Mencermati Usaha Deahokisasi Akibat Revolusi Lilin

Mencermati Usaha Deahokisasi Akibat Revolusi Lilin

18

Tidak ada yang menyangka bahwa “kehadiran Ahok” semakin kuat di Indonesia setelah dia dipenjara. Secara logis, seharusnya karir politik Ahok sudah selesai. Tidak akan ada bisa yang bangkit setelah dilengserkan oleh demo masif, pemilihan legal, sampai hukuman pidana (dikriminalkan). Tiga pukulan mematikan yang terbukti menjungkalkan Ahok bukan hanya dari kursi gubernur, tapi dari peta perpolitikan Indonesia.

Satu-satunya yang bisa dilakukan lawan politik Ahok hanya secara fisik membunuh Ahok, karena secara politik dan hukum sudah dilakukan semuanya. Sebab itu tidak berlebihan apabila menkumham melontarkan adanya ancaman Ahok hendak dibunuh di LP Cipinang sebagai alasan dipindahkanya ke Mako Brimob Kelapa Dua.

Revolusi Ahok adalah sebuah fenomena karena menjadi pintu politis baik untuk kawan atau lawan politik Ahok sendiri. TIdak bisa dipungkiri, konsistensi Ahok untuk Bersih, Transparan, dan Profesional bagikan obat keras untuk birokrasi koruptif di Indonesia.  Dan ini membuat Ahok secara de facto sulit mendapatkan tempat di parpol, maupun di lingkungan elite politik Indonesia,

Keberhasilan Ahok merintis dari bawah sampai sekarang menjadi ikon politik karena baik kawan dan lawan tidak pernah menggangap Ahok akan dapat panggung politik sebesar ini. Mereka hanya berusaha “menggunakan Ahok” untuk bungkusan-bungkusan politik.

Bak memelihara anak singa, mereka tidak menyadari bahwa Ahok adalah Singa dari Belitung, bukan kucing dari Petamburan, atau bunglon dari Jogja.

Meledaknya revolusi Lilin yang berdampak sampai bangsa-bangsa, bahkan sang aktor utama JK pun terkena serangan demo yang sangat memalukan di Oxford University, Inggris.  Jadi, sekarang ini, seakan-akan Ahok hadir disemua kota, pulau, bahkan kaum dan bangsa.

Inilah yang sangat menakutkan bagi lawan politik Ahok, karena dengan kondisi seperti ini, sebenarnya Ahok tinggal butuh kesabaran, dan menuggu waktu untuk kembali.  Dalam bahasa Itali dikatakan RITORNERA, artinya Ahok akan kembali.  He is coming back!

Fakta ini sangat mudah dibaca, tapi tidak semua percaya. Bahkan pendukung-pendukung Ahok pun merasa pesimis akan kemungkinan kembalinya Ahok. Menariknya, justru para lawan politik Ahok lebih percaya bahwa Ahok PASTI akan kembali lagi. Sebab itu, mereka terus akan mencoba melakukan apa yang disebut DEAHOKISASI.

Proses Deahokisasi ini secara terbuka dilakukan JK di Oxford, ketika dia mencoba mem-frame bahwa Ahok memang salah penistaan agama, melanggar kampanye, dan berkarakter tidak baik, jadi sudah lupakan Ahok dia adalah masa lalu. Sangat cantik, tapi tidak lagi ekfektif di dunia digital yang semakin terbuka dan transparan.

Gerakan deahokisasi ini dilakukan secara masif untuk menutup pintu kembali Ahok. Ahok bukan hanya harus kalah pilkada, dia harus dipenjara, tidak hanya itu, dia harus menjadi sejarah masa lalu.

Membayangkan kemungkinan Ahok mendapatkan kembali jalan menuju kekuasaan politik akan selalu menjadi bayang-bayang kekuatiran para lawan politik Ahok yang tidak PD dengan dirinya sendiri.

Inilah sebabnya, tiba-tiba terjadi “koor serentak” mulai dari JK, Anies-Sandi, Amien Rais, GNPF, bahkan sampai Rieziq sendiri menyanyikan lagi rekonsiliasi, persatuan, bhinneka, merangkul, dan sebangsanya. Koor yang bagaikan minyak menyiram ke luka para pendukung kebhinekaan yang masih terluka karena politik SARA Pilkada DKI 2017.

Secara halus, biasa-biasa, bahkan sampai kasar akan digunakan untuk menjaga supaya pengaruh Ahok akan hilang. Proses deahokisasi ini akan semakin masif dilakukan apabila panangguhan tahanan Ahok dikabulan Pengadilan Tinggi.

Rumah Ahok akan menjadi rumah lembang, bahkan akan bisa menjelma menjadi rumah “HOS TJokroaminoto”, sebuah rumah kebangsaan yang akan menjadi pusat kerindunan rakyat yang waras untuk mencari solusi-solusi kebangsaan. Skenario ini kembali akan menemplak pembenci-pembenci Ahok.

***

Ahok berbeda dari Abraham Samad.  Ketika Samad juga terpelanting dari KPK, langsung lilinya redup dan mati sampai sekarang. Mengapa? Karena Ahok tidak memiliki celah, seperti Abraham Samad. Inilah yang paling menakutkan dari seorang Ahok, diluar cara ngomon Ahok, Ahok “hampir sempurna” sebagai seorang pejabat publik. Minimal, dia mampu memperlihatkan bahwa dia benar-benar layak disebut pejabat yang Bersih-Transparan-Profesional.

Ahok akan tetap hidup apabila para relawannnya tetap bersuara, dan terus memperjuangkan apa yang Ahok perjuangkan.  Gerakan BTP Indonesia adalah sebuah contoh cara tetap menghidupkan Ahok dan “preparing the way” menyiapkan jalan untuk Ahok kembali.

Sulaiman seorang raja yang diakui sebagai salah satu raja terkaya dan paling berhikmat dalam sejarah kerajaan-kerjaaan dunia mengatakan dalam satu tulisannya:

Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya,
tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda.

Sebuah amsal yang sangat dalam sekaligus pas untuk menyatakan apa yang sedang terjadi. Para pelaku fitnah, kebencian terhadap Ahok akan terus berlari, berdalih, mencari celah, hanya untuk menutupi semau kebohongan dan kemunafikannya.

Mungkin malam-malam hari mereka akan bermimpi Ahok, bangun pagi wajah Ahok yang nampak, siang hari pun terngiang-ngiang perkataan Ahok, malam hari ketika diperaduan gelisah karena Ahok tiba-tiba bagaikan hantu yang akan terus mengikuti mereka dengan suara, “Mengapa Engkau Penjarakan Aku!”

 

Pendekar Solo

 

Share.

About Author

Seorang WNI yang merindukan Indonesia Baru

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage