Menimbang Kembali Program Full Day School, Selaraskah dengan Revolusi Mental?

Menimbang Kembali Program Full Day School, Selaraskah dengan Revolusi Mental?

1

Pasca reshuffle kabinet jilid dua, Presiden Joko Widodo reshuffle berapa pos Kementerian. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan terpaksa dimentahkan dari Kabinet Kerja dan digantikan oleh Muhadjir Effendy.
Publik kebanyakan kaget, ketika nama Anies Baswedan dicopot dari Mendikbud. Nama Anies Baswedan, banyak mencatat bahwa, beliau menteri yang konsisten, bahkan tidak pernah melakukan hal-hal yang sifat kontroversi.

Kebanyakan pengamat pun, kelihatan kaget, karena Anies Baswedan salah satu sosok yang cukup memuaskan publik, lewat program-programnya di Mendikbud, pasca itu. Yah, itulah dinamika, dan Presiden Joko Widodo memiliki hak preogatif untuk memberhentikan dan mengangkat menteri. Tentu, Jokowi melihat dari berbagai aspek soal kinerja menteri.

Terlepas dari itu semua, pasca pelantikan Kabinet Kerja Jilid II oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden, Jusuf Kalla di Istana negara, yang salah satunya Mendikbud baru, Muhadjir Effendy, menggantikan Anies Baswedan.

Sesudah dilantik, Muhadjir Effendy membuat program yang kontroversi, dan mendapat respon banyak publik, antaranya full day school. Meskipun ini, dibantah oleh Mendikbud baru bahwa, yang dimaksudkan adalah “kegiatan tambahan, kegiatan full kurikuler di sekolah”, tandas Muhadjir Effendy, pasca diminta tanggapannya.

Banyak pihak yang setuju dan ada juga yang menentang kebijakan ini, dan salah satu “pembunuhan karakter anak”. Pasalnya, pendidikan wadah untuk pengembangan anak, dengan sistem yang adaptif dan fleksibel.

Tidak dapat disangkal, bahwa manusia hidup bersama dengan manusia yang lainnya. Artinya, dalam hidup manusia ada dimensi sosial. Dimensi sosial itu menjadi nyata dan konkret dalam proses institusionalisasi, dalam proses pembentukan lembaga-lembaga sosial.

Dan yang dimaksud dengan lembaga sosial adalah cara bertingkah laku yang dibentuk oleh masyarakat yang dimasukkan dalam kehidupan bersama dan menghadapi individu-individu sebagai struktur atau penataan yang mengendalikan cara hidup mereka.
Di Indonesia, proses pendidikan nampak dalam kegiatan pendidikan. Perubahan kurikulum, salah satu aspek mendasar perubahan pendidikan sesuai dengan konsep, dasar sistem pendidikan. Kegiatan pendidikan yang dilaksanakan dalam lembaga pendidikan tinggi baik dinas maupun swasta.

Usaha yang biasanya dan yang pada umumnya terjadi secara mencolok di lembaga pendidikan adalah kegiatan pengajaran dan perkuliahan. Kegiatan tersebut, nampak dalam pengalihan bermacam-macam ilmu pengetahuan, penularan berbagai teori dan keterampilan.

Dalam perubahan Kurikulum 2013 silam, bukan berarti menghilangkan konsep secara menyeluruh, melainkan model peralihan kurikulum baru yang berarti, menjalani konsep yang efektif dan menambah konsep yang belum efektif. Sebagai lembaga pendidikan memiliki salah satu aspek pokok sebagai salah satu sistem yang berkaitan erat dengan identitas kelembagaan yakni: kultur sekolah sebagai lembaga.

Kultur sebagai pandangan hidup yang mencakup cara berpikir, perilaku, sikap, nilai dan cara hidup dalam memandang persoalan dan memecahkannya.
Kultur dalam lembaga pendidikan telah diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya dengan pola, sistem, bentuk dan ciri khasnya. Kultur sekolah sebagai lembaga pendidikan yang amat penting dalam meningkatkan ciri dari identitas kelembagaan dalam mengembankan kualitas pendidikan melalui dukungan kepemimpinan lembaga yang kuat serta kedigdayaan proses belajar mengajar sebagai aktualisasi dari tujuan pendidikan, (Baca, Pendidikan Kepemimpinan)

 

 

Belajar dari Peradaban

Banyak yang menilai, proses pendidikan Indonesia hanyalah sebagai instrumen belaka.

Untuk itu, belajar dari peradaban merupakan sesuatu yang membentuk jati diri anak bangsa yang berkualitas dan berintegritas. Sebelum zaman Yunani kuno, tujuan pendidikan cukup sederhana yakni tentang sintas (survival) atau bertahan hidup di dalam dunia.

Pada zaman Yunani kuno, pendidikan dilaksanakan pada waktu senggang. Dari kata Yunani yaitu skhole yang berarti waktu senggang lahirlah kata sekolah yang kita kenal sekarang. Ketika menyebut nama Aristoteles, Sokrates dan Plato merupakan nama yang bukan asing lagi mewarnai filsafat pendidikan, (baca, Aristoteles, Sokrates dan Plato)

Kita membedah pandangan pendidikan ketiga filsuf ini, saya mau mengatakan pentingnya pendidikan Indonesia belajar dari peradaban.

Sistem pendidikan ala Socrates adalah sangat di kenal dengan ‘seni kebidanan’. Metode pemikiran Socrates adalah dialektika (maieutis). Filsafat Pendidikan Socrtaes berbentuk pertanyaan yang jawabannya ditemukan sendiri oleh murid, bukan pernyataan, bukan pengaturan, bukan perintah, bukan instruksi, dan juga bukan indroktrinasi.

Pernyataan Sokrates ini, guru atau pendidik bukanlah pribadi yang maha tau dan murid bukanlah sesuatu yang maha tidak tahu. Pertanyaan dengan seni kebidanan (pembedahan) merupakan sistem pendidikan yang ideal untuk membentuk pribadi yang berintegritas tinggi yang tidak terpecah-pecah, (baca, Socrates ).

Sementara Plato, menekankan pendidikan pada politea (negara) dan nomoi (undang-undang) yang berisikan tentang dialog-dialog. Salah satunya, tentang pendidikan yang merupakan bagian tentang ajaran negara, (Baca, Plato tentang Negara).

Oleh karena itu, Plato lebih kepada sistem pendidikan yang selektif. Pemilihan materi ditentukan berdasarkan syarat-syarat seperti, bahan-bahan itu harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan warga yang sudah maju. Materi pengajaran juga harus sesuai dengan tugas serta fungsi setiap orang untuk menjalankan keutamaan.

Sementara Ariestoteles dalam pandangan tentang pendidikan lebih memperhatikan tujuan pendidikan tentang bagaimana negara ditata untuk mewujudkan kebaikan.

Dalam segala perbuatan manusia selalu mengejar tujuan. Ia selalu mencari sesuatu yang baik baginya. Tujuan dikejar, demi kepentingan diri dan kepentingan lainnya. Dan kesempurnaan manusia dapat diaktualisasi melalui rasio (intellectual activity). Itulah kegiatan manusia yang tertinggi, (baca Ariestotele tentang bonum commune). Ariestoteles mengatakan keutamaan intelektual pada rasio dan keutamaan moral yang mengutamakan watak.

Sehingga, kita bisa menilai dan mengambil keputusan dari perubahan kurikulum yang sebelum dilakukan Anies Baswedan dan yang sekarang yang dilakukan Muhadjir Effendy, tergambar bahwa, ini keadaan (practical ratio).

Peradaban pendidikan penting untuk melihat karena landasan historis merupakan cikal bakal perubahan pendidikan di Indonesia. Ki Hajar Dewantara (1950) mengatakan, “Taman siswa mengembangkan suatu cara pendidikan yang terdiri di dalam Among dan bersemboyan ‘Tut Wuri Handayani’ (mengikuti sambil mempengaruhi)”.

Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara pendidikan dalam skala mikro tidak terlepas dari pendidikan dalam arti makro, bahkan disiplin pribadi adalah tujuan dan cara dalam mencapai tujuan pendidikan yang lebih luas.

Dengan demikian, landasan pendidikan tidak mesti dicari di luar fenomena (gejala) pendidikan termasuk ilmu-ilmu lainya atau filsafat tertentu dari budaya barat. Lagi pula, konsep pengajaran (yang makro) berdasarkan kurikulum formal tidak dengan sendirinya bersifat inklusif dan atau sama dengan mengajar.

Bahkan, dalam banyak hal pengajar itu tergantung hasilnya dari kualitas guru mengajar dalam kelas masing-masing. Sudah barang tentu asas ‘Tut Wuri Handayani’ tidak akan jadikan pengajaran identik dengan sekedar upaya sadar menyampaikan bahan ajar di kelas kepada rombongan di kelas mengingat guru harus “berhamba” kepada kepentingan siswanya.

Urgensi Pembaharuan Pendidikan

Studi formal tentang pendidikan dalam dunia pendidikan khususnya di jenjang pendidikan tinggi, lebih ditekankan apa yang di sebut Corbet dengan ‘formal school-based education and to be reformist’. Artinya pendidikan bukan pendidikan.

Pendidikan yang dijalankan di dunia pendidikan memiliki arti penting bagi manusia dan dunia.

Dalam pendidikan Indonesia dengan perubahan kurikulum merupakan bagian dari reformasi sebuah pendidikan. Sehubungan dengan penghambat reformasi ialah manusia, dan juga karena subyek dan objek reformasi adalah manusia, maka dibutuhkan paradigma reformasi yang langsung menangani masalah pendidikan Indonesia.

Paradigma reformasi pendidikan berurusan langsung dengan manusia sebagai subjek dan objek reformasi. Masalah bilamana, suatu reformasi itu dikatakan langsung berurusan dengan manusianya? Sesuai dengan filsafat pendidikan di Indonesia yang bertujuan, membangun kecerdasan manusia yang seutuhnya, dan filsafat besar lainnya, maka dapat dikatakan bahwa suatu reformasi atau pun perubahan Kurikulum dikatakan berurusan secara langsung dengan manusia ialah reformasi ditujukan untuk spritualitas manusia.

Berbicara masalah spiritualitas, banyak orang melupakannya. Orang-orang menganggap iptek dan ekonomilah yang telah menjadi faktor perubahan sosial. Mereka lupa bahwa, kemajuan iptek dan ekonomi di Barat didorong oleh semangat atau pencerahan yang humanistis rasional-sekuler dan semangat Protestan (kapitalis) di samping oleh faktor-faktor lainnya.

Di samping itu, perubahan kurikulum pendidikan berwawasan global bersifat sistemik, organik, dengan ciri-ciri fleksibel-adaptif dan kreatif-demokratis.

Untuk itu, era globalisasi pendidikan harus bergeser ke arah pendidikan yang berwawasan global. Dari perspektif kurikulum pendidikan berwawasan global berarti, menyajikan kurikulum yang bersifat interdisipliner, multidispliner dan transdipliner.

Berdasarkan perspektif reformasi, pendidikan berwawasan global menuntut kebijakan pendidikan tidak semata sebagai kebijakan sosial, melainkan sebagai suatu kebijakan yang berada di antara kebijakan sosial dan kebijakan mendasar mekanisme pasar.

Oleh karena itu, pendidikan harus memiliki kebebasan dan bersifat demokratis, fleksibel dan adaptif.

Revolusi Mental Jokowi

Revolusi mental yang merupakan paradigma politik Jokowi-JK, betapa menakjubkan. Meskipun secara faktual revolusi mental itu belum cukup termanifestasikan (sikap) seperti namanya revolusi, sementara Pemerintahan Jokowi-JK tengah menuju tiga tahun, akan tetapi seluruh komponen bangsa sudah sepatutnya bahu-membahu mengimplementasikan revolusi mental itu.

Memang tidak seperti membalikkan tangan. Butuh konsep strategis, dan tentu saja aktor-aktor yang tampan berwibawa untuk mencapai efektifitasnya. Kesulitan itu juga tidak lepas dari kemajemukan bangsa, khususnya adat-istiadat budaya kita, termasuk di dalamnya ketidakmerataan pendidikan secara nasional sebagai peninggalan Orde Baru.

Meski demikian, revolusi mental Presiden ke-7 kita ini tetap memiliki kemungkinan untuk menjadi “way of life” bangsa kita. Apalagi, kalau Presiden Jokowi memiliki “partner politik revolusi mental” yang handal revolusioner;

Kepiawaian para pemangku kepentingan umum, memiliki tiga poros Keadaban Publik (Masyarakat Warga atau “Civil Society“, Pasar dan Pemerintah) yang merupakan subjek utama para pejabat publik akan semakin menggeliat dalam menginternalisasikan revolusi mental menjadi sikap, tindakan mereka.

Umumnya adalah “pembicara” yang tidak jarang kurang tertib dalam disiplin tertib berkomunikasi. Silahkan kita amat atau perhatikan, seberapa sering model dan isi komunikasi para pejabat publik kita sarat dengan “argumentum ad populum atau misericordiam“. Misalnya, ketika mereka tengah ditangkap oleh KPK, hampir semua mereka tampil “innocent!”.

Ajang Revolusi mental yang dicanangkan presiden Jokowi adalah momok baru reformasi yang lama idam-idamkan jutaan rakyat Indonesia. Dan semakin kelihatan, meskipun tidak signifikan. Jokowi sudah melakukan, reformasi dalam badan infrastruktur, seperti apa yang dicanangkan dalam Nawa Cita, “mulai dari pinggiran”. Maupun bidang lain, baik dari segi Kelautan, Keamanan, maupun Pendidikan yang kita kenal “full day school” yang sudah beliau tunjukan ke publik. Yang menurut kebanyakan orang tidak selaras dengan Revolusi Mental. Jokowi sudah membagikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) disebagian daerah di Indinesia. Ini merupakan ajang revolusi mental yang solutif untuk pendidikan kita ke depan.

Salam

Share.

About Author

Dunia Literasi

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage