Kasus Bukit Duri: Pemkot Jakarta Selatan Menang Banding, Ternyata Ahok Benar Selama Ini, Kasihan Yang 58%

Kasus Bukit Duri: Pemkot Jakarta Selatan Menang Banding, Ternyata Ahok Benar Selama Ini, Kasihan Yang 58%

124

Kompas.com

Ini berawal dari tanggal 5 Januari 2017 lalu ketika Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) memenangkan gugatan warga Bukit Duri sehubungan dengan surat peringatan (SP) dari satpol PP Jakarta Selatan pada akhir Agustus 2016 lalu. Banyak pihak mengatakan dengan kemenangan gugatan ini, menegaskan bahwa Pemprov DKI (masih dipimpin) Ahok telah melakukan pelanggaran terkait penggusuran Bukit Duri.

Bahkan kuasa hukum yang mewakili warga Bukit Duri mengatakan dengan terang-terangan bahwa Pemprov DKI telah melakukan tindakan sewenang-wenang, serta telah melakukan pelanggaran hukum dalam penggusuran. Pemprov DKI dituding melakukan penggusuran paksa dengan alasan normalisasi Kali Ciliwung. Lah, memang betul kok Ahok ingin normalisasi Kali Ciliwung ke fungsi aslinya demi mengatasi permasalahan banjir yang tak pernah usai di Jakarta. Tapi sayang usaha Ahok ini banyak diprovokasi dan dipolitisasi. Nanti saya jelaskan mengapa.

Saya bingung dengan mereka yang mengatakan Ahok arogan, diktator, tidak pro rakyat, tidak peka dengan penderitaan rakyat. Saya lebih bingung dengan mereka yang tiba-tiba muncul dari lubang mana lalu sok jadi pahlawan dengan menentang penggusuran. Mereka seperti ikut bikin semak dan memperkeruh suasana. Dengan segala propaganda, apalagi waktu itu masa pilkada, Ahok dituding tidak transparan, menggusur paksa, lebih memihak developer ketimbang rakyat kecil, mengintimidasi warga untuk pindah, tak punya perasaan, tak punya otak, pokoknya apa yang Ahok lakukan dicap negatif. Itulah intinya.

Ketika gugatan dimenangkan wara Bukit Duri, saya ingat betul cibiran terhadap Ahok luar biasa banyak. Belum lagi medsos penghuni kaum sumbu pendek yang dengan bangganya menyalahkan dan menyindir Ahok secara membabi buta. Momen ini juga yang mungkin jadi titik balik untuk menyerang Ahok soal kebijakannya dalam melakukan penggusuran. Pasangan Anies-Sandi juga terkesan ikut menolak penggusuran. Selain itu banyak orang aji mumpung cari muka dan cari perhatian sewaktu pilkada. Banyak yang jadi pahlawan kesiangan ecek-ecek.

Makanya saya sebut isu penggusuran banyak dipolitisasi oleh mereka yang sok pahlawan. Dan mata kita pun terbuka lebar ketika Sandiaga Uno mendukung Pemprov DKI melakukan penggusuran Bukit Duri (Djarot sebagai Gubernur) 1-2 bulan lalu. Aneh aja sih, kenapa gak dari dulu, sekarang malah mendukung. Dan makin anehnya, penggusuran yang terakhir ini juga tak mendapat perlawanan dan protes seperti biasanya.

Kalau bukan dipolitisasi, lantas apa lagi? Ahok sudah tidak ada dan game over, maka tak perlu lagi goreng isu penggusuran? Picik sekali kalau begitu. Banyak orang juga berpikir seperti itu, ketika masa pilkada, berbagai isu diangkat secara berlebihan demi cari muka. Pas selesai pilkada, isu tersebut redup. Sayangnya banyak warga yang masih belum paham, banyak yang masih mau ditipu. Bahkan ada yang sudah sadar, tapi tetap memilih ditipu karena label agama. You know what I mean.

Dan satu lagi berita yang sangat menarik. Ketika warga Bukit Duri menang gugatan, Pemkot Jakarta Selatan mengajukan banding 4 hari kemudian yaitu 9 Januari 2017. Hasilnya, PTUN mengabulkan banding tersebut. Majelis Hakim PTUN Jakarta menyebut dalam amar pertimbangan, bahwa penggusuran yang dilakukan Pemkot Jakarta Selatan pada September 2016 lalu, sudah tepat. Juga telah dilakukan pemeriksaan alat bukti yang diajukan penggugat, bahwa tidak ada bukti sertifikat atas nama penggugat di atas bidang dan tanah bantaran Kali Ciliwung.

Nah kan apa saya bilang, ternyata penggugat tidak punya sertifikat kepemilikan tanah. Jadi yang salah siapa, kenapa mereka malah teriak-teriak protes? Jelas-jelas mereka salah, tapi melakukan propaganda seolah Ahok adalah orang jahat yang melakukan penggusuran paksa tanpa perikemanusiaan. Semakin jelas kalau isu ini dulu dipolitisasi dan digoreng demi kepentingan segelintir orang. Dan lucu juga kenapa baru sekarang terkuak kebenarannya?

Jika tak ada upaya hukum lanjutan, dari penggugat, maka warga Bukit Duri yang menggugat harus menerima kekalahan. Sepertinya tidak akan ada lagi deh, karena sewaktu penggusuran saja, mereka tak melawan, Sandiaga saja mendukung. Politik oh politik. Sekarang makin sadar kalau Ahok hanya menjadi korban politisasi berbagai isu. Ahok melakukan sesuatu apa adanya tanpa ditutupi, tapi mereka melakukan hal lain karena ada apa-apanya.

Ahok dicap jelek, sekarang tanyakan lagi siapakah yang sebenarnya lebih jelek? Ayo yang 58 persen jawab pertanyaan ini. Masih belum sadar juga dengan dagelan ini? Bukit Duri ini salah satu contohnya. Atau sekarang syok karena sadar telah tertipu dengan kharisma para pahlawan kesiangan yang pintar cari muka kayak yang dulu-dulu yang bisa janji ini itu tapi akhirnya sama saja? Nyesal pun percuma, enjoy aja dan nikmati hidup 5 tahun ke depan.

Ada satu orang yang berkata bijak seperti ini dan saya setuju sekali. Siapa pun pemimpinnya, orang kaya dan mampu takkan terpengaruh. Orang kaya dan menengah hidupnya tetap sama. Yang paling terpengaruh adalah rakyat kecil. Sayangnya rakyat kecil seringkali tak sadar kalau ada pemimpin yang benar-benar peduli dengan mereka, malah lebih suka percaya dengan pemimpin yang sok peduli, bukan beneran peduli, cuma bermulut manis. Lihat saja contoh dulu-dulu. Mereka pikir tumbangnya Ahok adalah kemenangan mereka. Siapa yang sebenarnya bodoh? Coba pikirkan baik-baik. Rakyat kecil lebih butuh kepedulian pemimpin yang benar-benar peduli. Begitu dapat yang cuma bermulut manis, siapa yang nyesal? Orang kaya? Rakyat kecil juga kan? Sadarlah, wake up, jangan mau ditipu pakai…

Bagaimana menurut Anda?

 

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/08/11/18203081/ptun-menangkan-banding-pemkot-jaksel-soal-penggusuran-warga-bukit-duri

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage