Kemenangan “Kotor” Anies-Sandi, Tetap Harus Didukung Penuhi Janji-Janji Kampanye

Kemenangan “Kotor” Anies-Sandi, Tetap Harus Didukung Penuhi Janji-Janji Kampanye

5

Kemenangan pilkada DKI oleh  Anies-Sandi yang memperoleh kemenangan menandai pergantian orde kepemimpinan dan menggusur eskalasi perjuangan menentang diskriminasi yang diwakili oleh “icon” Ahok yang berhadapan dengan ketidakwarasan “budaya” politik yang menghalalkan segala cara dengan mengesampingkan akal sehat dan kepatutan untuk bersikap “sopan dan santun” yang sesunggguhnya tanpa memainkan isu SARA dan primordialisme.

Perjuangan membebaskan akal sehat dari “cengkraman” primordialisme dan isu agama yang dimainkan oleh para politisi memasuki masa yang jauh lebih sulit dari sebelumnya. Elemen perubahan yang salah satunya adalah kepemimpinan yang “sehat” dan berjuang bersama dengan ke aneka ragaman suku, etnis dan agama tampaknya semakin sulit dengan terpilihnya Anies-Sandi yang didukung oleh partai dan ormas yang jelas menentang dan memanfaatkan keragaman hanya untuk menyatukan golongannya saja.

Kata selamat atas terpilihnya Anies-Sandi dalam kerangka kontestasi politik lebih tepat dilayangkan saat program-programnya yang dijanjikan tersebut teralisasi. Ucapan selamat yang haruslah ditunda disebabkan banyaknya permasalahan dari naiknya kepemimpinan yang melalui proses “kotor” yang memainkan akidah hanya guna menggeser akal sehat untuk mendapatkan kekuasaan semata.

Bersikap liniear terhadap hasil kontestasi haruslah dilakukan, kemenangan harus diakui dan pembangunan mencapai masyarakat berkeadilan dan sejahtera tidak lah boleh terganggu. Mendukung pemerintahan yang terpilih secara electoral harus dilakukan dengan cara dan kreatifitas yang positif.

Tidak pantas untuk menyampaikan kata selamat dari sebuah proses kotor dan menjijikkan, kata selamat lebih harus disampaikan kepada masyarakat DKI Jakarta yang telah memilih sebab banyak ketidak “normalan” dari janji Anies-Sandi yang saat ini telah menjadi  sajian hidangan yang harus dinikmati oleh masyarakat DKI,  DP nol rupiah, 200 ribu pengusaha (oke oche) dan program “hayalan” lainnya (semoga tidak).

Perjuangan dari “kaum waras” untuk memerangi “ketidakwarasan” sekarang terancam untuk dituduh tidak move on, ini lebih kepada perjuangan nilai-nilai yang Ahok sebagai iconnya kini mengalami kekalahan electoral oleh “kebodohan” politik yang masih dikonsumsi oleh politik ancam mengancam dengan  ketidaktaatan terhadap agama “yang menyesatkan” dimana ini dimainkan oleh elit politisi. Perlawanan terhadap politik primordialisme harus tetap dilakukan mencegah terjadinya “keterbelakangan” budaya.

Pesta demokrasi apapun hasilnya mutlak rakyatlah yang harus menjadi pemenangnya saat paslon nomor urut tiga (Anies-Sandi) memenangkan, kewajiban masyarakat “cerdas” dari yang pro atau yang kontra terhadap paslon tersebut harus segera terealisasi janji-janji tersebut dimana kelak masyarakat akan diuji “kepintarannya” dalam menghadapi retorika indah dan argumentasi politik yang kerap dimainkan oleh calon pemimpin yang kelak menjabat tersebut (umumnya)

“Calon Wakil gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengklaim banyak perusahan yang mau bekerja sama untuk menjalankan program rumah dengan yang muka atau down payment (DP) nol persen. Namun, mereka meminta payung hukum yang jelas.

“Ada beberapa yang menyatakan mereka bisa menyediakan pola rumah dengan DP nol persen ini jika nanti perdanya (peraturan daerah) sudah bisa dihadirkan,” kata Sandi di Jakarta Selatan, Jumat 21 April 2017.

Bagi yang memenangkan kontestasi tersebut justru mendapat tantangan secara tuntutan konkret dan psikologis yang jauh lebih berat dari yang mengalami kekalahan, jangan menjadi pendukung “buta”, dan lebih gencar lagi mengingatkan calon yang sudah turut dimenangkannya sebab tidak hanya lelah dari “pertempuran” semasa pilkada dengan “korban” pertempuran tersebut justru ada disekeliling para relawan tersebut dimana saudara, kerabat, teman bahkan keluarga yang mengalami “perpecahan” semasa isu agama tersebut gencar dijadikan “mainan politik”

Janji manis “Anies-Sandi” yang dimainkan sebagai pelengkap permainan politik primordialismenya sebagai kunci kemenangan akan menjadi tanggung jawab bagi masyarakat DKI dan akan segera merasakan dampaknya, tugas berat memang. Yang menang harus membuktikan semua janji, masyarakat yang memilih harus bertanggung jawab terhadap siapa yang “didukungnya” agar tercipta tatanan masyarakat yang berkeadilan yang sesuai dengan ideology bangsa ini, NKRI dan Pancasila.

Suara rakyat suara tuhan….dan hukum adalah panglimanya. Semua ada aturannya, taati dan jangan coba-coba kemenangan ini dijadikan kesempatan untuk mendirikan Negara Islam, atau yang lainnya yang hendak menggeser Pancasila, kekalahan di kubu yang membawah tema “NKRI dan Pancasila” ini akan menjadi gelombang lebih besar lagi untuk bersama-sama dengan “panglimanya” yakni hukum, untuk menjaga dan Indonesia tidak mengenal hukum syariat ataupun kekhalifaan.

Selamat untuk warga DKI atas pilihannya, DKI yang lebih hebat dan lebih maju lagi !

Share.

About Author

lecturer in business and informatics institute

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage