarangan dibeli. Jagalah parkiran diseluruh Jakarta agar tidak ada pertarungan warga atau ormas yang memperebutkan lahan parkir seperti dahulu kala. Jagalah agar setiap siswa dan siswi yang merupakan generasi bangsa ini dapat dididik dengan baik. Jagalah Jakarta untuk masa yang tersisa agar penggantimu kelak dapat memikirkan hal lain yang indah-indah saja, sehingga Jakarta tetap menjadi barometer Nasional. Karena apapun cerita di hari depan, baik pindah ibukota maupun tidak, DKI Jakarta tetap menjadi sebuah Provinsi terpadat di Indonesia yang menjadi lahan rezeki serta tempat tinggal bagi banyak orang.

Share.

About Author

pangeran kodok

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage