Memahami Hubungan Jokowi dan Megawati

Memahami Hubungan Jokowi dan Megawati

34

Halo Pembaca Seword yang budiman, lucu juga melihat hubungan anak dan ibu antara Jokowi dan ibu suri Megawati. Kadang dikesankan jauh tapi sering terlihat dekat bahkan sangat dekat seperti mempunyai hubungan darah keduanya.

Dan uniknya hal itu terjadi setiap kali pada perhelatan acara-acara kepartaian yang diadakan oleh PDIP. Sempat beredar kabar akan murtadnya seorang Jokowi kepada sang bunda ketika merebak isu Jokowi akan muncul menggantikan posisi Ketua Umum partai.

Namun penulis sangat paham “he is not a kind man like that”, dan Jokowi adalah murni seorang kader partai yang menjunjung tinggi profesionalisme jabatan/pekerjaan/amanah yang disandangkannya.

Naik turunnya kemesraan di antara keduanya benar-benar mengesankan hubungan suatu keluarga pada umumnya, tanpa basa basi, kadang terjadi friksi namun saling mendukung dan selalu hadir setiap kali dibutuhkan serta ada ketika kesulitan datang menimpa. Itulah keluarga.

Banyak kita lihat hubungan pada keluarga-keluarga lain yang hanya berdasarkan kepentingan dan momentum sesaat. Ciri-cirinya pun berkebalikan, penuh basa-basi dengan saling berpelukan dan berciuman ‘sesama jenis’ ketika bertemu, saling mendukung ketika membuat pernyataan bohong, selalu hadir setiap kali ada proyek korupsi serta saling meninggalkan ketika ada yang dipanggil KPK.

Bahkan sampai ada yang ekstrim mau bertemu setelah salah satunya sudah menutupkan mata untuk selama-lamanya.

Jelaslah ini pola kehidupan kekeluargaan yang sangat amat tidak sehat dan ideal. Idealnya orang bertemu itu adalah saling berinteraksi saling melihat penuh dengan kerinduan dan rasa kasih, namun apalah artinya jika pertemuan itu terjadi secara mono (satu arah) bukan stereo (dua arah) dikarenakan salah satunya dalam kondisi menjadi mayat. Miris hati penulis melihat kenyataan itu.

Pada acara HUT PDIP hari ini, kita dipertontonkan sebuah kenyataan keluarga yang sebenarnya. Bertemunya Megawati dan Jokowi ini menjadi sarat makna, penuh arti dan sekaligus meneguhkan kekuatan kekeluargaan dalam artian sebenarnya.

Penulis sering mengamati tingkah laku seorang Jokowi ketika setiap kali bertemu dengan ibu suri Megawati. Jokowi dengan karakter yang tenang penuh percaya diri dengan sedikit kesan ‘woles’ dalam setiap tutur katanya itu serta merta akan hilang ketika ketemu sang ibu suri Megawati.

Kegugupan dalam wicara, kesantunan seorang anak dengan gesture merendahkan posisi tubuh dan kesan manja dalam setiap senyuman maupun gumamannya.

Kesan ini begitu natural, spontan dan tiada kesan dibuat-buat. Begitu pula seorang Megawati selalu dalam posisi seorang ibu yang secara detil selalu mengamati dan memperhatikan kondisi anaknya dan melindungi, mengayomi keselamatan serta kesehatan bahkan kepentingan nya.

Hal ini dibuktikan dengan pernyataan keras Megawati pada pidato politiknya, selama ini kita ketahui bahwa seorang Megawati adalah sosok politikus yang tegas tapi anti kekerasan.

Namun pada pidato politiknya kali ini Megawati secara implisit membuka kekuatan Banteng yang selama ini tertidur. Dengan narasi awal kasus pengeroyokan seorang Timses paslon yang didukung PDIP yang kebetulan juga seorang pengurus struktural partai dan diakhiri dengan dukungan penuh jiwa keluarga besar PDIP, Megawati seolah-olah membakar emosi para kader partai seluruh Indonesia.

Tentunya ini suatu bentuk intimidasi dan warning keras bagi pihak-pihak yang melakukan pengeroyokan dan kepada pihak-pihak yang akan menggoyang kepemimpinan Jokowi dan Jusuf Kalla.

Ditambah lagi penekanan pernyataan bahwa anak-anak PDIP adalah anak-anak yang nakal dalam gaya komunikasi candaan khas seorang megawati.

Bentuk pernyataan keberanian penyerahan jiwa dan raga dalam melindungi kepemimpinan Jokowi-JK dalam scub kecil dan kepada bangsa dan negara dalam scub yang lebih luas ini memaknai genderang perang kepada anasir-anasir pihak yang dimaksud.

Dan apabila hal ini terjadi, penulis tidak bisa membayangkan bagaimana nasib pihak-pihak yang dimaksud.

Seperti kita ketahui bahwa stigma kader PDIP sejak era PDI ini terkenal sebagai massa kader yang beringas, militan dan mempunyai kecenderungan melakukan kekerasan pada masa nya. Dan itu benar adanya.

Sebagai organisasi sosial partai politik selain Golkar, hanyalah PDIP yang mampu mempertahankan militansi para kadernya. Ini terlihat dengan perolehan suara pada pemilu-pemilu setelah masa reformasi yang selalu pada kisaran 17% – 19%.

Mereka ini pada umumnya adalah alumni-alumni tragedi kerusuhan 21-juli-1997, yang benar-benar memberikan pengorbanan jiwa dan raganya secara harfiah kepada ideology dan partai nya.

Dan kekuatan itu sampai saat ini hanya tunduk dengan perintah Megawati.

Bayangkan saja apabila massa PDIP yang berkekuatan 23 juta dan tersebar di seluruh Indonesia secara bersama-sama bergerak memerangi pihak-pihak yang dimaksud, bisa dibayangkan kekacauan yang terjadi di negeri ini.

Dengan kekuatan struktural yang tersebar dari tingkat propinsi, kabupaten-kota, kecamatan, kelurahan bahkan sampai di setiap RW setiap sel-sel partai akan secara cepat berkoordinasi mengumpulkan kekuatan bergerak bersama dan pastinya tanpa perlu adanya biaya sedikitpun yang dikeluarkan.

Pidato politik kali ini juga secara lugas menyatakan dukungan penuh untuk menjawab isu-isu yang sengaja dihembuskan lawan politik guna memecah kekuatan riil politik Jokowi selama ini.

Isu penggembosan kader partai lewat keluarnya seorang Boy Sadikin dan beralihkan dukungan ke paslon lain dengan membawa gerbong pengikut kader partai yang selama ini selalu dihembuskan seolah-olah mengalami ejakulasi dini digilas pernyataan politik Megawati.

Penulis melihat hal ini sebagai kedekatan riil sebenarnya antara Megawati (PDIP) dengan Jokowi selaku kader partainya.

Tanpa perlu secara prematur ikut-ikutan memberikan pernyataan dukungan Jokowi pencapresan 2019, dunia politik sudah memahami kekuatan Jokowi sebenarnya dibalik kekalemannya, kewolesannya dan ke-ndeso-annya.

Akhir kata, kekuatan politik PDIP adalah militansi ideologis para kadernya. Ini adalah contoh partai fundamentalis ideology, namun ideology yang mereka usung adalah ideology bangsa yang digali oleh penemunya Bung Karno yang menjadi landasan perjuangan, landasan kehidupan, landasan pembangunan dan landasan keseluruhan sendi bangsa tanpa suatu paksaan apapun, karena landasan itulah yang selama ini kita jalani.

Jadi ini menjadi peringatan bagi pihak-pihak yang akhir-akhir ini mencoba menggoyangkan iman dan mengganti aqidah kebangsaan bangsa Indonesia yang beragam, Bhinneka Tunggal Ika.

Terimakasih Megawati Soekarnoputri.

Demikianlah Kura Kura, MERDEKA, MERDEKA, MERDEKA, MERDEKA.

Wassalam.

 

Share.

About Author

Just Aji...cuma itu tanpa tambahan apapun

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage