Jenderal Tito Penjarakan Alfian Tanjung, Pemfitnah Isu PKI itu Tamat

Jenderal Tito Penjarakan Alfian Tanjung, Pemfitnah Isu PKI itu Tamat

219

Alfian Tanjung bebas. Publik terkejut. Jaksa seakan terkejut, maju banding – seperti “terkejut pura” pada kasus Ahok. Maka tak ada cara lain selain menangkap lagi penghina dan penyebar fitnah tentang Istana dan PKI ini. Dengan tegas Jenderal Tito menangkap kembali Alfian Tanjung dan ditahan di Mako Brimob.

Kenapa Jenderal Tito Karnavian bertindak tegas terkait manusia pembuat fitnah sok suci dan tukang mengafirkan orang lain secara serampangan yang bernama Alfian Tanjung? Karena dia kaki tangan kelompok lebih besar yang merongrong negara dengan fitnah kejinya.

Penyebab Kekurangajaran

Alfian Tanjung memang kurang ajar. Apa penyebabnya? Selain dia adalah bagian dari kaki tangan mafia di segala bidang dengan alat Islam radikal. Dia adalah perpetrator  alias biang keladi omongan kejahatan yang layak disingkirkan dari anak-anak, remaja, dan manusia normal di NKRI.

Manusia ini wujudnya indah menawan, dengan tabiat lambang kebenaran mutlak bermulut busuk, dengan jenggot indah menghiasi muka yang sungguh maha tampan. Namun sifatnya busuk tiada tanding tiada banding: memfitnah. Al fitnatu ashaddu minal qatli, alias fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Itu kelakuan busuk manusia bernama Alfian Tanjung.

Selain itu, melalui pemetaan, dia dan kelompoknya memahami kekuatan Jokowi. Mereka menghitung kekuatan dengan sangat sempurna. Mereka menguliti diri dan lawan dengan sangat lihai. Mereka sangat paham kekuatan orang baik dan baru yang tidak punya hutang ini benar-benar baru dengan hampir kosong hutang kepada kekuatan hitam mafia peradilan: Jokowi.

Mereka dengan sempurna memetakan kekuatan yang 70% keputusan hukum terkait dengan intervensi mafia hukum. Kekuatan jaringan mereka begitu mighty, begitu perkasa, begitu maha, begitu menggurita dari hilir ke hulu. Tak ada kekuatan yang sedemikian itu.

Dengan pemahaman itu, maka dia bersikap seolah menjadi bagian dari “The Untouchable”, yang tak tersentuh. Dia lantas membandingkan diri dengan manusia terkuat di Indonesia, Setya Novanto – yang disebut oleh Trump. Merasa besar hingga bebas ngomong ngawur dan merasa dilindungi mafia hitam.

Bayangan kekuatan dalam benaknya menjadi semakin besar – meski sebagian ilusi. Dia merasa seluruh kekuatan hitam ada di pihaknya. Bukti pembebasan di Surabaya semakin menguatkan keyakinannya akan bebas.

Geng Islam Radikal dan Oligarki Ekonomi-Politik

Kekuatan hitam sebagian besar mengelompok ke kekuatan Bumi Datar, dsb itu. Hanya sedikit irisan kekuatan putih itu di kedua kubu: oposisi dan pemerintah. Karena sebagian besar hampir 90 persen kekuatan itu masuk ke kekuatan kubu Bumi Datar. Yang bermain pada akhirnya adalah uang, koneksi, kekuasaan yang nota bene orangnya ya itu-itu saja. Tak berubah sama sekali.

Tanaman pengaruh selama 40 tahun sejak zaman eyang saya Presiden Soeharto sampai saat ini telah membuat mereka begitu pede membuat Saracen, Obor Rakyat, dan pemelintiran seluruh berita baik Jokowi misalnya. Penyebabnya adalah oligarki kekuatan ekonomi yang dijadikan alat untuk menjadi kekuatan politik dan ekonomi.

Kekuatan ekonomi hitam yang berkolaborasi dengan politikus semprul itu begitu masif. Maka ketika kepentingan mereka terusik, gerakan melawan Jokowi menjadi tak terelakkan. Mereka pun melakukan segala cara perlawanan, dengan cara yang umum dan yang tak umum, konvensional politis-legal, atau pun dengan cara illegal dan merusak, termasuk hoax dan fitnah.

Contoh paling nyata aliansi Islam radikal dan oligarki ekonomi dan politik yang masih berkuasa adalah kasus Ahok.  Rancangan kejahatan kongkalikong, korupsi, KKN, ditangkal oleh Ahok dan DPRD DKI dikuliti oleh Ahok. Jelas kelompok kepentingan di politik dan mafia terganggu.

Kasus 15% retribusi reklamasi bernilai ratusan triliunan rupiah yang merugikan para mafia, dengan bukti ditangkapnya koruptor Gerindra Muhammad Sanusi, yang diusulkan  Ahok disetir sedemikian rupa untuk menjatuhkan Ahok. Kekuatan mereka berhasil menang dengan pemenjaraan Ahok dan pendudukan Anies oleh Islam radikal dukungan SBY dan Prabowo serta Jusuf Kalla – dalam wujud saling mendukung kekuatan FPI dan lain-lain.

Ini adalah kesempurnaan operasi besar mereka secara komprehensif. Semua terlibat dalam permainan untuk memenangkan perang melawan Jokowi – dengan Ahok sebagai “space goat” (orang yang disalahkan dan dibuang ke luar angkasa), juga  scape goat  (kambing hitam).

Cara paling efektif yang digunakan adalah dengan menyetir isu RAISA (Ras, Agama, Intoleransi, Suku, dan Antargolongan). Ini adalah marwah dan strategi yang digunakan oleh kelompok Prabowo dan SBY – yang saling ditunggangi dan menunggangi antara mereka dengan kaum Islam radikal seperti FPI, GNPF MUI, dan HTI, dalam hal dukungan terhadap Anies di Pilkada DKI Jakarta.

Selain itu isu PKI menjadi hal yang seksi digarap. Fobia mimpi anti PKI dijadikan alat menakut-nakuti rakyat dan memrovokasi mereka. Salah satu pentolan penyebar fobia PKI adalah yang disebut di dokumen Saracen, Kivlan Zen, yang jelas adalah pendukung Prabowo.

Dengan dua alat itu, maka seluruh strategi untuk melawan Jokowi menjadi sempurna. Alfian Tanjung adalah bagian dari manusia nekat yang memang disiapkan untuk melawan kebenaran dalam berbangsa dan bernegara. Dia secara sengaja menjadi aktor dan kaki tangan yang menghalalkan segala cara untuk memenangkan kelompok mereka.

Ketegasan Jenderal Tito Karnavian

Polri pun paham bahaya manusia Alfian Tanjung. Omongan menghalalkan pembunuhan terhadap Ahok, PKI dan sebagainya tidak boleh dibiarkan. Efek keburukan dan mudharat kelakuan tak senonoh, buruk, dan bejat dia adalah kehancuran bangsa dan negara.

Jenderal Tito Karnavian dan Jokowi dengan dukungan kekuatan Bumi bulat pun tak segan dengan tegas tak akan pernah membebaskan manusia busuk akhlak yang memfitnah sebagai alat untuk mencari makan buat anak dan istrinya ini. Dia akan menghuni penjara dengan tenang. Tak akan dibiarkan. Kenapa?

Kasusnya semata untuk dijadikan contoh  deterrence  bagi para geng manusia tak berguna bagi NKRI. Pun kasusnya adalah perang tanding antara kekuatan hitam Bumi Datar dengan kekuatan putih penuh kebenaran ilahiah dan duniawiah Bumi Bulat. Selain alasan dalam paragraf satu.

Selain itu, pemenjaraan kepada Alfian Tanjung adalah upaya untuk meredam isu kampanye panjang 2019 terkait Jokowi, China, Ahok dan PKI. Ini dihembuskan oleh warganet dan kaum Bumi datar, daster Arabia, Islam radikal, teroris, koruptor, mafia, dan politikus semprul. Isu PKI pun mulai dihancurkan oleh Jenderal Tito Karnavian dengan menangkap dan memenjarakannya. Demikian the Operators. Salam bahagia ala saya.

Share.

About Author

Wakil Presiden Penyair Indonesia, Philosopher penemu teori filsafat "I am the mother of words"

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage