Layakkah Anies Baswedan Di sebut Akademisi

Layakkah Anies Baswedan Di sebut Akademisi

10

Halo Pembaca Seword yang budiman, berita terbaru yang ada di medsos salah satunya adalah kunjungan paslon nomor satu Anies Baswedan ke sebuah acara yang di adakan oleh FPI.

Seperti kita ketahui bersama FPI adalah salah satu Ormas yang konsisten berjuang menegakkan keyakinannya dengan jalan yang Radikal. Hebat juga ormas ini menggunakan cara-cara yang Out of the box.

Sebagian besar orang biasa yang hidup di Indonesia sepakat berpendapat kalau memobilisasi massa hanya untuk keperluan tertentu seperti demonstrasi, mengantar jenazah ke pemakaman, dan acara-acara parade/karnaval pawai.

Sehingga orang-orang biasa ini kadang tidak sepaham dengan aksi-aksi mobilisasi massa untuk kepentingan di luar kebiasaan itu. Sehingga hal ini membuat ormas ini dan ormas lain yang sepaham kurang diminati sebagai ormas yang eye catching untuk disandang.

Bahkan orang-orang yang luar biasa yang biasa kita sebut sebagai politisi ramai-ramai mendapatkan gejala alergi dengan kelompok orang/ormas-ormas yang radikal,atau bisa kita sebut, Homo Fenthungicus.

Namun entah apa yang ada dalam benak seorang Anies Baswedan yang secara terang-terangan mendatangi acara pengajian bulanan Front Pembela Islam di petamburan.

AHY yang terindikasi kuat didukung oleh kelompok Homo Fenthungicus ini saja sampai melakukan press release untuk meng-counter indikasi kedekatannya.

Walaupun efek elektoral dari move Anies ini belum teruji kebenarannya, namun dia berani menerjangnya penuh dengan keyakinan. Bahkan sempat memberikan pidatonya pada kesempatan itu.[ https://web.facebook.com/FanpageFPI/posts/1330487143681429:0    ]

Penulis tidak memvonis kunjungan Anies ke ormas itu adalah hal yang dilarang atau haram, namun perlu kita ketahui bahwa ormas ini yang menjadi pusat kontroversi aksi-aksi intoleran yang berlawanan dengan konsep dasar negara. Juga secara terang-terangan menyampaikan banyak ujaran kebencian kesemua orang termasuk ke wilayah pemerintahan yang kita sadari sebagai simbol negara.

Seharusnya Anies sebagai mantan Rektor suatu universitas dan seorang akademisi untuk lebih banyak mempertimbangkan keputusan ini sebelum dilaksanakan. Hal ini dikarenakan sebagai seorang guru atau pembimbing seluruh perilaku dan ucapannya akan mempengaruhi anak didiknya dan kepada publik luas.

Anies seharusnya bisa menjaga harga diri dan martabat atau bisa disebut marwah seorang akademisi. Kunjungan ke ormas ini seakan-akan bisa di nilai sebagai bentuk dukungan seorang guru/akademisi yang secara ilmiah membenarkan aksi-aksi yang meresahkan selama ini. Ini yang fatal menurut penulis.

Bahkan dalam kunjungannya Anies sempat memberikan kajian seorang akademisi tentang materi pelajaran di situ,

“Sayapun hari ini kaget, FPI gambarannya beda dengan yang diberitakan media, bahkan disini saya lihat materi belajarnya berat betul. Membahas materi yang seharusnya untuk Mahasiswa S-2 “.

“Karena materi yang diberikan oleh Dr. Abdul Chair tadi 12 halaman, jadi tentu isi papernya itu sangat kuat dan sangat sulit untuk dibantah”.[Penulis mengambil dari fanspage Front Pembela Islam]

Anies juga sempat memberikan pembenaran akan jumlah peserta aksi 212 kemaren yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan publik akan kuantitasnya tanpa suatu kajian ilmiah apapun.

“Dunia terkejut pada aksi 212 kok bisa 7,8 juta orang berkumpul dan marah, iya mereka semua dalam keadaan marah, tapi tidak meninggalkan kekerasan, apalagi meninggalkan sampah.”

Hal inilah yang penulis maksudkan tentang ketidaksetujuan penulis atas apa yang dilakukan seorang Anies Baswedan. Disamping memberikan kajian akademisi dan juga memberikan suatu dukungan terhadap teory penjumlahan massa yang sampai saat ini masih diperdebatkan.

 Lain lagi apabila Anies memang sudah menanggalkan predikat akademisinya dan beralih sebagai seorang politisi. Maka move ini penulis nilai sah dan halal dilakukan oleh Anies Baswedan, karena seorang politisi itu sah saja mengatakan apapun sekalipun berbohong dan memutar balikan fakta.

 Dan kalau sudah begini penulis serahkan pembaca untuk , menilai seorang Anies Baswedan.

 Penulis akan memberikan suatu analisa tentang kemunculan Anies Baswedan sebagai paslon Cagub yang di usung oleh Partai Gerindra. Ada sebuah artikel yang penulis buat yang menyentil kajian tentang seorang Anies Baswedan yang mantan Menteri dan mantan Capres, tetapi sekarang rela men-downgrade-kan dirinya untuk berebut kursi Kepala Daerah tingkat I.

 Namun dikarenakan artikel itu dimuat dengan pembahasan yang lain maka penulis tidak menyertakan analisanya.

 Selama ini kita ketahui sepak terjang Anies Baswedan di dunia perpolitikan Indonesia meningkat secara signifikan setelah dia maju menjadi balon Presiden 2014. Walaupun gagal diusung oleh parpol manapun, tetapi Anies berhasil merapat ke kubu Jokowi sebagai jubir pen-capres-an Jokowi-JK.

 Dengan terpilihnya Jokowi menjadi Presiden maka, Anies mendapat imbalan jabatan yang penulis rasa sangat cocok dengan keahliannya yaitu sebagai Menteri Pendidikan. Namun entah kenapa akhirnya jabatan itu dicopot dan digantikan.

 Penulis juga sempat terharu melihat Anies menangis ketika menyampaikan pidato perpisahan ke jajaran kementriannya. Namun setelah melihat sepak terjangnya dalam kampanye Pilgub ini Anies seperti melakukan hal yang diluar nalar dan akal sehat seorang akademisi Anies,giliran penulis yang menangisinya.

 Tetapi penulis tetap yakin dengan intelegensia dan kecerdasan Anies dalam memutuskan maju dalam pencalonan Gubernur jakarta ini dengan kesepakatan diusung oleh Prabowo bersama Partai Gerindranya.

 Kita bisa melihat bahwa posisi strategis Gubernur jakarta sebagai ibukota adalah jalan masuk menuju Pilpres setelah keberhasilan seorang Jokowi. Dan sepertinya Anies melihat peluang ini.

 Penulis analisa pasti ada semacam deal-deal politik antara Anies-Prabowo untuk kelanjutan kesepakatan ini. Analisanya adalah apabila Anies Baswedan berhasil menduduki DKI 1, akan dilanjutkan dengan pencalonannya pada 2019 bersama Prabowo melawan petahana Jokowi.

 Sedangkan Sandyaga Uno cukuplah mengulang peran Ahok di 2014.

 Maka dari itu sekarang sasaran serangan Anies Baswedan dalam pertarungan Pilgub Jakarta ini lebih fokus ke kubu AHY. Hal ini dirasakan lebih realistis untuk memprediksi Pilgub aka dilaksanakan dalam dua putaran.

 Walaupun kubu Ahok sekarang ini terus dilemahkan dengan kasus peradilan, namun sepertinya kubu Anies tidak mau berlaku ayal untuk head to head dengan Ahok pada putaran pertama. Karena selain Ahok sendiri sudah mempunyai massa militan, ditambah denga partai pengusung PDIP yang dikenal selama ini mempunyai massa yang terkristalisasi.

 Tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat perpecahan internal dalam kubu partai banteng ini, tetapi penulis kira peran Megawati mampu menyatukan massa arus bawah partainya.

 Akhir kata, kita kadang dihadapkan pada kenyataan yang membuat kita kecewa. Kenyataan bahwa seseorang yang berpredikat terhormat yang sangat kita hargai berubah mengecewakan. Ulama, Ustadz, Hakim, Akademisi dan lain sebagainya adalah predikat terhormat pada manusia, tetapi hal itu akan hilang gugur semuanya di Mata Allah SWT, karena hanya perilaku Iman dan ketakwaannya yang akan dilihat.

 Maka dari itu janganlah di kaburkan oleh predikat jabatan, pencitraan karakter dan retorika pembicaraan dalam menilai seseorang, nilai lah dari fakta-fakta rekam jejak perbuatan yang telah di produksinya. Karena hasil buah tangan seseorang adalah fakta, sedangkan hasil perkataan seseorang hanyalah alat yang dipergunakan untuk mencapai maksud dan tujuannya.

 Demikianlah Kura Kura pendapat saya yang mulai bosan ber Pura Pura memahami permasalahan bangsa ini…Wassalam.

 

 

 

 

 

Share.

About Author

Just Aji...cuma itu tanpa tambahan apapun

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage