Kalau Kapal Penyelundup Sabu 1 Ton Saja Bisa Lolos, Bagaimana Dengan Terorisme?

Kalau Kapal Penyelundup Sabu 1 Ton Saja Bisa Lolos, Bagaimana Dengan Terorisme?

2

Tribunnews.com

Terungkapnya penyelundupan sabu seberat 1000 kg atau 1 ton menggemparkan negeri ini. Selain karena kuantitas yang luar biasa banyak, satu hal yang patut dipertanyakan adalah keamanan wilayah laut Indonesia. Mengapa bisa barang sebanyak itu masuk ke negara ini tanpa terdeteksi? Saya tak tahu apakah ada permainan di sini atau ada faktor lain, yang jelas ini patut diwaspadai.

Seperti yang dikatakan Tito Karnavian, dikutip kriminalitas.com, “Perairan kita ini ternyata (pengamanannya) sangat longgar. Kita melihat di Timur longgar. Tapi ini di daerah sentral.” Seperti diketahui, sabu tersebut masuk ke sini dengan cara diseludupkan dengan menggunakan kapal pesiar mewah.

Tito pun merasa heran, seharusnya (jalur laut yang dilewati kapal tersebut) mendapatkan pengamanan yang ketat oleh aparat. “Kok bisa kapal Taiwan ke dekat Jakarta, masuk Jawa, ke Anyer, Selat Sunda? Kok bisa lolos? Ini jadi peringatan kita,” ungkap Tito. Yang jelas, kalau tidak ada permainan, pasti kecolongan karena keteledoran.

Karena sudah terungkap, saya anggap selesai saja. Tapi ini membuat kita merenung sekaligus bertanya, betapa longgarnya pertahanan negara ini, dalam hal ini perairan Indonesia. Banyak orang pasti bertanya-tanya mengapa begitu mudahnya membawa masuk barang-barang tersebut ke negara ini. Jika negara ini ibarat kerajaan zaman dulu yang dikelilingi benteng, maka benteng tersebut sangat mudah dirobohkan. Kalau mudah dirobohkan, maka gampang menghancurkan kerajaan tersebut bukan?

Nah, saya jadi ngeri kalau membayangkan terorisme menggunakan pola seperti ini. Mengapa? Ini lebih sulit. Kalau narkoba, semua orang bisa bedakan. Tapi kalau manusia? Bagaimana membedakannya? Ini poin penting. Poin penting lainnya adalah, sepertinya Indonesia harus belajar dari penyelundupan sabu ini. Memang sudah berhasil digagalkan, tapi ini warning keras. Warning terkait lemahnya pengawasan Indonesia terhadap kedaulatan negara.

Kembali lagi ke terorisme, memang isu ini beda dengan narkoba. Tapi jangan salah, teroris juga bisa masuk dengan cara yang sama kalau lengah. Contoh saja konflik perang terhadap ISIS di kota Marawi, Filipina. Kota tersebut tak bisa lagi ditinggali karena tak aman. Semua warga mengungsi ke tempat lain. Dan kota tersebut tidak terlalu jauh dari Sulawesi. Mungkin tidak kalau (jangan sampai terjadi) mereka melarikan diri dan menuju ke Indonesia? Ini bisa saja terjadi kalau pengawasan perairan lemah. Bakal kecolongan. Meski saya yakin aparat yang berwenang sudah berusaha keras menangani ini.

Saya entah kenapa merasa, Indonesia ini makin lama makin banyak rongrongan dari luar. Saya pikir Indonesia ini ibarat gula yang terlalu manis, sehingga banyak semut berusaha mengerubungi dari berbagai sisi. Terorisme, narkoba, barang selundupan dan lainnya. Kalau gula ini tidak dibentengi dengan kapur anti semut, percayalah, gula tersebut akan habis cepat atau lambat. Anda pasti sudah paham analogi ini.

Di satu sisi, ada video yang memperlihatkan teroris menyatakan perang terhadap Indonesia dan tingkah beberapa pasukan sumbu pendek yang menempelkan atau memasang logo organisasi radikal ini dan menebarkan ancaman. Ini saja sudah menjadi semacam warning keras agar pemerintah sadar ada virus dan parasit yang harus segera dibasmi sebelum semuanya terlambat. Dari sejumlah teroris yang tertangkap di Turki, WNI adalah yang terbanyak kedua.

Kecolongan narkoba 1 ton memang agak memalukan, tapi setidak bisa dijadikan cambuk untuk pemerintah supaya dapat lebih memperkuat benteng pertahanan negara dari segala macam parasit yang berniat menumpang dan bikin ulah. Saya selalu percaya, kalau tidak ada peristiwa besar, kita takkan pernah belajar. Pengalaman paling berharga dan tak terlupakan adalah ketika dicambuk paling keras. Kalau cambukannya ringan, mungkin takkan sadar. Jangan sampai kecolongan seperti ini lagi untuk kedua kalinya, apalagi sampai ketiga kalinya.

Marilah kita percayakan pada pemerintah dan kepolisian untuk menangani ini. Saat mengetahui penangkapan kapan penyelundup sabu 1 ton, saya sudah protes, “Lho, kok bisa? Kalau jumlah sedikit masih dimaklumi, tapi ini sudah satu ton.” Kalau ini saja bisa kecolongan, wajar kalau aspek lainnya seperti terorisme juga bisa kecolongan kalau tidak hati-hati. Semoga ini jadi perhatian serius ke depan. Salam.

Bagaimana menurut Anda?

 

http://kriminalitas.com/kapal-penyelundup-sabu-bisa-melenggang-kapolri-pertanyakan-keamanan-laut-indonesia/

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage