Ketika Jual Nasi Padang dan Mebel Jadi Presiden, Jual Fitnah Mimpi Jadi Macan?

Ketika Jual Nasi Padang dan Mebel Jadi Presiden, Jual Fitnah Mimpi Jadi Macan?

31

Melihat pencapaian seorang calon presiden Singapura perempuan, Halimah Yacob sampai saat ini, tentu kita tidak boleh mengabaikan masa lalunya. Mantan ketua DPR di Singapura ini lahir 5 hari setelah kemerdekaan Indonesia yang ke 9. Untuk usianya, kalian cari tahu sendiri, karena konon kata mitos, tidak pantas bagi kita untuk menyebut langsung usia perempuan.

Ia lahir di Queen Street yang ada di daerah Bugis Junction. Ia tidak dilahirkan dari keluarga yang kaya dan mampu. Masa kecil yang tidak mudah, membentuk Halimah Yacob menjadi perempuan yang berjuang. Ibunya berjualan nasi padang dengan sebuah gerobak kecil. Dapat dibayangkan di Jakarta, demi bertahan hidup, orang ini memulai sesuatu dari sebuah gerobak yang dibawa keliling, seperti penjual tape pada umumnya.

Tidak ada orang besar tanpa peranan luar biasa dari seorang ibu. Ibu dari Halimah pun bekerja keras ketika ditinggal mati oleh sang suami. Ia menghidupi kelima anaknya dengan gerobak nasi padang dan pada akhirnya pemerintah memberikan izin untuk membuka usaha di Hawker Center, sebuah pusat perbelanjaan dan shopping sederhana di Singapura.

Halimah sebagai anak terakhir, pun dengan menjalankan hidup biasa-biasa mereka, membantu sang ibu berjualan. Ia membantu ibunya menjadi ‘tukang bersih-bersih’. Ia tidak sungkan untuk mencuci piring, mengepel lantai, merapikan meja-meja, dan tidak lupa melayani pesanan pelanggan. Pendidikan yang diemban oleh Halimah pun baik, secara Singapura memang dikenal dengan kurikulumnya yang cukup sadis.

Saya punya pengalaman mengajar privat murid-murid sekolah internasional yang menggunakan kurikulum Singapura. Soal-soal drilling sampai soal-soal level olimpiade pun menjadi makanan mereka sehari-hari. Awal pengalaman mengajar privat pun, sempat membuat saya kewalahan. Padahal saat saya pertama kali mengajar anak internasional level SMP, saya sudah SMA.

Ini adalah sebuah tantangan tersendiri. Hebatnya, Halimah masuk ke SMP dan SMA bergengsi di Singapura, ini adalah pencapaian seorang ‘pedagang’ nasi padang yang sangat baik. Perempuan keturunan Melayu ini masuk ke SMP dan SMA khusus perempuan bernama Chinese Girls’ School. Ia menyelesaikan SMP dan SMA nya dengan terseok-seok.

Rasanya bukan karena intelektualnya yang rendah, melainkan karena perjuangan membantu ibu yang tidak bisa dikesampingkan sama sekali. Masa sulit itu akhirnya terbayar lunas dengan diterimanya di Fakultas Hukum NUS, sekolah tinggi yang sangat bergengsi! Kesederhanaannya membuat dirinya disukai banyak orang.

Di Indonesia, kita tahu bahwa sosok Halimah ini ada kemiripan dengan Presiden Joko Widodo alias Jokowi. Jokowi dikenal sebagai pengusaha mebel dari Solo. Hidupnya pun tidak mudah di awal. Jokowi lahir dari keluarga yang cukup, tidak berlebihan. Ia dibesarkan dengan pendidikan Jawa yang sangat kental, lihat saja logatnya. Jokowi memiliki pengalaman berbisnis bertahun-tahun bahkan sempat melakukan rekanan dengan orang-orang di belahan dunia lain.

Ia pernah tertangkap kamera sedang di Amerika menjalankan roda bisnis mebelnya. Sebelum menjadi Presiden, Jokowi dan Halimah sama-sama sudah menjadi orang yang berkontribusi bagi negaranya, dalam skala kecil. Presiden RI dan Presiden Singapura yang akan dilantik nanti, memiliki kesamaan masa lalu. Mereka sama-sama orang Asia yang memiliki perjuangan yang sebelas duabelas alias serupa namun tak sama. Indonesia dan Singapura, negara yang bertetangga ini seharusnya memiliki hubungan baik.

Ada satu kalimat yang diucapkan seseorang, yaitu ‘Kebanyakan kita adalah orang kebanyakan.’ Awalnya saya tidak mengerti. Namun seiring berjalannya waktu, saya baru sadar bahwa memang kalimatnya memiliki makna yang sangat mendalam. Manusia secara umum adalah manusia umum. Tidak banyak orang-orang yang memiliki kehebatan. Kehebatan itu bukan digapai, namun diperjuangkan.

Kita melihat bagaimana seorang ibu-ibu penjual nasi padang turunan dari orang tuanya menjadi presiden Singapura. Kita juga melihat bagaimana seorang bapak 3 anak, penjual mebel, dapat menjadi presiden Republik Indonesia. Namun ada saja orang-orang yang menjual fitnah, namun bermimpi ingin jadi presiden. Siapakah dia? Ah sebaiknya jangan disebut, nanti ia tersinggung dan Seword bisa diserang lagi seperti yang sudah terjadi seminggu kemarin ini. Hahaha.

Betul kan yang saya katakan?

Jika pembaca Seword ingin melihat dan menikmati buah pemikiran saya yang lainnya, silakan klik link berikut:

https://seword.com/author/hans-sebastian/

http://internasional.kompas.com/read/2017/09/12/21573321/halimah-yacob-dari-penjual-nasi-padang-ke-istana-presiden-singapura

 

Share.

About Author

Si awam yang mau berpikir sampai ke awan. Twitter dan Instagram @hysebastian Terbuka untuk diskusi via disqus maupun e-mail. hysebastian.seword@gmail.com. Kumpulan tulisan: https://seword.com/author/hans-sebastian/

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage