Greget! Penyidik KPK Akan Pegang Senjata, Koruptor Kejang! Tembak di Tempat?

Greget! Penyidik KPK Akan Pegang Senjata, Koruptor Kejang! Tembak di Tempat?

13

Ketua KPK Agus Rhardjo mengatakan bahwa mereka tengah mengurus izin penggunaan senjata api bagi tim penyidik dan jaksa KPK. Izin memegang senjata api menjadi salah satu cara mengantisipasi teror yang terjadi pada penyidik oleh orang-orang yang tidak suka.

Kita tahu dan sadar betul bahwa orang-orang yang dihadapi para penyidik KPK bukan orang sembarangan. Orang-orang yang dihadapi KPK adalah sekelompok bajingan-bajingan berduit yang memiliki kekuatan juga. Mereka juga tidak mustahil memiliki akses kepada tentara dan polisi gadungan. Mereka terkadang juga memiliki senjata.

Langkah-langkah pengamanan bagi para penyidik tentu merupakan faktor penting yang harus dipikirkan untuk ke depannya. Kasus Novel Baswedan menjadi salah satu kasus yang harusnya menjadi perhatian dan refleksi internal di tubuh KPK. Seperti yang diketahui, sampai saat ini penyidik Novel Baswedan menggunakan kendaraan motor sebagai kendaraan operasionalnya. Hal ini tentu tidak menjadi sebuah citra baik bagi para pemberantas koruptor.

Para penyidik dan jaksa yang bekerja di KPK memiliki tingkat resiko yang cukup tinggi, apalagi berbicara mengenai keselamatan mereka. Mereka yang tidak disukai oleh para koruptor kelas kakap, tentu akan menjadi incaran empuk, apalagi hanya menggunakan motor. Bukan hanya kasus penyiraman Novel Baswedan, ia pun pernah ditabrak sebuah mobil. Entah kecelakaan tidak disengaj atau bukan, yang pasti kendaraan motor agaknya berbahaya bagi para penegak hukum di KPK.

Maka pengurusan izin senjata api ini dilakukan oleh pihak KPK, karena kasus Novel yang matanya sampai sekarang masih bermasalah terkena air keras. Sebelumnya wakil ketua KPK Alex Marwata mengatakan bahwa pimpinan KPK sempat menawarkan kepada para penyidik dan jaksa KPK untuk dipersenjatai dengan senjata api. Namun tidak semua penyidik dan jaksa bersedia untuk membawa senjata api.

Senjata api merupakan salah satu alat bela diri, yang juga bisa digunakan untuk menghabisi nyawa orang. Perlu pelatihan khusus dan surat izin memegang senjata. Senjata api bukan mainan seperti baton dan tongkat untuk memukul. Daya luka yang disebabkan senjata api sangat tinggi, kemungkinan orang tidak selamat. Melihat dari para petugas BNN yang dipersenjatai, tidak sedikit pelaku pengedar yang coba-coba kabur, nyawanya habis terkena senjata api yang ada.

Namun memang senjata rasanya menjadi salah satu solusi untuk alat bela diri. Kasus penyiraman air keras menjadi pelajaran pahit yang sangat berharga bagi KPK. KPK harus membenahi internal mereka, baik dari fasilitas, sarana, perlindungan dan berbagai macam sarana untuk menjadikan iklim pekerjaan penyidik KPK baik.

Bukan hanya senjata, konsep mengenai panic button juga disuarakan oleh Alex Marwata. Panic button bukan harfiah mengenai tombol merah yang ditekan dan mendatangkan Superman. Konsep ini merupakan salah satu bentuk komunikasi instan yang mempermudah para penyidik jika menemukan kasus-kasus maupun terjebak di dalam keadaan yang paling  mencekam.

Tentu kita berharap dengan wacana fasilitas bagi para penyidik KPK ini, membuat para pelaku korupsi kejang hebat. Para koruptor yang tidak sedikit adalah para elit politik bajingan, tentu akan mendapatkan persaingan yang ketat dari aparat penegak hukum. Ini menjadi titik terang yang semakin jelas, bagaimana pemerintah dan KPK bekerja sama untuk menghabisi para koruptor.

Mungkin saja suatu saat kebijakan pemerintah akan seperti negara Cina yang katanya menindak para koruptor dengan hukuman mati. Namun rasanya kurang seru jika koruptor ditembak di tempat. Toh ada ulama Islam garis keras yang mengatakan bahwa sekorup apapun, asal Islam, dia bisa masuk sorga.

sejelek-jeleknya pemimpin umat Islam, dia tetap masuk surga, sebaik-baik Ahok, tetap neraka kok, betulkan? Sehebat-hebat rencana Ahok membangun Jakarta, kalo meninggal tetap neraka kok, kenapa dipilih ahli neraka? Sejelek-jeleknya orang Islam kalaupun dia korupsi masuk penjara tetap sorga kok, dia beriman kepada Allah, betul?“

Maka salah satu cara menghantam otak para koruptor yang berbalut agama, harus dikerjakan dengan cara yang sangat strategis. Ketimbang langsung dihukum mati, sebaiknya pihak KPK bisa memiskinkan para koruptor. Tentu dengan memiskinkan mereka, mereka akan stress, seperti Khaththath, dari Kempinski menuju Mako Brimob. Memiskinkan Khaththath membuat dia sekarang masuk rumah sakit karena darah tinggi. Mungkin tidak siap mendapatkan tekanan di Mako Brimob.

Betul kan yang saya katakan?

Jika pembaca ingin melihat dan menikmati buah pemikiran saya yang lainnya, silakan klik link berikut: https://seword.com/author/hans-sebastian/

http://kpk.go.id/id/nukpk/id/berita/berita-sub/547-vonis-mati-bagi-koruptor-layak-diterapka

https://news.detik.com/berita/d-3506534/kpk-urus-izin-pegang-senjata-bagi-penyidik-dan-jaksa

Share.

About Author

Si awam yang mau berpikir sampai ke awan. Twitter dan Instagram @hysebastian Terbuka untuk diskusi via disqus maupun e-mail. hysebastian.seword@gmail.com. Kumpulan tulisan: https://seword.com/author/hans-sebastian/

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage