Ketika Pedri Mengatakan Tabayyun Tidak Perlu , Gus Mus: Biasakan Tabayyun

Ketika Pedri Mengatakan Tabayyun Tidak Perlu , Gus Mus: Biasakan Tabayyun

1

Republika/Yasin Habibi
Ketua PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah Khairul Sakti Lubis (kanan), dan Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah Pedri Kasman (kedua kiri) saat pemeriksaan sebagai pelapor terkait penistaan agama di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (8/11).

Kemarin, Selasa (10/1/2017), Ahok kembali disidang sebagai terdakwa dalam sidang kasus dugaan penistaan agama. Sama seperti pada sidang sebelumnya, para saksi pelapor seperti tidak memahami laporan mereka dan melakukan kesalahan-kesalahan dalam persidangan ini. Adalah yang memfitnah dan ada juga yang laporannya berbeda dengan BAP. Sidang Ahok jadi semakin terlihat adalah sidang yang terlalu dipaksakan.

Dalam persidangan kali ini, ada sebuah pernyataan yang menarik dari seorang saksi pelapor, Pedri Kasman, yang adalah Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Pernyataan tersebut sedikit memberi goresan tidak baik terhadap nama Muhammadiyah. Pernyataan tersebut adalah ketika Pedri menyatakan tidak perlu melakukan tabayun dalam kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok. Muhammadiyah yang terkenal sebagai organisasi yang mengedepankan diskusi dan komunikasi, bukan seperti FPI yang tidak pernah perlu melakukan tabayun.

Dalam persidangan dua kali Pedri ditanyakan apakah melakukan peringatan keras atau konfiirmasi kepada Ahok, pertama oleh Ketua Majelis Hakim, Dwiyarso Budi Santiarto, dan yang kedua oleh hukum Ahok, Sirra Prayuna. Pedri menjawab hal tersebut tidak perlu dilakukan. Bahkan ketika disinggung sudah melakukan tabayun pun Pedri menganggap hal tersebut tidak diperlukan.

“Menurut saya tidak perlu hal itu dipersoalkan. Saya juga tidak memiliki akses langsung ke Pak Ahok,” jawabnya

Hal ini tentu saja dibantah oleh Sirra karena Ahok bisa ditemui setiap pagi pada jam kerja di Balai Kota. Persoalan apakah Pedri melakukan peringatan atau klarifikasi kepada Ahok menurut saya pantas dipertanyakan, apalagi Pedri membawa nama Muhammadiyah, organisasi Islam modern dan berpendidikan. Sudah seharusnya mengedepankan cara-cara dialog dan diskusi, bukan langsung melaporkan tanpa mencari tahu kebenarannya.

Pernyataan Pedri tidak perlu dilakukannya tabayun dalam kasus Ahok mengingatkan saya apa yang terjadi pada KH Ahmad Mustofa Bisri ketika menghadapi 3 pemuda yang melakukan hinaan kepadanya. Gus Mus yang pada saat itu menyatakan pelaksanaan salat Jumat di jalan raya termasuk hal bidah, mendapat serangan di media sosial dan dihina. Gus Mus yang bertemu dengan 3 pemuda tersebut, Pandu Wijaya, Bahtiar Prasohjo, dan Hasan, memberikan sebuah pesan penting.

“jangan mudah tergiur dengan tampilan-tampilan menarik, biasakan tabayun dan meniliti rekam-jejak,” Katanya.

Hal ini juga kembali disampaikan Gus Mus saat menerima kunjungan Prof HM. Quraish Shihab, Sabtu (24/12). Gus Mus yang teringat bagaimana Pak Quraish pernah menghadapi fitnah yang kejam, kembali menyatakan pentingnya tabayun.

“Aku gagal paham mengapa ada orang yang mengaku muslim sengaja mengedit dan memlesetkan ucapan orang alim yang sedang menjelaskan hadis Rasulullah SAW dan ada orang-orang yang mengaku umat Muhammad menyebarkan fitnah keji begitu tanpa tabayyun dan konfirmasi,” ucap Gus Mus.

Menurut saya salah satu hal yang tidak dilakukan oleh para saksi pelapor dan itu merupakan unsur yang sangat penting adalah tabayyun. Apalagi yang dipermasalahkan adalah persoalan agama yang sangat membutuhkan tabayyun. Sayangnya, hal penting itu tidak dilakukan dan langsung membawa dalam perkara hukum. Padahal tabayyun sendiri adalah kewajiban yang harus dilakukan umat muslim untuk memahami sesuatu dengan benar.

“Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.
[al-Hujurât/49:6].

Sangat menyedihkan jika seorang Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah meremehkn tabayun dan menganggapnya tidak perlu dilakukan dalam kasus Ahok ini. Meski organisasi otonom, nama besar Muhammadiyah juga ikut terseret dalam kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok ini. Bayangkan jika ternyata suatu yang bahaya menimpa Ahok karena ddasar kebodohan akibat tidak melakukan tabayyun?? Apakah Pebri yang membawa nama Muhammadiyah siap bertanggung jawab??

Sekali lagi saya sangat menyayangkan pernyataan Pedri ini. Semoga ke depan oknum yang menjadi pengurus dalam organisasi Muhammadiyah sungguh-sungguh membawa nama besar Muhammadiyah dengan baik. Tidak perlu meniru tindakan kubu onoh yang tidak pernah mengedepankan tabayyun, melainkan emosi dan kebencian.

Salam Tabayyun.

Share.

About Author

Tidak Bisa Diam Kalau NKRI dan PANCASILA serta Keadilan dipermainkan.. Yang mau WA2an boleh ke 0895327271099

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage