Johannes Marliem, Novel dalam Intrik Politik pada Presiden Jokowi

Johannes Marliem, Novel dalam Intrik Politik pada Presiden Jokowi

28

Johannes Marliem tewas. Ketakutannya terbukti mengakhiri hidupnya. Kematiannya membayangi pengakuan Novel Baswedan yang menyeret nama Polri. Kematian itu lebih membuat posisi Presiden Jokowi bermanuver menghadapi polarisasi politik. Meski kita tahu selalu ada jalan keluar brilian dari Presiden Jokowi, the Maverick and Unpredictable. Pernyataan Novel terkait dengan Polri menjebak dua institusi sekaligus – mengadu domba institusinya dengan Polri.

Di tengah upaya pengungkapan kasus E-KTP, Novel diserang. Serangan ini menjelang Pilkada DKI. Nama Baswedan menjadi alat promosi penderitaan kampanye bagi simpati bagi Anies – yang tak ada hubungan kekerabatan hanya sama nama asli Yaman sana.

Namun, jika dicermati, selepas serangan itu, tampak perubahan sikap Novel. Novel justru memberi angin kepada media milik Chaerul Tanjung yang pro Prabowo. Juga kedekatan dengan Pemuda Muhammadiyah yang baru saja menjadi champion for supporting FPI movement.

Pernyataan Novel cenderung spekulatif dan tidak berdasar. Sementara KPK dan Kapolri pun tengah mencari jalan pengungkapan kasus. Maka Polri pun mengeluarkan sketsa foto pelaku penyiraman.

Kini, dua kejadian teriakan Novel yang disebut melibatkan Jenderal Polisi sungguh merupakan kejutan dugaan ngawur yang merugikan Polri. Sementara Polri kini tengah tegas menangani berbagai kasus Islam radikal dan intoleransi. Ada apa Novel tampak menyerang Polri dan tidak memberikan keterangan kepada KPK, malah ngomong ke Pemuda Muhammadiyah? Tak pelak kasus ini menjadi perhatian Presiden Jokowi.

Saksi Kunci E-KTP, Miryam dan Marliem

Johannes Marliem adalah saksi kunci kasus itu. Ia menjadi martir bagi para koruptor. Kematiannya adalah titik akhir pembungkaman. Selesai. Ia hanya menyisakan dokumen-dokumen yang FBI dan kepolisian AS berada dalam posisi memermainkan kepentingan mereka. Posisi kuncinya melebihi kehebatan bendahara dan kasir para koruptor E-KTP di DPR, yakni Miryam S. Haryani.

Kalau Miryam cuma diduga menjalani peran menerima suap E-KTP dan membagikannya ke mereka. Ia pun kini menjadi bumper bagi para koruptor. Menyadari kekuatan hebat di DPR dan mafia koruptor, Miryam pun ngeper dan mencabut BAP. Fakta tentang kekuatan itu pula yang menyelimuti tewasnya Marliem.

Pelintiran berita sedikit telah menimbulkan hantaman keras bagi keselamatannya. Benar. Tewaslah dia. Tamat. The game was over. Ia sudah menyatakan ketakutan akan ancaman keselamatan hidupnya. Dia memahami kekuatan para mafia yang mampu melakukan apa saja dan di mana saja.

Kasus misterius tewasnya Baharuddin Lopa di Mekah juga menjadi catatan. Orang yang terkait dengan sikap anti mafia dan koruptor akan disingkirkan secara permanen. Itu pula yang jelas ditakuti oleh Marliem.

Marliem tahu gerakan para koruptor dan mafia ini begitu luas, terorganisir, dan masif merasuk ke semua lini kehidupan dan lembaga. Mereka akan mengejar para orang anti korupsi ke mana pun. Perlawanan mereka adalah pertaruhan hidup dan mati secara politik, ekonomi, dan sosial. Maka tak ada cara lain selain membungkam. Dua saksi kunci salah satunya bungkam selamanya.

Bersekutu Novel dan Pemuda Muhammadiyah

Kasus lain yang panas malah mengadu domba antara KPK dengan Polri. Lucu dan ajaib. Namun kalau dicermati posisi Novel yang karib dengan ormas pendukung kaki tangan FPI si Anies, yakni Pemuda Muhammadiyah, menunjukkan benang merah unik.

Buat apa Novel berteriak-teriak dengan corong PM namun tak mau lapor langsung kepada Jenderal Polisi yang dituduh terlibat penyerangan? Pun Novel juga bekas anggota Polri – yang kasus kematian pencuri burung walet di Bengkulu terbengkalai – gagal menunjukkan orang yang dia curigai.

Posisi Novel yang unik di internal KPK dan Polri membuat posisi KPK menjadi simalakama. KPK pun berada dalam titik ancaman tertinggi. KPK tampak terbelah. Pimpinan KPK menyatakan mau bekerjasama dengan Polri.

Namun, Novel Baswedan gagal menjadi bagian dari KPK, justru menggandeng dan digandeng Pemuda Muhammadiyah, bukan penegak hukum. Pemuda Muhammadiyah pun alirannya berbeda dan kontroversial terhadap pemerintahan Presiden Jokowi dan NKRI belakangan ini.

Kolaborasi Muhammadiyah dan para simpatisannya dalam kasus Ahok dan aneka demo, dengan teriakan Dien Syamsuddin telah membuktikan betapa Muhammadiyah bergerak ke jalur yang lebih panas, mendekat dan bergabung dengan FPI, dan HTI, dalam politik praktis mendukung Anies-Sandi.

Kini Novel pun malah mengungkapkan omongan dan ocehan kepada Pemuda Muhammadiyah. Ini jelas menempatkan KPK dan Polri, yang akhirnya Presiden Jokowi,pada posisi unik dan tidak mengenakkan.

Koaran model Novel ini pun mendapatkan perhatian akhirnya dari Presiden Jokowi dan Kapolri. Sketsa tersangka dipubilkasikan. Namun tak tampak kemiripan sama sekali dengan jenderal yang disebut oleh Novel.

Publik pun tak boleh terkecoh oleh unsur-unsur politik di dalam berbagai lembaga yang tersusupi oleh parpol. Oleh kalangan kepentingan anti Pancasila yang bermain secara cerdas sejak perekrutan sampai pelaksanaan pekerjaan.

KPK Terpukul

Kematian Yohannes Marliem jelas melemahkan pengungkapan kasus terhadap Setya Novanto, dan para gerombolan koruptor DPR. Meskipun KPK menyatakan tidak terpengaruh, jelas kesaksian dia dalam keadaan hidup diperlukan.

Bukan hanya berdasar alat bukti elektronik rekaman – yang telah terbukti Mahkamah Konstitusi (MK) yang korup – menyatakan bukti rekaman itu illegal. Itu pula yang akan terjadi dengan rekaman yang bukan sadapan KPK. Pun jika KPK menggunakan rekaman itu bisa menjadi alat yang bisa membebaskan tersangka.

Fakta-fakta lain yang menguatkan seperti aliran dana korupsi yang mengalir ke Setya Novanto, dkk. harus dikuatkan dan dipastikan oleh saksi yang kredibel. Catatan tentang sepak terjang Setya Novanto dan kawan-kawan pun sangat licin dan tak gampang dicokok. Setya Novanto adalah the Untouchable.

Intrik Politik Tingkat Tinggi

Selepas mengeluaran Perppu Ormas, Presiden Jokowi diserang oleh para pecinta khilafah, anti NKRI, anti Pancasila, politikus semprul, Islam radikal, parpol keluarga, koruptor,bandar narkoba, teroris, dan mafia. Maka perubahan sikap tegas disampaikan. Tidak ada kompromi.

Belakangan Presiden Jokowi makin jelas dan tegas berbicara. Bukan saatnya lagi pernyataan secara terselubung disampaikan. Sikap cerdas halus santun malah diejek sebagai lemah dan ayam sayur. Meski secara nyata kekuatan dan keyakinannya telah membuktikan kinerjanya.

Perubahan sikap itu sebagai reaksi dan aksi terhadap kondisi politik, termasuk yang terdekat terkait dengan orang terkuat di Indonesia, menurut Donald Trump, Setya Novanto. Posisi pentingnya, sekaligus terjebak dalam perang kekuatan dan hukum, membuat posisi politik Presiden Jokowi juga perlu maneuver.

Intrik politik dan taktis kelas tinggi tengah berlangsung. Tentu. Tak pelak satu penyokong pemerintah dan Presiden Jokowi ada dalam posisi unik. Setya Novanto mendukung Presiden Jokowi, namun dia tersangka E-KTP.

Presiden Jokowi pun terkenal dekat dengan Polri dan KPK, selain mendapat dukungan Setya Novanto. Namun, situasi politik berubah. Novel menciptkan simalakama banyak mulut berteriak, namun tidak kepada Polri, Pemuda Muhammadiyah. Pun dia berteriak ke media pro-Prabowo. Klop.

Gambaran polarisasi menyebabkan Presiden Jokowi bereaksi. KPK dan Polri berjandi bersinergi dalam wacana. Kasus Novel pun tidak menjadi sesuatu yang penting banget, karena justru menggambarkan pertarungan politik. Presiden Jokowi hendak dijauhkan dari KPK dan Polri, dengan cara membuat seolah kasus Novel tidak diperhatikan oleh Presiden Jokowi.

Maka, tidak mengherankan kalau saat ini Presiden Jokowi tidak menunda untuk show of force. Dia berbicara blak-blakan dan mulai menghantam secara jelas agar konstituen dan pendukung, kawan dan lawan paham, adanya kekuatan bersama dengan TNI, Polri, dan rakyat. Kini saatnya mereka menerima konsekuensi secara lugas.

Namun, dalam tataran komunikasi politik dan PR, Presiden Jokowi harus tetap menahan diri mengomentari Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Kenapa? Tidak level untuk dikomentari. Cukup kita-kita di Seword saja yang sewot; jangan beliau menanggapi mereka.

Intrik ini pun terjadi di Istana. Bukan hanya sepak terjang dua atau tiga kaki Jusuf Kalla yang menjadi sasaran curhat para pencari keadilan. Setya Novanto saat Papa Minta Saham menghadap JK, dan kini saat jadi tersangka E-KTP juga sowan ke JK, melalui Yorrys Raweyai.

Perbedaan sikap politik Jusuf Kalla dan Presiden Jokowi juga tampak nyata. JK sebagai tokoh Golkar justru berafiliasi dengan gerakan Islam radikal, melakukan pembiaran masjid jadi ajang kampanye SARA, dalam mendukung Anies – sang kaki tangan FPI. Perbedaan sikap politik JK dalam Pilkada DKI menjadi catatan khusus bagi Presiden Jokowi dan pendukungnya.

Ini belum lagi upaya pelemahan KPK – dengan target jika KPK bubar maka akan menyalahkan Presiden Jokowi – oleh DPR dengan Pansus KPK-nya.

Kematian Johannes Marliem dan sikap Novel Baswedan membuat konstelasi politik berubah. Ini terkait dengan dukungan Setya Novanto kepada Presiden Jokowi. Sikap Novel Baswedan yang seolah menyalahkan Polri – sementara Polri terkenal professional di bawah Jenderal Tito tegas membabat terorisme dan Islam radikal – membuat posisi KPK terjepit.

Perubahan konstelasi politik ini membuat perubahan sikap Presiden Jokowi. Tegas. Apa adanya. Hantam dengan palu konstitusional Islam radikal dan para pengikutnya. Singkirkan pengikut paham khilafah anti NKRI dan Pancasila, yang merupakan kolaborasi (1) koruptor dan mafia, (2) politikus semprul, (3) bandar narkoba, dan (4) teroris. Demikian the Operators dan Ki Sabdopanditoratu. Salam bahagia ala saya.

Share.

About Author

Wakil Presiden Penyair Indonesia, Philosopher penemu teori filsafat "I am the mother of words"

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage