Membongkar Strategy Licin Eep S Fatah dan Kekalahan Ahok, its a Dangerous Game To Play !

Membongkar Strategy Licin Eep S Fatah dan Kekalahan Ahok, its a Dangerous Game To Play !

253

dari feardombook.com

Pertama sekali, tentu saya sampaikan selamat kepada Anies Baswedan – Sandiaga Uno, sebagai Gubernur Wakil Gubernur DKI terpilih periode 2017 – 2022.

Selamat pula kepada Basuki Tjahaya Purnama – H. Djarot Syaiful Hidayat, atas masa bakti dan pengabdian untuk masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang beraktivitas sehari hari di Jakarta. Hari hari tenang jauh dari hiruk pikuk politik sebentar lagi akan kalian nikmati.

Selesai putaran pertama kemarin, saya pernah menulis seperti ini

Ahok Kena Batunya ! (sekali lagi)

Silahkan ditengok sebentar sebagai prolog tulisan ini. Ini penting sebagai landasan tulisan ini selanjutnya. Saat  itu saya sudah punya feeling besar bahwa Ahok akan kalah kalo strategy nya tidak berubah, meskipun saya belum bisa memberikan input strategy macam apa yang harus diterapkan, karena untuk itu perlu mengerti dulu strategy apa yang dimainkan lawan dan saya tidak tahu. Tapi setelah kekalahan Ahok Djarot yang telak kemarin dan berpikir keras mencoba mensintesa apa yang saya ketahui dan alami selama ini maka saya memutuskan untuk menuliskan nya disini, sebagai bahan pelajaran, utamanya untuk kita semua, para pembaca tulisan ini, rakyat Indonesia sebagai pemilih.

Saya perlu ingatkan, tulisan ini adalah tulisan serius dan panjang, bagi yang merasa tidak memiliki waktu dan kapasitas sel otak cukup untuk membaca dan mencerna kata demi kata, kalimat lepas kalimat, sebaiknya tunda membaca ini sampai anda punya cukup waktu luang dan selesai mengupgrade kapasitas sel otak anda. Waktu luang sesungguhnya tidak sukar dicari, untuk mengupgrade kapasitas sel otak, mulailah dengan memahami kenyataan sederhana bahwa bumi itu bulat adanya meskipun bentuknya tak bulat sempurna.

EEP SAEFULLAH FATAH

Bungsu delapan bersaudara kelahiran Bekasi, 13 Nov tahun 1967, yang memperistri janda Rico Ceper mantan penyiar Metro TV, Sandrina Malakiano di tahun 2005 ini termasuk salah satu pihak yang dengan jitu dapat mengambil kesempatan dan keuntungan dari era demokratisasi pasca keruntuhan orde baru. Tangan dingin dan strategy licinnya meninggalkan jejak setidaknya di 4 pasangan berikut :

  • Joko Widodo – Basuki Tjahaya Purnama, Pilkada DKI 2012
  • Ahmad Heryawan – Deddy Mizwar, Pilkada Jabar 2013
  • Joko Widodo – Jusuf Kalla, Pilpres 2014
  • Anies Baswedan – Sandiaga Uno, Pilkada DKI 2017.

Mendirikan Polmark Indonesia di akhir tahun 2009 yang kemudian mendasari sikapnya mengundurkan diri sebagai Dosen PNS Universitas Indonesia beberapa bulan sesudahnya. Sejak itu penuh waktu mengelola Polmark Indonesia yang menurut website resminya www.polmarkindonesia.com memberikan layanan jasa konsultasi political marketing dari hulu ke hilir kepada para klien nya.

Mari kita garis bawahi kata POLITICAL MARKETING ini, karena ini adalah kunci kita untuk memahami strategy/jurus yang diterapkan Eep dan team nya selama ini dalam memuaskan keinginan para klien nya.

POLITICAL MARKETING

Political marketing is the process by which political candidates promote themselves and their platforms to voters through masterly-crafted communications aimed at gaining public support.

Secara sederhana, ini sebenarnya adalah teknik pemasaran untuk ide/kebijakan politik atau tokoh dalam menjadi laku dan paling banyak “dibeli” orang. Caranya bagaimana, sama halnya dengan cara cara marketing dalam dunia business biasa, hanya dengan penyesuaian di sana sini sedikit. Dalam hal ini Eep memang salah satu konsultan political marketing terhandal di Indonesia saat ini. Perhatikan gambar di bawah ini :

diambil dari Overview of Political Candidate Marketing, Philip Kotler

Secara konseptual nampak sama, namun perbedaannya juga kentara. Dalam business kita menjual produk yang nyata, ada, kelihatan, bisa dinikmati panca indera secara langsung (dilihat, dicecap, diraba, dicium, didengarkan). Dalam politik kita menjual konsep, seringkali belum/tidak bisa dinikmati panca indera secara langsung. Secara logika kita tahu, “menjual” sesuatu/barang yang tidak nyata lebih sukar daripada menjual produk yang ada, nyata dan bisa dirasakan. Kita bisa menyebar sample produk kita secara gratis kepada potential customer misalnya agar mereka merasakan kemudian akhirnya membeli. Namun bagaimana menjelaskan kekalahan Basuki Djarot yang sudah punya banyak karya nyata ? Sabar….sekali lagi ini tulisan serius, baca sampai habis !

Perbedaan kedua, dalam business kita tidak bisa/sulit sekali menjelekkan produk saingan untuk menjual produk kita, meskipun nyatanya ada juga cara seperti itu, disebut black campaign. Misal kita mau jualan odol X, lalu sebarkan berita bohong bahwa odol Y, saingan kita beracun dan tak sehat dikonsumsi, kalau sempat ketahuan kita yang menyebarkan itu, kita bisa dituntut dan dihukum berat. Tentu cara ini tetap bisa dilakukan, misal dalam bisnis restoran, kita market leader di kecamatan anu restoran ayam goreng X, tiba tiba tersebar isu bawah restoran kita bisa enak karena memakai pesugihan membuat orang enggan makan di restoran kita, ini susah dibuktikan tapi bisa dirasakan, lebih jelas apabila pada saat yang berdekatan dengan tersebarnya isu itu ada restoran ayam goreng baru yang buka di kecamatan anu juga dan merupakan direct competitor kita. Dalam politik, black campaign ini menjadi jauh lebih mudah, karena lebih sulit dihukum dan proses pembuktian apabila ada aduan butuh waktu panjang, sedangkan kontestasi politik biasanya singkat, masa kampanye dalam hitungan bulan saja.

Perbedaan ketiga, waktu. Kontestasi politik singkat, bisnis konvensional lama. Marketing politic bekerja bagaimana dalam waktu yang singkat bisa menjual sebanyak mungkin, sehingga strategy dan taktik yang dipakai akan cenderung jangka pendek tidak memperhitungkan jangka menengah apalagi panjang, meskipun jabatan politik di Indonesia adalah 5 tahunan. Ini yang kemudian mengakibatkan pembangunan terutama di negara yang baru belajar berdemokrasi seperti Indonesia susah untuk berkesinambungan. Karena saat pemenang terpilih dia menang menggunakan orientasi sesaat tidak memikirkan efek di kemudian hari. Bandingkan dengan misalnya Coca Cola, berapa lama yang dia butuhkan membangun brand Coca Cola, sebagai minuman yang menyegarkan dan membahagiakan. Coca Cola menggunakan teknik yang namanya assosiasi, sehingga setiap orang dengar kata Coca Cola itu yang terbayang rasa segar dan bahagia, ini butuh bertahun tahun.

Ada beberapa perbedaan lagi sebenarnya, to cut story short, saya batasi dulu 3 tadi yang saya anggap penting dan saling terkait dengan tulisan selanjutnya di bawah ini.

STRUKTUR OTAK MANUSIA

Josh Kaufman menguraikan ada tiga bagian otak manusia, fore brain – midbrain – hindbrain dalam bukunya The Personal MBA. Hindbrain, inti dari struktur otak, bertanggung jawab untuk membuat anda tetap hidup, disinilah terletak basic instinc manusia untuk survival, semacam otak primitif, mengatur denyut jantung, tidur, bangun, reflex, gerak otot, dan dorongan biologis. Disebut juga Lizard brain, karena ini dasar neurobiologis yang ditemukan juga di semua mahluk biologis pendahulu manusia dalam rentang evolusi termasuk reptilia dan ampibia. Diatas nya ada midbrain berfungsi untuk memproses data dari sensor panca indera kita, perasaan dan memory. Bagian otak ini terus menerus secara automatis melakukan prediksi apa yang akan terjadi selanjutnya dan mengirim info ini ke hindbrain yang sudah siap untuk memerintah tubuh kita memberi respon seketika. Diatas nya lagi lapisan lapisan tissue tipis, forebrain, bertanggung jawab untuk kemampuan kognitif kita yang membuat kita sebagai manusia berbeda dengan binatang. Kesadaran diri, pertimbangan, logika, pengendalian diri dan pengambilan keputusan. Inilah bagian otak yang terbaru, berevolusi untuk membantu kita sebagai manusia mengatasi ambiguitas.

Sebagian besar waktu, hindbrain dan midbrain kita lah yang mengontrol, manusia pada dasarnya hidup secara instingtif dan autopilot, barulah saat ada sesuatu yang kita hadapi tidak familiar, baru, asing, yang membuat midbrain kesulitan memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, forebrain kita ambil alih kendali. Contoh sederhana saat anda belajar naik sepeda/menyetir mobil, saat anda belajar, itu forebrain anda mayoritas bekerja, melakukan analisa, rasionalisasi bagaimana kayuhan kaki, pegangan tangan atau injakan gas, rem, pedal kopling dan pegangan tangan pada setir sesuai pas sehingga anda tidak jatuh atau menabrak. Setelah bisa, hindbrain dan midbrain anda yang bekerja. Anda seolah menyetir atau bersepeda tanpa berpikir. Padahal itu karena proses berpikir sudah anda lewati saat belajar dulu, sekarang pola koneksi midbrain dan hindbrain sudah terjalin, menyetir dan bersepeda menjadi instingtif, refleks belaka.

Ok, sampai disini saya kasih petunjuk sedikit. Timses Ahok bekerja menstimulasi forebrain rakyat DKI, sedangkan timses Anies justru berhasil menstimulasi hindbrain masyarakat.

Lho, tapi bukankah forebrain itu bagian otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan ? Sabar, sekali lagi saya ingatkan ini tulisan yang serius, anda butuh konsentrasi untuk mengikuti tulisan ini sampai ke tanda titik yang terakhir.

CORE HUMAN DRIVES

Paul Lawrence & Nitin Nohria, keduanya Professor di Harvard Business School dalam bukunya, Driven, How Human Nature Shapes Our Choices, menyebutkan 4 inti pokok yang mendorong manusia dalam bertindak :

  • to acquire, Hasrat memperoleh/mendapatkan/memiliki barang fisik, maupun non fisik seperti status, kekuasaan dan pengaruh.
  • to bond, Hasrat untuk dicintai dan dihargai dengan menjalin hubungan dengan orang lain.
  • to learn, Hasrat untuk memuaskan rasa ingin tahu kita.
  • to defend, Hasrat untuk mempertahankan diri sendiri atau orang yang dekat dengan kita dan hak milik harta benda kita.
  • to feel, Hasrat untuk merasakan stimulus sensor panca indera yang baru, perasaan emotional yang intense, kegembiraan, hiburan.

Yang kelima tadi ditambahkan sendiri oleh Josh Kaufman juga.

Disini saya kasih clue lagi, lihat core drive mana yang berhasil dimainkan dengan efektif oleh Eep dan timses Anies ? to defend, dengan slogan bela Islam itu, sekaligus juga to bond berkumpul bersama dengan yang dianggap berjuang membela agama, to feel rasa diri yang mulia merasa membela agama, dan to acquire hasrat untuk berkuasa dan berpengaruh via aksi aksi. 4 Core Human Drives dimainkan dengan efektif oleh Eep dan tim nya. Bingo !

Sampai disini saya membuka pelan – pelan kenapa Ahok bisa kalah, tapi strategy apa sebenarnya yang digunakan Eep ?? Lanjutkan terus sampai titik terakhir.

MOTIVASI

Sedarhana nya motivasi adalah mata rantai antara hindbrain dan midbrain, menghubungkan bagian otak kita yang merasakan (sensor panca indera) dengan yang bertanggung jawab untuk bergerak. Motivasi terbagi dua, mendekat ke sesuatu yang kita inginkan, dan menjauh ke sesuatu yang tidak kita inginkan. Sesuatu yang memenuhi salah satu unsur dari 5 core human drives tadi akan membuat kita memiliki dorongan untuk bergerak mendekat. Sebaliknya sesuatu yang nampaknya berbahaya, menakutkan, beresiko menjadi tidak kita inginkan dan mendorong kita menjauh dari nya. Sengaja kata nampaknya saya kasih huruf tebal, karena dalam kontestasi politik yang singkat fakta tidak terlalu penting, persepsi jauh lebih penting. Dan jangan salah, motivasi adalah emosi, bukan aktivitas rasional atau logika, jangan  karena forebrain anda “berpikir” anda harus memiliki motivasi untuk melakukan sesuatu tidak berarti anda akan otomatis menjadi termotivasi untuk melakukan sesuatu tersebut.

Secara umum, dorongan untuk menjauh jauh lebih kuat daripada dorongan untuk mendekat. Tung Desem Waringin, seorang marketer handal bahkan berkata, orang itu 80% menghindari penderitaan dan hanya 20% mengejar kenikmatan. Yang saya garis tebal itu artinya penting untuk diingat ingat dalam membaca dan memahami tulisa ini.

Sampai disini, mulai mengerti strategy apa yang dilakukan Eep dan tim nya. Mereka menciptakan dorongan mendekat ke Anies Sandi sekaligus di saat yang sama menciptakan dorongan menjauh dari Basuki Djarot. Dan mereka melakukannya dengan sangat efektif dibanding Basuki Djarot sendiri dan timses nya. Mari kita teruskan…

PROPAGANDA

Ini adalah bagian terpenting dari tulisan ini. Dan salah satu pembeda terbesar political marketing dengan usual business marketing.Tidak saya sebut diatas tadi karena ini adalah inti dari bangunan tulisan saya, sehingga butuh sesi tersendiri. Dalam business kita tidak bisa terlalu kasar bermain propaganda, karena hasil dari business bertujuan untuk bertahan terus menerus, artinya hasil penjualan dari brand dan produk kita diharapkan terus menerus bertahan lama di pasar, kalau bisa abadi. Sementara kontestasi politik hasilnya segera ditentukan dalam hitungan bulan, dan propaganda yang kita jual dengan hiruk pikuk setelah kontestasi selesai akan segera dilupakan orang, atau ditutupi oleh propaganda yang lain lagi. Ini menjelaskan kenapa Anies yang menjelekkan Prabowo kemudian bisa berbalik berada di kubu Prabowo. Kepentingan nya sesaat, dan orang meski mungkin masih ingat omongan itu tertutupi oleh propaganda lain yang dimainkan kubu Anies. Dalam bisnis, memainkan propaganda dan anti propaganda seperti ini terus menerus akan sangat melelahkan dan menghabiskan waktu serta biaya. Dalam politik melakukan ini setiap 5 tahun menjadi masuk akal.

Dalam kasus kemenangan berkali kali pasangan calon yang di dukung Eep dan tim nya, mereka menggunakan strategy propaganda yang efektif, terutama sekali ada 1 yang digunakan dan menjadi penentu kemenangan, bahkan ada buku khusus yang membahas tentang bagaimana para politisi dan/atau konsultan politik menggunakan teknik tersebut untuk memanipulasi pemilik suara/voters.

8 Type Propaganda Yang Paling Umum dan 1 yang paling berbahaya :

  1. Bandwagon, meyakinkan orang bahwa semua orang setuju/suka terhadap sebuah ide/tokoh. Contoh paling efektif adalah konser 2 jari saat pilpres 2014, dengan timing tepat dan liputan media yang luas ini berhasil menciptakan gema bahwa Jokowi JK didukung sedemikian banyak orang.
  2. Testimonial/Endorsement, ini saya sudah tak perlu jelaskan lagi lah. Di sisi ini Basuki Djarot menang, tokoh tokoh yang mengendorse, atau bertestimoni positif lebih banyak dan lebih kredibel dibanding Anies Sandi.
  3. Just Plain Folks, membuat pemilih/orang biasa merasa bahwa si kandidat itu sama dengan mereka. Ini dilakukan dengan natural dan efektif oleh Jokowi tanpa mungkin dia sendiri sadari, gaya blusukan dan slogan JokowiAdalahKita itu adalah propaganda jenis ini. Tentu politisi lain bisa melakukan hal yang sama, tetapi efektifitasnya bisa berbeda karena pribadi si politisi sendiri juga berbeda satu sama lain, ada yang memang dia berasal dari kalangan biasa sehingga tidak canggung ada yang terlahir sudah di kalangan elite sehingga untuk menggunakan cara ini malah bisa membangkitkan tuduhan pencitraan. Ingat kasus Sandiaga makan di warteg tapi bawa bekal itu. Contoh sempurna untuk propaganda jenis ini yang gagal, karena Sandiaga sendiri memang tidak bisa/terbiasa hidup seperti itu.
  4. Transfer, menggunakan simbol2, quotes, atau orang terkenal/otoritatif yang seringkali tidak terkait langsung untuk menguatkan ide/pesan yang disampaikan. Contoh menggunakan MUI untuk menjatuhkan vonis penistaan agama terhadap Basuki. Menggunakan nama GNPF MUI untuk aksi aksi demo jalanan. Keduanya masuk propaganda kategori ini.
  5. Logical Fallacies, Penggunaan logika yang seolah olah/aspal. berdasarkan dari 2 pernyataan berbeda yang benar, tapi dibuat kesimpulan yang sebenarnya salah. Contoh, 1. Ahok setuju reklamasi. 2. Sanusi, anggota DPRD yang setuju reklamasi korupsi. 3. Ahok korupsi. Contoh lain. 1. BPK mengatakan kasus pembelian RS Sumber Waras berindikasi korupsi. 2. Ahok yang memerintahkan membeli lahan RS Sumber Waras. 3. Ahok korupsi.
  6. Glittering Generalities, sebuah pernyataan yang kelihatan/terdengar bagus tetapi sesungguhnya tidak berarti apa apa. Sebuah kata yang mengandung arti kebajikan tapi digunakan untuk membangkitkan emosi yang menyenangkan. Masalahnya, seringkali kata kata ini mengandung arti berbeda untuk orang yang berbeda pula dan dimanipulasi untuk kepentingan pembuat propaganda. Contoh, Maju kotanya, bahagia warganya. Bahagia itu mengandung arti yang berbeda bagi tiap orang, kota yang maju juga berarti berbeda beda bagi tiap orang. Contoh lain, Menata kota tanpa menggusur. Dan lain lain. Anies paling jago menggunakan propaganda jenis ini.
  7. Name Calling, seperti kebalikan dari yang sebelumnya, mengasosiasikan lawan politik dengan kata yang merendahkan/bersifat negative. Contoh sempurna propaganda jenis ini, penista agama.
  8. Stacked Card, menampilkan satu sisi saja dari suatu isu dengan jika perlu mengubah fakta atau statistic. Contoh, isu reklamasi pantai utara Jakarta yang kompleks itu diangkat dari sisi negative nya saja, menggunakan fakta dan statistic yang tidak benar.
  9. FEAR, rasa takut, sengaja saya tebalkan hurufnya karena strategi inilah yang paling berbahaya dan berhasil dimainkan Eep dengan sangat lihay. Membuat takut pemilih Jakarta untuk memilih Ahok lewat berbagai macam teknik dan intimidasi, sudah banyak dibahas oleh penulis lain. Contoh tidak usah saya ulas. Inilah faktor terbesar kekalahan AHOK dan kemenangan ANIES.

Ada 1 buku khusus yang mengulas bagaimana FEAR ini menjadi salah satu strategy propaganda yang sangat efektif, termasuk bahaya nya, dan cara kita sebagai pemilih untuk menghadapi nya. FEARDOM, How politician exploit your emotions and what you can do to stop them, oleh Connor BoyakDia adalah pendiri sekaligus presiden Libertas Institute.

FEAR  dapat bekerja jauh lebih kuat  karena FEAR menstimulasi dorongan alami kita untuk menjauhi resiko, bahaya dan penderitaan.

FEAR inilah yang berhasil mendudukkan Trump di kursi presiden USA, membuat rakyat Inggris memilih keluar dari UE (Brexit), dan membuat Ahok tidak dipilih lagi padahal hasil kerjanya memuaskan >70% warga Jakarta.

FEAR yang memainkan hindbrain sebagian besar rakyat Jakarta pemilih Anies, mentrigger insting survival mereka karena persepsi ancaman yang diciptakan.

FEAR yang membuat sebagian orang menjauh dari Ahok karena persepsi penderitaan yang dibangun apabila mereka memilih Ahok, lewat sentimen agama yang dibangun terus menerus. Penderitaan kekal di neraka, dan penderitaan keluarga mereka yang kesulitan menshalatkan jenazah

FEAR and HATE, dua sisi mata uang dari strategy yang digunakan para pemimpin totaliter di dunia untuk merebut/mempertahankan kekuasaan. Kim Jong Un yang memerintah dengan kejam untuk menciptakan rasa takut begitu kejamnya sehingga membuat rakyat nya merasa beruntung apabila masih bisa hidup sembari menciptakan kebencian pada USA. Di abad 19 komunisme meraih kekuasaan dengan menciptakan ketakutan dan kebencian terhadap para Czar dan kapitalist. Adolf Hitler meraih kekuasaan juga dengan menciptakan ketakutan dan kebencian terhadap kaum Yahudi dan Bolsheviks.

Ahok sendiri terkesan lugu kalau tidak bisa dibilang naive dalam menghadapi kontestasi pilkada DKI ini, dia nampak memang bukan seorang politisi yang bisa dan lihai berpropaganda, dia pekerja. Berkali kali dia katakan, bahwa dia percaya rakyat Ibukota ini rasional, maka yang dia perlu lakukan hanyalah tunjukkan bahwa hasil kerja dia sudah ada dan nyata. Bahkan dia juga bilang tidak perlu kampanye, cukup kerja saja.

Tapi Basuki mungkin lupa, bahwa waktu dia berhasil menjadi Wagub DKI mendampingi Jokowi, rakyat memilih mereka berdua juga karena ada rasa takut dan muak yang nyata bahwa Jakarta  dibawah Foke akan menjadi Jakarta yang tidak ramah untuk semua, korup, kumuh, macet dan segala yang buruk. Itu alasan kami dulu memilih Jokowi Basuki, takut Jakarta akan makin korup, kumuh, semrawut dan segala atribut buruk.

Kali ini Basuki Djarot terlampau mati matian bertahan meluruskan propaganda propaganda yang dilancarkan lawan, tanpa berusaha menciptakan propaganda balik yang menyerang. Gaya kampanye nya juga kurang menyentuh sisi emosi (midbrain) dan basic insting (hindbrain) rakyat Jakarta, terlalu fokus pada forebrain, logika, dan rasional. Kurang mengeksploitasi juga Core Human Drive masyarakat. Anies dengan memanfaatkan isu menista agama, yang sesungguhnya banyak orang membaca dimulai dari kubu Agus sang anak Pepo Memo bahkan bisa menyentuh 4 dari ke 5 nya secara efektif.

Padahal kalo kita baca Anies sebenarnya sangat takut pada satu isu, bahwa KJP&KJS serta pasukan warna warni akan berhenti kalo Ahok tidak menjadi Gub, sedemikian takutnya Eep akan isu ini, sehingga muncul program KJP+,  KJS+ absurd gak papa tapi bisa mengikis ketakutan masyarakat. Bahkan sampai dibuat web khusus menjawab fitnah. Eep rupanya sudah melakukan survey apa yang paling ditakuti rakyat kalo Anies terpilih. Ini yang luput dari pantauan Basuki Djarot dan timsesnya, mungkin mereka tidak melakukan hal yang sama, kalo mereka melakukan hal yang sama, melakukan survey apa yang paling ditakutkan kalo Ahok/Anies terpilih. Mereka akan melakukan serangan dan pertahanan berdasarkan itu.

Ahok bermain terlalu lurus, naive. Seandainya dia berpikir seperti politisi yang berani dan mau melakukan propaganda dia bisa menang. Tangkis propaganda tidak dengan menjelaskan yang sebenarnya bagaimana, tangkis propaganda dengan propaganda balik juga, toh tujuannya Ahok melayani rakyat. Persetan bahwa Anies tidak akan mau menghilangkan KJP KJS dan pasukan warna warni, tapi ketakutan itu harus diciptakan, toh ini ketakutan yang baik, digembar gemborkan terus lewat debat, above the line (media) dan below the line (relawan yang blusukan). Ketakutan akan hilangnya pelayanan publik yang baik, ketakutan akan hilangnya akses kesehatan, bus TJ yang bobrok dan lain lain. Sehinggan kubu sebelah juga akan kerepotan dan tidak terlalu leluasa memainkan isu ketakutan terhadap etnis tertentu, ditambah ancaman ketakutan neraka yang dibangun via sentimen agama.

Ingat bahkan Jokowi yang medhok, ndeso, muslim taat, zuhud, rajin berpuasa saja bisa diciptakan rasa takut sebagai komunis dan keturunan cina yang sebenarnya tanpa alasan. Untungnya saat itu lawannya Prabowo punya sejarah kurang baik juga sebagai pelanggar HAM, jadi cukup ada alasan takut memilih dia, berimbang disini, tapi Jokowi menang telak dengan gayanya yang merakyat, Prabowo malah blunder  saat dia naik kuda bergaya panglima menjauhkan diri nya dengan gaya orang kebanyakan.

PENUTUP, MENUJU 2019

Ke depan 2019, tahun yang sungguh berbahaya. FEAR ini akan diesploitasi lagi. Jokowi, bagaimanapun akal sehat menganggapnya absurd, akan dicitrakan sebagai komunis gaya baru. Cara yang serupa akan digunakan kembali, propaganda jahat kombinasi sekelas obor rakyat, buku abal abal dan media online/sosial yang itu itu lagi akan bekerjasama menciptakan ketakutan atas bangkitnya komunisme gaya baru dan infiltrasi Cina ke Indonesia. Strategi yang sama yang dilakukan orde baru dalam melanggengkan kekuasaan nya.

Memainkan FEAR and HATE dengan sentimen SARA untuk pilpres/pilkada di Indonesia yang plural ini adalah permainan yang berbahaya, taruhannya persatuan dan kesatuan bangsa. A dangerous game to play.

Seword harus tetap berada dalam jalurnya melawan dengan mewaraskan ! Agar rakyat, pembaca terdorong untuk menggunakan forebrain nya daripada membiarkan hindbrain nya menguasai, jangan sampai keputusan nya tidak didasari oleh akal sehat tetapi melulu naluri survival primitif, seolah olah ada ancaman life and death situation yang nyata, padahal itu hanya persepsi yang dibangun dari propaganda propaganda belaka.

Salam Waras !

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage