Kesaksian Pedri Kasman, Tidak Jujur?

Kesaksian Pedri Kasman, Tidak Jujur?

30

Kelanjutan sidang Ahok  Selasa (10/1/2017) kembali menghadirkan saksi  pelapor yang dihadirkan oleh Jaksa.  Hadir dan memberikan kesaksian pertama dalam sidang itu Pedri Kasman SP. Beliau adalah Sekretaris Pusat Pemuda Muhamdiyah. Dia melaporkan Ahok atas nama Angkatan Muda Muhamadiyah yang diketuai oleh Dahnil Anzar Simanjuntak.

Pedri Kasman menegaskan kepada majelis hakim bahwa Ahok telah menistakan Al Qur’an yang merupakan kitab suci dari umat Islam. “Tedakwa yang tidak beragama Islam tidak memiliki ranah untuk berbicara tentang hal tersebut, ucapan tersebut membuat saya sangat tersinggung,” ujarnya, mengomentari perkataan dalam pidato Ahok yang menyebutkan “jangan mau dibohongin pakai surat al-Maidah ayat 51. “Itu adalah hal yang sangat sensitif yang sangat mendasar bagi mereka yang berkeyakinan,” lanjut Pedri Kasman.

Poin penting yang ditekankan pelapor dalam kasus ini adalah kalimat “jangan mau dibohongin pakai surat Al Maidah”. Disini terlihat bahwa pelaporan itu bersifat dramatisir, mengambil sepenggal kalimat pendek dengan mengesampingkan isi keseluruhan pidato Ahok di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu yang berdurasi 1 jam 48 menit yang direkam oleh Pemprov DKI Jakarta. Bersifat tendensius lalu menafsirkan kalimat itu sebagai perbuatan “menistakan agama”.  Saksi hanya mengatakan menistakan agama, namun  tidak memerinci secara tegas apa definisi menistakan agama yang dia maksudkan, dan apa saja kategori dan dasar-dasarnya sehingga beliau menyimpulkan hal itu sebagai perbuatan penistaan agama Islam. Tidak ada alasan yang kuat yang melandasi pelaporannya kecuali mengatakan “saya merasa tersinggung”. Wow..organisatoris macam apa itu, ini orang “mangga mentah” yang lebih mengedepankan emosi ketimbang nalar dan akal sehat.

Kesalahan fatal aktivis muda ini adalah sebagai pengurus inti Pemuda Muhamadiyah Pusat, membawa-bawa nama organisasi itu, tanpa mengkonsultasikan terlebih dahulu hal yang sangat sensitif itu dengan ulama atau induk oranisasi yang menanunginya. Tidaklah mengheran bila pemahaman anak muda ini terhadap Al Qur’an, khususnya surat Al Maidah ayat 51 terasa dangkal, tidak mencerminkan kearifan ulama Muhamadiyah, bahkan mungkin dalam hatinya terselip kebencian atau mungkin ia telah terprovokasi oleh viedo yang diunggah oleh Buni Yani.

Langkah-langkah itu gegabah karena ikut memperkeruh suasana, dan keputusan itu diambil hanya berdasarkan hasil diskusi melalui Whatsapp. “Saya mendapatkan kuasa langsung dari Ketua PP Pemuda Muhamadiyah, Dahnil Anhar,” jelasnya. Maksudnya berkata begitu guna mengatakan bahwa “ada organisasi Pemuda Muhamadiyah di belakangnya”  . Tidak begitu jelas apakah perintah itu disertai surat mandat atau cuma persetujuan lisan atau cuma akal-akalan. Membawa-bawa nama organisasi seharusnya disertai surat resmi yang menyatakan bahwa yang bersangkutan mewakili organisasi. Sayang tidak ada pertanyaan tentang hal ini, karena bisa saja yang bersangkutan bertindak atas kepentingan diri sendiri namun berlindung dibalik nama organisasi.

Pedri bersikukuh bahwa ucapan dalam penggalan video yang berdurasi 13 detik yang merupakan video hasil pelintiran Buni Yani itu merupakan tindakan yang menistakan agama Islam. “Menurut saya tidak perlu hal itu dipersoalkan. Saya fokus pada rasa tersinggung saya karena pernyataan Ahok yang 13 detik itu,” ujarnya, menegaskan.  Kita cermati hal ini: Satu sisi dia bilang “tidak perlu dipersoalkan” apakah video itu menggunakan kata “pakai” atau tidak. Namun pada sisi lain saksi mengatakan “Saya fokus pada rasa tersinggung saya karena pernyataan Ahok yang 13 detik itu”.

Pertanyaannya: ketika membahas video yang 13 detik itu lalu berkesimpulan Ahok telah menistakan agama Islam dan kemudian melapor, apakah saksi telah berkata jujur bahwa dia tidak terpengaruh oleh isi video durasi 13 detik itu?  Tetap menyimpulkan hal yang sama meski beberapa waktu kemudian mengetahui bahwa video itu cacat karena menghilangkan kata “pakai”, apakah dasar ketersinggungannya  karena berpegang pada isi pernyataanya yang berbunyi:  “Terdakwa yang tidak beragama Islam tidak memiliki ranah untuk berbicara tentang hal tersebut…”?

Kata “(Ahok) tidak memiliki ranah untuk berbicara tentang hal tersebut (maksudnya surat al Maidah ayat 51)”, berarti Pedri tidak memahami maksud dan tujuan dari pernyataan Ahok secara keseluruhan. Mungkin nalar sehatnya sedang terbang ke awang-awang. Padahal Ahok tidak menafsirkan dan tidak juga bermaksud menghasut warga agar tak percaya surat Al Maidah ayat 51. Ahok hanya bercerita tentang pengalamannya ketika mengikuti Pilkada di Bangka Belitung. Berdasarkan pengalamannya itu Ahok mengatakan kepada penduduk Pulau Pramuka yang hadir saat itu bahwa ia maklum sekiranya ada warga Pulau Pramuka tidak memilihnya.

Namun kebencian dan pikiran tidak waras ternyata lebih mengemuka, lebih mendominasi pikiran para saksi pelapor itu. Mungkin atas nama kebencian atau mungkin juga ada kepentingan politis yang melatar belakanginya.  Namun hal yang sangat jelas terbaca bahwa saksi Pedri Kasman terlihat tidak jujur, tidak mengatakan motivasi pelaporan yang sesungguhnya.  Kalau cuma alasan tersinggung, seharusnya mana yang lebih tersinggung: penduduk Pulau Pramuka atau para penonton video yang berdurasi 13 detik itu?

*****

Share.

About Author

Hanya orang biasa yang sedang melihat Indonesia melalui kaca mata pengamat sepak bola antar kampung (Tarkam).

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat menghubungi:

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage