Gawat! Kita Kecolongan Lagi dari Negeri Kecil Sebelah

Gawat! Kita Kecolongan Lagi dari Negeri Kecil Sebelah

23

Ada yang terlewatkan memang. Gegap gempita gegar politik di dalam negeri, membuat kita kadang lalai dengan kabar-kabar luar negeri. Mungkin, para ngintelektual hubungan internasional yang setia mantengin kabar-kabar itu sesuai dengan wilayah studinya.

Ini kabar dari negeri sebelah. Di negeri itu, yang makmurnya minta ampun itu, meski wilayahnya ibarat selebar daun mahoni, ada kabar buruk bagi kita. Kabar apa rupanya? Kabar tentang sebuah “Kebakaran Hutan.” Kebakaran hutan selama beberapa tahun terakhir ini membuat hubungan kita dengan negara-negara di sebelah utara, adem-panas.

Kita memang selalu kesulitan soal kebakaran hutan ini. Pelbagai pihak berebut kepentingan untuk mengeruk keuntungan. Ujung-ujungnya, alam itulah yang jadi korban. Sejak dari dulu, kasus kebakaran hampir mustahil ditemukan pelakunya. Apalagi kebakaran hutan, jauh lebih sulit.

Tapi sejak kepemimpinan Jokowi ini, kita tahu, pengerahan untuk memburu para pembakar hutan yang seenak dengkulnya tidak memikirkan dampak buruk ini, ditangkap. Beberapa orang ditangkap dan yang lain terus diburu. Pemerintah juga makin tegas tentang ijin pembukaan perkebunan sawit.

Asap dari kebakaran hutan tidak hanya merugikan masyarakat awam. Asap yang tanpa passport dan tanpa pas foto terbaru itu, juga memantik agar perkembangan ilmu pengetahuan bidang pesawat nir-awak terus dicanggihkan guna memantau kondisi hutan kita yang luasnya minta ampun.

Tapi tentang “Kebakaran Hutan” kabar terbaru ini bukan tentang kebakaran hutan kemarin-kemarin itu tapi tentang “Kebakaran Hutan” pada tahun 1850. Ini tentang Boschbrand, sebuah lukisan agung yang dibuat oleh pelukis ulung. Boschbrand atau “Kebakaran Hutan” digambar oleh Kang Mas Raden Saleh, dan dihadiahkan untuk Si Willem III dalam kapasitasnya sebagai Raja Belanda.

Raden Saleh sendiri banyak yang menganggapnya di Nusantara sebagai Bapak Senirupa Nasional. Salah satu lukisannya tentang penangkapan Pangeran Diponegoro, dilukiskan dengan amat sangat elok, bagaimana liciknya Jenderal De Kock. Lukisan-lukisan Kang Mas Raden Saleh yang dari zaman kolonial itu, tidak hanya luapan ekspresi, namun juga catatan sejarah bangsa kita.

Lukisan “Kebakaran Hutan” itu bertahun-tahun digulung dan disimpan di istana Het Loo tanpa dipamerkan. Publik Belanda tiba-tiba terkejut saat mendengar kabar penjualan lukisan agung tersebut setelah direstorasi. Lukisan “Kebakaran Hutan” itu dijual kepada penawar tertinggi dan pembelinya adalah negeri kecil di sebelah itu.

Jadi besok kalau punya duit dan kepingin melihat eloknya “Kebakaran Hutan” versi Kang Mas Raden Saleh, silakan ke negeri kecil sebelah itu.

Opini dari Lizzy van Leeuwen yang dimuat harian NRC Handelsblad, edisi 13 Oktober 2016 lalu, menjabarkan tentang persoalan ini. Ia sendiri mempertanyakan penjualan tersebut “apakah sudah dipertimbangkan munculnya friksi dalam hubungan negara besar Indonesia dengan tetangga kecilnya itu?” Opini itu dapat diakses terjemahannya di situs historia.id.

Selain itu, Lizzy juga mempertanyakan, betapa ironinya sebuah lukisan berjudul “Kebakaran Hutan”, dan hubungan kita dengan dia yang kecil itu, acap kali tegang soal asap kebakaran dari hutan kita. Si Lizzy itu juga mempertanyakan, siapa sebenarnya yang berhak untuk memperoleh hasil dana penjualan lukisan agung itu?

 

Lizzy sendiri merasa sedih, jika rupanya hubungan antara Belanda dan Indonesia sebagai bekas koloni itu, tentang masa kolonialnya hanya berkutat soal uang. Entah itu wisata masa lalu, barang seni dari negeri kita yang dilap bersih, atau daur ulang kekerasan zaman kolonial yang dipertontonkan. Seakan kita adalah negeri yang terus dijadikan sebagai sumber pengerukan kekayaan Belanda. Selamanya, dari dahulu, kini, mungkin juga esok.

Keintiman sejarah antara kita dan Belanda seakan dikesampingkan dengan pelepasan lukisan “Kebakaran Hutan” ke negeri kecil di sebelah. Nantinya, kita juga tepekur, atau bisa saja tersedu penuh sendu dengan tatapan pilu, saat mampu menatap harimau Sumatera yang gagah sedang kalut di dalam lukisan Kang Mas Raden Saleh.

Sebuah asap yang mengepul, binatang yang cemas dan penuh gelisah, dan api yang merambat memerah dibelakangnya, memperlihatkan sebuah lanskap keributan yang mencekam. Ada kekhawatiran di sana, dilukisan itu. Juga kecemasan, dan ketakutan para binatang saat kebakaran terjadi. Dan sialnya, keelokan lukisan itu dimiliki negeri sebelah, negeri kecil itu.

Share.

About Author

Orang Kampungan

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage