Klarifikasi Warga Kepulauan Seribu: Tidak Ada Penistaan Agama!!!

Klarifikasi Warga Kepulauan Seribu: Tidak Ada Penistaan Agama!!!

70

Di sidang keempat kasus dugaan penistaan agama kemarin, Novel Bamukmin mengatakan bahwa sore hari (setelah Ahok menyampaikan pidato di Kepulauan Seribu) tanggal 27 September banyak orang Kepulauan Seribu yang menelpon dia, memberitahukan bahwa Ahok telah menista agama. Saat ditanya siapa yang menelpon? Novel hanya menjawab, sudah saya hapus nomornya.

Tak hanya Novel Bamukmin, Habib Muchsin juga memberikan keterangan yang hampir mirip. Ia menerima banyak telpon dan sms dari warga Kepulauan Seribu yang memberitahukan bahwa Ahok telah menista. Sayangnya, bukti percakapan berupa sms tersebut telah dihapus dengan alasan bikin hp lemot. Bahkan, kata Habib Muchsin, chat dan sms perharinya bisa sampai 2000-an.

Dari keterangan dua saksi pelapor ini menggambarkan bahwa Ahok memang benar-benar menista agama dengan adanya peran aktif warga melapor ke dua tokoh FPI ini. Keterangan ini perlu ditelusuri, sebab kedua saksi pelapor ini hanya mendapat kabar bukan melihat langsung kejadiannya. Itupun kalau benar ada yang mengabari dari warga disana.

Hari ini. Ada peristiwa yang sangat mengejutkan. Ini akan menjadi penjelas apa yang sebenarnya terjadi setelah Ahok menyampaikan ceramah di Kepulauan Seribu. Apakah benar warga disana melapor kepada para petinggi FPI bahwa Ahok menista Islam? Atau, keterangan itu hanya dibuat-buat oleh dua orang petinggi FPI saat menjadi saksi pelapor dalam sidang lanjutan kasus Ahok?

Hari ini. Sejumlah warga Kepulauan Seribu mendatangi Rumah Lembang Jakarta untuk bertemu dengan Ahok. Salah seorang warga itu adalah Abdi Yaman, yang dibawa oleh kakak angkat Ahok, Andi Analta Amir.

Di Rumah Lembang, Abdi mengaku bingung saat Ahok disebut menistakan agama. Bukan hanya dia, semua warga KeKepulauanan Seribu yang mendengarkan pidato Ahok juga merasakan hal yang sama. Tidak ada penistaan agama disana.

Pernyataan ini menjawab semua kebohongan yang dibuat oleh dua saksi pelapor itu. Tidak ada ribut-ribut penistaan agama disana. Kalau memang ada dan mereka melapor tentu sudah ramai. Toh, yang namanya masyarakat Kepulauan luas wilayahnya itu-itu aja. Suatu kabar akan cepat beredar disana. Tanpa perlu nonton televisi atau mengikuti media sosial. Itu sudah karakter masyarakat Kepulauan.

Kata Abdi kepada Ahok, “Terkait pernyataan Ahok yang dibilang menistakan agama, saya bingung, warga Kepulauan Seribu. Kami bingung di mana yang menistakannya.”

Malah Abdi meyakinkan Ahok juga orang yang hadir di Rumah Lembang, “Jika masyarakat Kepulauan Seribu menilai ada penistaan agama, tentunya Ahok tidak akan bisa kembali ke Jakarta. 99 persen penduduk Kepulauan Seribu beragama Islam. Jadi tidak mungkin mereka tidak mengerti agama.”

Abdi juga menyebut tidak ada warga Kepulauan Seribu yang ikut demo Bela Islam. Alasannya, warga Kepulauan Seribu bingung Ahok disebut melakukan penistaan agama, tapi statement mana dari Ahok yang menistakan agama.

Kebusukan dari apa yang mereka sebut aksi Bela Islam sudah tersingkap. Kebohongan yang mereka ungkap dalam kesaksian di pengadilan adalah kesaksian palsu. Padahal, dua orang ini katanya Habib, keturunan Rasululah saw yang dicintai. Tapi, mengapa mereka dengan mudah memberikan kesaksian palsu di pengadilan?

Padahal Quran mengatakan, “…dan Jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30). Bahkan para ulama menyejajarkan pelaku saksi palsu dengan pelaku kemusyrikan. Pelaku kemusyrikan sendiri adalah dosa paling besar dan tidak diampuni oleh Allah. Mengapa dua petinggi FPI yang mengaku sebagai Habib ini dapat dengan mudahnya membuat kesaksian palsu? Katanya, mereka bela agama, bela Islam. Agama yang mana, Islam yang mana yang mereka bela? Kalau mereka sendiri telah melakukan sebuah dosa besar yang dilarang Quran, dengan memberikan kesaksian palsu?

Pantas saja, orang-orang Islam di Kepulauan Seribu dikatakan imannya kurang, karena mereka tidak ikut demo bela Islam. Mereka tidak memberikan keterangan atau kesaksian bahwa Ahok telah menista agama Islam. Itu artinya, orang-orang di Kepulauan Seribu juga tak satupun yang menelpon atau me-sms para petinggi FPI tersebut.

Lagian. Memangnya, orang-orang Kepulauan Seribu kenal dengan para petinggi FPI? Dapat dari mana mereka nomor para petinggi FPI tersebut? Bahkan, dikatakan, bisa sampai 2000 chat dan sms. Ini bukan lagi bohong, tapi combo bohong ekstra dusta. Hanya Allah yang Maha Tahu dosa mereka dibalas dengan apa nanti? Baik di dunia, maupun di akhirat.

Yang saya sayangkan. Dua saksi yang mengaku keturunan Rasul ini tanpa malu-malu bohong. Saat orang lain menilai malah orang tersebut disalahkan. Bahkan, Ahok pun akan dilaporkan kembali atas kasus Fitsa Hats. Padahal sudah jelas, Novel Bamukmin yang salah. Tapi, yang namanya kaum berdaster garis cinkrang tentunya tidak mau disalahkan, sesalah apapun mereka. Sebab, kunci surga ada di tangan mereka.

Saya rasa, begitulah kura-kura

sumber bacaan: https://news.detik.com/berita/d-3388174/warga-kepulauan-seribu-ini-bingung-ahok-dituding-menista-agama

Share.

About Author

Tukang Dakwah, Tukang Mikir, Pakar Ra(i)sa, Spesialis agak-agak, WA: +6285217877894

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat menghubungi:

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage