Membandingkan Antara Silent Majority Dengan Kumbakarna Dari Alengka

Membandingkan Antara Silent Majority Dengan Kumbakarna Dari Alengka

6

Kegaduhan yang terjadi di Negara kita akhir-akhir ini bukan karena banyaknya kaum intoleran dan kaum berandalan. Banyak yang berpikiran bahwa kaum intoleran dan berandalan jumlahnya sedikit, tidak sampai 10% dari penduduk negeri ini. Lalu, jika hanya sedemikian jumlahnya, mengapakah mampu membuat kegaduhan? Jawabnya karena yang sadar, yang waras atau yang normal hanya diam, hanya tidur dengan tenangnya, seolah-olah negerinya aman-aman saja. Rakyat yang waras namun hanya diam itu di kemudian waktu populer dengan kelompok Silent Majority.

Tulisan sangat pendek  ini hendak mencoba membuat sebuah perbandingan sederhana dengan salah satu cerita dalam epos legendaris, yaitu kisah  Ramayana. Salah satu cerita itu adalah saat Rahwana sedang terdesak dan kalang kabut menghadapi pasukan keranya Ramawijaya. Dalam kekalutan dan kekuatiran karena terdesak itu, Rahwana meminta bantuan adiknya, seorang raksasa yang lain bernama Kumbakarna.

Perlu diketahui bahwa Kumbakarna ini adalah anak nomor dua dari Resi Wisrawa dari istrinya yang bernama Dewi Sukesi. Dia anak yang lahir dari kegagalan Wisrawa menerangkan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Kumbakarna lahir bersama dengan dua saudaranya yang lain, Rahwana atau Dasamuka kakaknya dan Sarpakenaka, adiknya. Mereka terlahir karena luapan nafsu, namun diantara ketiganya, hanya Kumbakarna yang memiliki jiwa putih laksana ksatria sejati.

Karena tidak setuju dengan kebijakan Rahwana dalam menata serta memimpin kerajaan   Alengka warisan ayahnya, maka Kumbakarna memilih meninggalkan dunia politik Alengka. Kumbakarna memilih bertapa di pertapaan yang dinamakan Panglebur Gangsa, dengan cara tidur. Aneh memang cara bersemedi atau bertapa Kumbakarna ini, hanya tidur sepanjang waktu. Berbeda dengan adiknya yang terlahir dengan cinta kasih, yaitu Gunawan Wibisana. Adiknya ini meski berbeda dengan Rahwana namun berani bertarung kebijakan dengan kakaknya, sehingga dimusuhi dan  pada titik akhirnya diusir oleh Rahwana dan  bergabung dengan pasukan Ramawijaya.

Kembali ke soal tidurnya Kumbakarna dan cara Rahwana membangunkannya. Ini menarik karena inilah yang akan menjadi intik tulisan saya untuk menyadarkan kaum Silent Majority negara kita ini. Rahwana tidak memanggil sendiri Kumbakarna adiknya untuk bela negara, malainkan menyuruh atau mengutus Indrajid anaknya untuk membangunkan pamannya itu.

Tidak mudah bagi Indrajit membangunkan Kumbakarna. Diantara bingung karena kehabisan akal dan hampir putus asa membangunkan pamannya, Indrajit timbul ide, yaitu mencabut “bulu di ujung ibu jari” Kumbakarna. Benar, Indrajit kemudian mencabut bulu di ujung ibu jai kaki pamannya itu dan bangunlah Kumbakarna. Dalam narasi versi yang lain, suruhan Rahwana membisiki ke telinga Kumbakarna bahwa dua anaknya, yaitu Aswani Kumba dan Kumba Aswani telah binasa di medan laga.

Bukan mana yang benar soal  metode membangunkan Kumbakarna, namun poin pokoknya, yaitu menyentuh sisi paling sensitif Kumbakarna. Baik bulu di ujung ibu jari kaki dan anak-anak, keduanya adalah sisi sensitif manusia, dan saat disentuh apalagi dihentak, maka kaget dan bangunlah orang itu.

Mungkin jika Kumbakarna itu hidup di jaman sekarang maka ia akan disebut sebagai bagian dari Silent Majority. Kekuatan besar namun hanya diam. Persoalannya, negeri kita saat ini juga sedang menghadapi “gempuran para kera” yang ingin merusak Nusantara dengan segala keindahan keberagamannya.

Kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejatinya sedang dalam ancaman, dalam bahaya yang sangat besar dan berbahaya. Namun meskipun di tengah ancaman serta bahaya dan kondisinya sangat menguatirkan ini, Kumbakarna Nusantara atau namanya menjadi Silent Mojority itu belum bangun juga. Mereka (mungkin termasuk pembaca juga..hehe..jangan marah lho nanti dimarahi bibie rijik lho kalo marah) masih asyik dengan tidurnya yang nyenyak, tidurnya dan tempat pertapaanya yang teduh dan tidak mau tahu akan kegoncangan negeri.

Oleh karena itu, NKRI ini perlu metode untuk membangunkan Silent Majority ini dari tidurnya yang kelewat nyenyak.

Jika Kumbakarna disentuh sisi tersensitifnya, baik bulu  ujung ibu jari kaki ataupun berita matinya Aswani Kumba dan Kumba Aswani anaknya, maka Silent Majority NKRI ini juga butuh dicabut bulu kakinya atau dibisiki bahwa “anak cucu” diambang kehancuran.

Saya akan mencoba mencabut “Bulu Ibu Jari Kaki” “Kumbakarna” nusantara ini. Jika kalian semua, wahai kaum  Silent Majority hanya tertidur dan asyik dengan duniamu tanpa pernah rindu turun untuk “bela negara”, apakah kaliah ingin anak cucu kalian hidup dalam peperangan, hidup dalam kebencian, hidup dalam ketakutan, hidup dalam ketertindasan?

Apakah kalian semua  hanya diam saja saat negeri tercinta, tanah tumpah darah yang darinya kalian makan dan minum, tidur dan bertamasya dengan gembaira ini diacak-acak oleh paham dari seberang?

Terimakah kalian negri indah ini terkoyak dan bersimbah darah seperti Suriah itu? Terimakah kalian jika nantinya anak cucu kita tidak hidup dalam cinta namun dalam angkara serta dendam membara? Terimakah kalian jika dalam waktu dekat kalian akan melihat darah mengalir dari anak-anak di sekitar kita?

Jika tidak, segeralah bangun dan tunjukan cintamu untuk negara ini dengan cara kalian. Belajarlah dari Kumbakarna dalam epos Ramayana, yang iklas mati demi bakti kepada tanah tumpah darah. Jangan nantinya kalian ditertawakan alam ini karena keterpengecutan kalian sehingga enggan berbakti untuk negeri dengan melawan semua yang ingin merusak dan merampas tanah pertiwi. Jika kalian tetap diam saja dan bangga dengan gelar “Silent Majority”, seharusnya kalian malu menjadi penduduk negeri ini yang makan dari hasil tanah pertiwi dan minum dari air tanah nusantara.

Ayo..kaum silent majority, bangun..bangunlah..Ayo bangun dan terjun untuk bela negara!!!!!

 

Salam Nusantara Jaya

 

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Donasi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage