Jokowi-JK Sudah Tertawa Bersama, Ahok Sudah Menyerah, Para Relawan Harus Bagaimana?

Jokowi-JK Sudah Tertawa Bersama, Ahok Sudah Menyerah, Para Relawan Harus Bagaimana?

59

13 hari terakhir mulai 9 – 22 Mei 2017 sejak Ahok diputuskan bersalah, dan ditahan, maka berbagai macam analisa, imajinasi, dan hingga perasaan was-was muncul di hati masyarakat Indonesia. Saya pribadi yang memposisikan diri sebagai relawan Indonesia Baru yang mendukung Jokowi – Ahok 2012, Jokowi – Jk 2014, dan ikut mendorong Anies Baswedan untuk tampil menjadi pemimpin bangsa serasa dipontang-pantingkan perasaannya.

Marah, jengkel, pedih, sampai titik yang sudah mengganggu tidur-tidur malam saya. Kadang berfikir juga, tidak pernah dapat uang dari mereka-mereka, mereka menyakiti saya secara pribadi juga tidak pernah, tapi mengapa sampai saya bisa merasa seperti ini.

Perasaan saya ini ternyata mewakili banyak teman-teman main, kolega bisnis, sampai sesederhana teman ngomong yang kebetulan ketemu disuatu tempat. Rasa yang aneh, seperti kehilangan harapan, optimisme, dan daya juang untuk mendewasakan Indonesia Baru. Inilah rupa-rupanya yang disebut broken heart.

Tanggal 22 Mei 2017, tatkala Ahok mengumumkan tidak naik banding, saya merasakan itu adalah puncak. Tidak kebetulan di hari yang sama, tersiar kabar Jokowi – JK sedang tertawa lebar bersama bahkan sampai mendapatkan standing ovation dari para menteri di rapat terbatas di Istana Bogor (sumber).

Disini saya melihat bahwa Indonesia Baru memang sudah selesai satu musim, kita sedang memasuki sebuah new platform, atau babak yang baru. Langkah iman Ahok untuk tidak naik banding harus dilihat sebagai perjalanan rohani yang berarti banyak untuk Indonesia. Melalui tindakan Ahok, Tuhan seakan bicara kepada kita. “Cukup, ini waktuKu, bukan waktu kalian.”

Jokowi-JK boleh berbeda dan berseberangan dalam pandangan politik akhir-akhir ini, tapi mereka menunjukkan kepada kita bahwa mereka siap memasuki paruh kedua sebagai RI1 – RI2.  Menurut saya, ini harus dihargai, karena ini yang membuat kita menjadi negara besar, dan berkembang.

Kita beri ruang Jokowi – JK untuk 2,5 tahun terakhir menyelesaikan janji-janji kampanye. Nawacita masih butuh tenaga untuk diselesaikan, dan Jokowi tetap fokus hendak menyelesaikan. Kita akan menjadi rakyat yang tidak tahu diri apabila justru menjadi bagian dari beban pembangunan Indonesia Baru.

Di lain pihak, masa berkabung untuk Ahok sudah cukup. Ahok tidak perlu simpati yang berlebihan, dia perlu siapapun orang yang percaya kepada apa yang diperjuangkannya, melanjutkan apa yang bisa dia kerjakan. Hal ini bukan berarti kita berhenti menyuarakan keadilan untuk Ahok, tapi lebih kearah mengarahkan energi kepada perjuangan yang lebih tepat.

***

Ahok tidak bisa lagi diposisikan sebagai Gubernur DKI, tapi Ahok telah dan sedang bermetaforfosis menjadi tokoh dan negarawan tingkat nasional. Dia sedang menuju menjadi kupu-kupu, apabila kita mengusik fase kepompong dia, kita justu akan bersalah dan kehilangan Ahok selamanya.

Di fase kepompong, yang bisa kita lakukan adalah MENJAGA kepompon itu supaya tidak dibunuh, dibuka, ataupun diganggu dengan binatan-binatang lain. Bagaimana caranya? Kita hidupkan terus Ahok dengan melahirkan Ahok-Ahok yang lain di seluruh Indonesia.

Waktu 2 tahun adalah waktu yang cukup untuk para relawan bergerak kesemua lini dan mengajarkan kredo Ahok, Bersih-Transparan-Profesional.  Itu perjuangan yang tidak ringan dan dibutuhkan energi yang tidak kalah besar dibanding bertempur melawan relawan yang lain.

Bagaimana Anies – Sandi?  Beri mereka juga ruang untuk membuktikan bahwa mereka lebih baik dari Ahok-Djarot. Kita terus kawal mereka untuk setiap program mulai penggusuran, reklamasi, KJP dan terus mendorong Bersih – Transparan – Profesional.

Ini memang tidak akan mudah mengingat luka menganga yang ditinggalkan di Pilkada DKI 2017.  Tapi lagi-lagi perlu diingatkan, Indonesia tidak berhendi di Pilkada, tapi akan terus berlanjut sampai anak cucu kita.

Yang terakhir, fokus energi bangsa ini seharusnya difokuskan kepada tantangan radikalisme, dan liberalisme – humanis yang semakin merebak. Dua hal yang menurut saya adalah pengaruh global yang telah memasuki seluruh relung banyak bangsa.

Disatu pihak gaung sektarian dan radikal semakin kuat, di pihak lain LGBT sebagai wujud dari liberal-humanis tidak bisa tidak telah meracuni masyarakat sampai ke anak-anak SD – SMP.  Perjuangan ini memerlukan perjuangan bersama bagi yang masih ada sisa-sisa kewarasan.

***

Begitu banyak kasus hukum yang harus ditangani pak Tito dan jajaranannya dalam waktu 1 tahun terakhir. Biarlah pak Tito fokus kepada kasus-kasus yang lebih strategis dan mempengaruhi bangsa.  Sementara kita, terus mengawal fase kepompong Ahok, Jokowi-JK sampai selesai 2019, Anies – Sandi sampai selesai 2022.

Bagaimana kita mengawal? Yang pertama, sebagai orang beragama kita berdoa untuk para pemimpin bangsa ini. Yang kedua, bagi para aktifis sosial media kita mulai waspada dengan pihak-pihak radikal yang sengaja memancing emosi semua pihak yang berseberangan dan terus menulis dengan tenang dan kepala dingin.

Yang ketiga, ini yang penting, sudah waktunya para relawan Indonesia Baru turun ke bawah dan mulai mengedukasi masyarakat dengan nilai-nilai kebangsaan yang benar.  Karena pada akhirnya demokrasi ada ditangan rakyat. Apabila rakyat dewasa, kita akan mendapatkan pemimpin yang baik, apabila rakyat masih anak-anak, kita sudah melihat akibatnya, pemimpin yang baik pun bisa dibui.

Doa saya Jokowi – JK, Anies – Sandi, kalau Bapak – Bapak bisa membaca artikel saya ini, tolonglah kami rakyat biasa, bekerjalah dengan baik dan benar sehingga anak cucu kita bisa bangga dengan apa yang kita kerjakan. Dan khusus untuk Ahok yang saya rindu untuk bisa menjenguk dan bertemu muka, ada banyak yang bisa saya ceritakan, tapi saat ini saya cuma bisa berkata “Thank you Brother, Tuhan memberkati, You’ve done it well.”

Salam Indonesia Baru
Pendekar Solo

Share.

About Author

Seorang WNI yang merindukan Indonesia Baru

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage