Mas Anies: Jangan Bunuh Diri dengan Jualan Reklamasi

Mas Anies: Jangan Bunuh Diri dengan Jualan Reklamasi

19

Mas Anies yang santun dan baik hati. Saya tahu anda kini bukan lagi seorang akademisi. Kini, anda adalah seorang politisi. Sebagai akademisi, dulu anda punya idealisme. Kini, anda seorang politisi yang punya ambisi. Kita tak perlu berbicara lagi tentang idealisme bukan?

Mas Anies. Belum lama ini, anda berkunjung ke markas FPI. Tentu, ini menimbulkan reaksi di masyarakat. Ada yang menghujat anda. Ada yang mendukung sikap anda. Kami tahu anda kini politisi. Keputusan anda bukan lagi tentang idealisme seorang akademisi, tapi tentang bagaimana mendapat simpati.

Di markas FPI anda sempat mengklarifikasi. Bahwa anda bukanlah Syiah maupun JIL. Klarifikasi ini tentu penting. Tentu anda berharap dengan klarifikasi ini FPI dapat memberi dukungannya kepada anda. Minimal, di media sosial, akun resmi FPI melaporkan ke publik kedatangan anda. Ternyata, memang ada. Di Twitter, akun FPI sempat membuat Kultwit tentang kedatangan anda juga apa yang anda sampaikan.

Lumayan bukan Mas Anies? Setidaknya, predikat “pemimpin muslim” tulen telah anda dapat. Meski tak se-spesial Mas Agus dukungan FPInya, minimal anda pantas dipilih sebagai pemimpin jika dihadapkan pada Al-Maidah ayat 51.

Menggandeng FPI untuk mendapat suara muslim itu cara yang halal. Sebab, tak ada dalil yang mengharamkannya Mas Anies. MUI pun takkan pernah berani keluarkan fatwa tentang FPI, meski Habib Rizieq telah menista agama manapun. Bahkan, Aa Gym pun takkan mampu menceramahi Habib Rizieq agar menjaga lisannya.

Yang saya sayangkan dari kedatangan Mas Anies ke markaz FPI adalah saat anda jualan reklamasi kepada FPI. Apakah ini untuk menarik simpati FPI? Sebab, FPI sangat menentang reklamasi teluk Jakarta. Katanya, reklamasi hanya menguntungkan para cukong. Namun, Bib Rizieq pernah saya lihat sedang berfoto mesra dengan cukong “klan” Tommy Winata, pihak di balik reklamasi Teluk Benoa.

Saat anda menjelaskan tentang reklamasi, kabarnya, gemuruh takbir menggema dari para jamaah yang hadir. Katanya pula (dari Kultwit akun resmi FPI) jika jadi Gubernur, reklamasi akan dihentikan. Walaupun anda tahu resikonya sangat besar. Pulau reklamasi yang sudah terlanjur dibangun akan digunakan untuk publik. Dan dilarang untuk kepentingan komersil.

Membaca penjelasan ini saya cuma katakan kepada Mas Anies: Jangan bunuh diri Mas! Penjelasan anda menunjukkan anda tidak ngerti apa-apa tentang reklamasi teluk Jakarta. Atau, anda ngerti tapi ini hanya bermain retorika agar mendapat simpati FPI. Mas Anies kan jago retorika. Manis di lisan yang belum tentu terwujudkan.

Tapi. Kalau saya lihat dari spanduk-spanduk pinggir jalan, memang jualannya Mas Anies adalah “stop reklamasi”. Kalau ini memang bukan retorika, tapi komitmen anda sebagai Gubernur kalau terpilih nanti. Baiklah. Saya akan pastikan Mas Anies mempersiapkan kuburannya sendiri.

Saya ingin menanyakan ke Mas Anies, mengapa reklamasi harus dihentikan? Jawaban yang saya temukan dari pernyataan Mas Anies saat kampanye adalah: Reklamasi dapat membahayakan kesejahteraan nelayan juga dapat merusak lingkungan sekitarnya.

Pertama. Reklamasi ini ada undang-undangnya Mas. Keppres lagi. Berarti proyek reklamasi ini proyeknya Pemerintah Pusat. Dan reklamasi hanyalah bagian kecil Mega proyek yang bernama PTPIN atau Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara. Mega proyek ini diperkirakan selesai tahun 2050.

Untuk apa proyek semacam PTPIN ini? Untuk level Ibukota, tata kelolanya tidak boleh sembarangan. Apalagi daerah pesisir yang paling dekat dengan laut. Banjir dari darat (Bogor dan Depok) mungkin bisa diatasi dengan normalisasi sungai. Tapi, banjir dari laut (air pasang)? Ini penting untuk generasi berikutnya setelah kita.

Apalagi. Menurut kajian pemerintah Belanda, pada tahun 2030 tanah di Jakarta Utara hanya berjarak 5 meter dari laut. Ini disebabkan karena penurunan tanah di Jakarta yang tiap tahunnya berkisar 10 cm. Bulan Juni tahun lalu, Jakarta dikagetkan dengan banjir rob di Muara Baru. Kejadian ini merupakan sinyal yang harus segera ditindaklanjuti.

Apa? Buat tanggul? Tanggul digunakan hanya untuk jangka pendek. Sebab, penurunan tanah tak bisa dihindari. Setinggi apapun tanggul dibuat ombok dari laut tetap akan menghantam. Inilah mengapa reklamasi teluk Jakarta dijadikan sebagai “master plan” pembangunan di Jakarta ke depannya.

Sekarang. Saya mau membahas alasan Mas Anies menjual “stop reklamasi” dalam kampanyenya. Alasan pertama Mas Anies adalah reklamasi dapat membahayakan kesejahteraan nelayan. Itu artinya penghidupan nelayan jadi terganggu karena reklamasi menghilangkan daerah tempat memancing mereka.

Yang ingin saya tanyakan adalah: Yang dimaksud dengan nelayan itu apa? Apakah orang-orang yang suka mancing di sekitar pantai dengan menggunakan “joran” disebut nelayan juga? Ya, kalau memancing di pinggir pantai tentu susah dapat ikan. Karena, memang daerah pinggir pantai Jakarta sudah terkontaminasi limbah. Daerah tersebut memang bukan tempat berkumpulnya ikan.

Dari “Peta Aktivitas Perikanan Teluk Jakarta”, daerah yang dijadikan “spot” untuk nelayan memancing berada 10 mil dari pantai. Tidak ada nelayan yang mancing di sekitar pantai. Kalaupun ada itu cuma orang yang lagi piknik, mancing buat hiburan aja. Bukan buat cari nafkah. Kalau fishing spot dikatakan cuma berjarak satu kilometer dari pantai, sepertinya cuma ada di Raja Ampat. Bukan di Jakarta.

Mereka yang memang nelayan beneran yang sudah bertahun-tahun melaut, tentu akan memancing di tempat-tempat yang jauh. Jadi. Ada tidaknya reklamasi, daerah sekitar pantai atau teluk Jakarta memang sudah terkontaminasi. Tidak ada lagi nelayan yang mancing disana. Mereka akan tetap memancing sejauh 10 mil dari pantai, ada atau tidaknya reklamasi.

Dan masalah nelayan, bukan hanya sekedar ikan. Masalah lain seperti tempat tinggal, pendidikan, gizi, dan lain sebagainya harus diperhatikan juga. Sebab, ikan ini kan ada musimnya. Tidak tiap hari atau tiap bulan ikan akan terus ada. Belum masalah cuaca. Jadi, masalah nelayan bukan hanya masalah ikan.

Melalui proyek reklamasi, Ahok sudah katakan bahwa pemerintah dapat 3 persen lahan di pulau reklamasi. Rencananya akan dibangun rusun untuk pekerja kecil dan nelayan di sekitar pulau. Lumayan 3 persen. Jika luas Pulau G adalah 161 hektar, lahan untuk pemerintah hampir 5 hektar. Jadi, siapa yang diuntungkan dari proyek reklamasi ini? Apakah Mas Anies cuma melihat ke ikan? Padahal, nelayan juga sama dengan warga di kota, punya permasalahan yang rumit gak cuma masalah perut.

Lalu. Dikatakan bahwa reklamasi merusak lingkungan sekitarnya. Mas Anies, perlu diketahui bahwa reklamasi teluk Jakarta beda dengan teluk Benoa. Teluk Jakarta memang sudah rusak terumbu karangnya. Ada atau tidaknya reklamasi daerah pesisir teluk Jakarta ini memang sudah tak tertolong dari limbah yang berasal dari kota.

Ada satu riset yang dilakukan oleh seorang Guru Besar Teknik Kelautan ITB, Prof. Ir. Hang Tuah Salim M. ocE, Phd. Riset ini menggunakan 4 pendekatan: Topografi dan Batimetri, Hidrooseanografi, Hidrologi dan Hidrodinamika. Saya sendiri tak terlalu paham istilah-istilah ini Mas Anies. Dan sepertinya, politisi seperti anda tak merasa penting masalah ini bukan?

Lima kesimpulan dari tim ITB ini adalah: Pertama, evalasi muka air banjir relatif tidak naik. Kedua, tinggi gelombang dipantai turun. Ketiga, pulau reklamasi menjadi pemecah ombak terhadap pelabuhan ikan muara angke. Keempat, kecepatan arus air laut meningkat di kanal vertikal dan horizontal. Kelima, sedimentasi di water intake berkurang. Riset ini menyimpulkan bahwa reklamasi teluk Jakarta aman dan tidak merusak lingkungan.

Kesimpulan saya: Tidak ada alasan yang kuat baik secara hukum maupun fakta di lapangan untuk menghentikan proyek reklamasi teluk Jakarta.

Saya rasa, begitulah kura-kura.

Share.

About Author

~cuma buih yang hendak berbagi secuil makna~

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage