Jokowi Tersayang, Pilkada DKI Usai, Waspadai “Mereka”

Jokowi Tersayang, Pilkada DKI Usai, Waspadai “Mereka”

151

 

 

Buat warga DKI selamat menuju kota bersyariah.

PKS & GERINDRA selamat, dan selamat tersenyum lebar Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Selamat maraknya sweeping di Ibu Kota ke depan. Dan mari berjumpa lagi dipertarungan berikutnya : Pilkada Jabar, Palembang dan kota-kota lainnya 2018. Suaraku tak akan redam untuk mengatakan TIDAK pada isu SARA.

Selamat buat Anies-Sandiaga, Semoga bisa merawat keberagaman dan meloloskan sandera politik islam. (Tapi sepertinya ini panggang jauh dari api).

Kalau melihat Pilkada DKI, isu SARA yang cepat laku bakal mewarnai sampai pilpres 2019 nanti. Dan Jokowi akan kembali dituduh Komunis.

Indonesia luar biasa, mistik tetap menjadi lebih penting ketimbang rasio. Rasanya saya mau k*ncing di tembok apartemen, karena mungkin ini yang paling polos dan gratis tanpa DP.

Sebagian pendukung Basuki, justru bahagia dengan kekalahannya. Karena dapat mereda gelombang amuk massa fundamentalis. Dan Basuki seperti berjuang ala Yesus (versi umat nasrani) berkorban untuk keseimbangan untuk kemaslahatan umat. Memang berat posisi dirinya, jadi minoritas, beragam demo, masuk pengadilan, di bully, di cap china kafir komunis, di sebut penista, dan semuanya justru membuat ia bersyukur sambil berkata : “selamat untuk Anies”.

Dulu Henk Ngantung ditunjuk oleh Soekarno jadi Gubernur DKI yang juga non-muslim dan non-Jawa. Dan tidak sedikit yang menolaknya. Kemudian di era Orba saat Platform partai dan militer terlihat lemah, dominasi juga memainkan isu sara (agama) dalam pelanggengan kekuasaan. Hal-hal semacam ini cerita lama yang dipelihara di Nusantara.

Semoga yang terpilih, jadi gubernur seluruh warga Ibu Kota, bukan untuk golongan semata.

Pertarungan ini seperti Poin 1:1. Kaum sekuler ataupun nasionalis telah memenangkan Pilpres 2014, kaum fanatik agama ataupun fundamentalis telah memenangkan pilkada DKI 2017….! bakal lebih seru di tahun 2019 nanti. Namun apapun itu yang menang tetaplah bangsa Indonesia, yang menang adalah rakyat Indonesia, jika bicara demokrasi.

“Panjang umur keberagaman” semoga bukan hanya ucapan semata.

 

Kita ketahui bersama bahwa Anies pernah menjadi bagian Jokowi, juru bicara saat kampanye Pilpres 2014 dan menjadi menteri pendidikan di kabinet kerja.

Hal ini dapat menguntungkan mantan para jendral dan prabowo di 2019 nanti dengan tetap membawa isu Sara, primordial, plus tumbuhnya komunis baru, yang akan digaungkan oleh PKS bersama ormas keagamaan yang fundamental.
Disisi lain para aktivis reformasi nan gagah sudah menjual diri dan idealisnya di anggota dewan, serta sudah merasa nyaman dalam karier politiknya. Para mahasiswa sudah diasyikkan dengan gadget digenggamannya.

Mereka yang tidak suka rezim hari ini menyebutkan problem terbesar saat ini adalah komunisme gaya baru, dan sejarah mencatat perseteruan “Kom” dengan militer dibawah komando Soeharto membuahkan karya pembunuhan massal di 65. Tentunya para mantan militer tak mau diadili dan disalahkan, sementara Jokowi adalah ancaman bagi mereka. Karena akan dapat mengungkap kebohongan sejarah di era Orba.

Ironisnya tentang kata “rakyat bersatu tak bisa dikalahkan” di Nusantara hanya menjadi nyanyian yang didengar oleh sepi.

 

Aksi yang begitu massive belakangan ini barang mustahil jika tidak ada dalang yang pandai dalam taktik dan strategi. Menjadi pertanyaan kita bersama jauh sebelumnya tentang “begitu sulitkah negara untuk bubarkan ormas radikal?”.

 

Yang tampak terlihat, ormas-ormas radikal ini seperti dipelihara dan dibiarkan. Kasus demi kasus yang menimpa mereka seolah-olah tampak dibiaskan, akhir-akhir ini sebut saja misalnya nama Rizieq Shihab, seperti hilang ditelan bumi. Sementara kita tidak tahu dibelakang tirai yang terjadi sebenarnya. Lihat saja nama SBY hilang seketika yang mana sebelumnya meledak dengan kata “lebaran kuda”.

 

 

Pilkada Jakarta hanyalah skenario kecil mungkin bagi kubu mereka, dimana agenda besarnya adalah melengserkan kekuasaan hari ini yaitu Jokowi.

 

Hal ini seperti kisah pelengseran Soekarno, dimana orang-orang terdekatnya piawai bermain muka dan menusuk dibelakang. Kala itu pengkudetaan terhadap Soekarno yang akhirnya diambil alih Soeharto, masa aksi pun digerakkan oleh mahasiswa yang menyebut diri sebagai KAMI dengan tuntutan Trikora.

Kala itu salah satu peserta aksi, saat dimasa transisi yaitu Soe Hok Gie menjadi salah satu mahasiswa yang melihat banyak kejanggalan, sementara teman-temannya sudah duduk di kursi empuk pemerintahan Soeharto. Gie melihat ternyata Soeharto lebih keji, yaitu melakukan pembunuhan massal dan eksekusi tanpa peradilan yang dilakukan negara dengan militernya. Dimana hal ini juga ada campur tangan asing. Isu yang dimainkan adalah agama dan komunis tak bertuhan.

 

Jokowi tersayang, sudah saatnya untuk berjuang habis-habisan. 2019 tinggal 2 tahun lagi. Dan Anies pernah menjadi bagian dari anda yang tentunya sangat menguntungkan bagi mereka. Isu agama dan komunis tetap akan mewarnai pertarungan politik Nusantara. Indonesia butuh pemimpin yang kerja nyata dan pro rakyat tanpa membohongi ataupun obral janji. Dan itu ada dalam diri anda. Saya yakin anda tahu dan paham bahwa dalam politik, “kejam” menjadi sah meskipun untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

 

Ormas barbar bertebaran, netralitas penyelenggara pemilu timpang, intoleransi jelas begitu vulgar, seharusnya “kejam” dibutuhkan disini.

 

Jokowi tersayang, saya yakin anda bisa. Mungkin anda lupa bahwa “rakyat bersatu tak bisa dikalahkan”, dan begitu banyak rakyat yang mencintai kepemimpinanmu, yang pelan tapi pasti telah menjalankan mandat trisakti dan nawacita, dalam hal ini rakyat mendukungmu, karena kita semua sudah muak terpuruk oleh kekuasaan yang mementingkan golongan.

 

Jokowi, belajarlah dari pengalaman lengsernya Soekarno dan Gusdur, dimana keduanya ditumbangkan oleh politik yang penuh konspirasi dan konsesus terselubung.

 

Indonesia Raya lah!

 

 

 

Share.

About Author

Aku adalah bukan kamu. Indonesia RayaLah! "Spirit Dialektis itu seksi" (Fb : Losa Terjal)

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage