Oleh-oleh Kunjungi Ahok, tentang Kemanusiaan, Empati dan Kebhinekaan

Oleh-oleh Kunjungi Ahok, tentang Kemanusiaan, Empati dan Kebhinekaan

63

Kunjungan kami bersembilan ke Ahok adalah wujud empati kepada perjuangan Ahok. Mendengar paparan Ahok membuat kami tertawa getir, terbahak semangat, dan kecut lalu berempati. Belum lagi ketika Veronica Tan menyalami rombongan besar para pengunjung Ahok; satu per satu. Kesan Vero yang elegan, percaya diri namun rendah hati dan sopan begitu kental tampak dari bahasa tubuh Veronica Tan. Beberapa pengunjung, sembab melihat Veronica Tan yang tegar.

Mari kita paparkan oleh-oleh makna menengok Ahok dan paparan yang menghentak kesadaran nurani, hati, pikir, rasa, logika, iman, ketakwaan, jati diri, kemanusiaan, kebangsaan Indonesia, pluralisme, keberagamaan, spiritual, seni, budaya, dan kebebasan jiwa selamanya dalam melihat perjuangan Ahok, dalam pemberantasan korupsi.

Dalam acara kunjungan ke Mako Brimob Jum’at 16 Juni 2017, untuk mengunjungi Ahok, banyak pelajaran yang bisa dipetik. Kebetulan kunjungan kami bersembilan, jadi sepuluh plus Bimbim Slank. Untuk ke sana memang bukan perkara gampang. Prosedur. Penjadwalan. Dan, lokasi penuh kemacetan adalah tantangan tersendiri. Maka menjadi hal yang bisa diragukan ketika kami, warga biasa, rakyat yang peduli kepada demokrasi, berempati kepada Ahok, berhasil mengunjungi pendekar demokrasi dan pelawan korupsi: Ahok.

Sebelum menyambangi Mako, berkumpul di sebuah mal di Depok. Kelompok pengunjung dari Surabaya datang dari bandara Halim dan Soekarno Hatta, pukul 10-an sudah sampai Depok. Yang dari Jakarta sekitaran jam 11:00 masih tersebut OTW. Pukul 11:30 saya bertemu dengan mereka di sebuah kedai kopi; Bung Teguh menyusul bergabung. Senang. Dari WAG ke dunia nyata dengan visi sama: NKRI. Lebih senang lagi ada Bung Denny Siregar jadi tambah seru.

Perbincangan diwarnai berbagai hal terkait kesenangan saling bertemu dengan para teman dari Surabaya dan Jakarta. Topik terkait tentu prioritas jangan sampai telat. Keputusan diambil mendekati pukul 12.00, khawatir macet dan kehilangan kesempatan. Pilihan diambil, naik taksi aplikasi. Sementara kawan yang tengah di perjalanan baik Bung Denny Siregar dan Mbak Michelle diarahkan langsung ke Mako Brimob, kami bertujuh menunggu di sana.

Pukul 13:05, Mbak Michelle dan Bung Denny akhirnya sampai dan bertemu di Mako. Kami diatar ke lokasi pertemuan dengan Ahok dengan mobil yang dikemudikan Mbak Michelle, dengan dikawal oleh petugas Polisi. Sebelumnya tentu segala hal tentang identitas, dicatat dan dicocokkan dengan pengaturan kunjungan yang sudah dimiliki oleh Petugas Mako. Tinggal di-checked daftar nama dan KTP dititipkan di Pos Pintu Masuk utama Mako Brimob.

(Masuk ke ruang tunggu, ternyata sudah ada daftar kelompok pengunjung. Salah satu adalah Bimbim Slank dan Bunda Ifet. Baik Mbak Vera maupun yang lainnya menyambangi Bimbim Slank. Kami Slankers tentu senang. Agenda dan acara diusulkan dan senang mendapatkan komitmen awal Slank. Foto bareng tentu untuk dokumentasi biar tidak dibilang hoax…ha ha ha. Zaman aneh mana hoax mana benar jadi blur…).

Sambil menunggu, semua makanan dikumpulkan. Hp, gadget, kamera, tas dikumpulkan di meja penerima tamu. Tak lebih dari 30 menit kemudian kami masuk ke ruang pertemuan berukuran enam kali 20 meter: bertemu Ahok. Karena efisiensi waktu, kami digabungkan bertemu dengan Ahok dengan kelompok Bimbim Slank.

Kami dari Surabaya membawa buku AHOK yang akan dilelang dan dimintakan tanda tangan Ahok – sebagai bukti mengunjungi Ahok. Ahok pun menandatangani sambil berseloroh bisa membuka perpustakaan karena banyaknya sumbangan buku. Sumbangan beberapa buku pun diberikan kepada Ahok. Juga koran yang ada artikel dan foto Veronica Tan menangis, dengan sisipan Mbak Ari di sana.

(Soal makanan Ahok dikirimi banyak orang dan makan pun bisa kapan saja tidak terbatas waktu seperti ketika masih menjadi Gubernur.)

Celetukan muncul. Karena Ahok maka kita sekarang ingat Pancasila, ingat NKRI, ingat lagu kebangsaan Indonesia Raya, ingat pluralisme bangsa Indonesia dan kebhinekaan. Ahok pun tersenyum semringah. Renyah.

Berbagai cerita muncul termasuk tentang doa terkait dengan Yusuf; setiap saat doa dan harapan dikaitkan dengan ayat tersebut. Sampai hapal berapa pun pendeta yang berdoa selalu terkait kisah Yusuf. Cerita kemudian mengalir, dan Ahok pun menyampaikan dengan jenaka bahwa dia bisa berkisah hal yang sama kepada para pengunjung yang berbeda.

Kisah diungkap tentang betapa hukum tidak berpihak kepada dirinya. Awal masuk tahanan di Cipinang ketika dia bertemu dengan Kelompok Jakarta di Cipinang ada sekitaran 50 orang koruptor yang dipenjarakan Ahok. Lalu kisah pertama kali tekanan psikologis sebagai tahanan yang dibatasi hak dan kebebasannya. Berat. Pun Ahok berkisah tentang remisi yang unik dan didasarkan pada standarisasi yang unik. Bagi Ahok, di mana pun Ahok siap ditempatkan; justru yang penting adalah faktor keamanan bagi Ahok.

Ahok menyatakan tidak mengikuti berita politik; namun ada yang menyampaikannya. Ahok tidak akan memikirkan kembali ke dunia politik. Terpikir dia akan terjun ke dunia bisnis. Maka disinggung tentang film tentang Ahok, Ahok menyatakan film itu bisa menjadi boomerang bagi Ahok dan membuat anti Ahok meradang dan ribut.

Kini Ahok tengah berusaha menulis buku. Juga dia memiliki banyak kesempatan membaca banyak buku. Dalam tahanan menjadi blessing in disguise bagi Ahok karena dia menjadi memiliki banyak waktu untuk membaca buku.

Seloroh kembali muncul dari kelucuannya dan ceplas-ceplosnya; nanti Ahok sekeluar penjara bisa menjadi stand-up comedian, kalau laku katanya. Atau akan menjadi pembicara seminar; kalau ada yang mengundang.

Di balik gurauan, tertawa, keheningan mendengarkan cerita dari Ahok – tak semua diungkap dalam tulisan ini alias off the record tentu. Ahok pun sebagai manusia biasa merasakan tekanan dan kesenyapan setiap senja hari. Ada rasa wung alias kosong rasa dan kecut-sepi dalam hati Ahok setiap hari antara pukul 15:30 sampai jam 18:00. Untuk mengatasi perasaan itu, Ahok berdoa dan berolahraga.

Belum lagi awal dimasukkan ke dalam tahanan. Setiap jam Ahok terbangun. Tidak kaget, namun terasa ada himpitan dalam dada. Tidak bisa menerima, awalnya, rasa terkungkung. Jiwa dan logika Ahok yang tidak bersalah dihukum tidak sesuai dengan tuntutan Jaksa. Rasa tak menerima. Logika bekerja. Rasa  menghimpit. Pada akhirnya Ahok menghilangkan pikiran tentang kenyataan yang dihadapi.

Akhirnya Ahok menghilangkan pikiran dan mengolah rasa; berusaha menerima kenyataan yang dihadapi. Kami pun senyap kadang ketika mendengarkan kisah Ahok. Yang unik adalah selama dikunjungi, Ahok hampir tidak pernah menyampaikan soal politik.

Ketika  saya ingatkan bahwa hampir semua tokoh demokrasi dipenjara; Hamka, Bung Karno, Nelson Mandela, dll. Ahok mengiyakan. Namun, bagi yang tidak mengalami, Ahok menyampaikan tentang rasa yang tidak dirasakan sebagai tahanan, terpenjara, dibatasi tembok sempit.

Disampaikan oleh Ahok, waktu pun seakan menjadi tambah panjang dan lega: lama. Time stands still. Waktu seakan terhenti. Dan waktu itu digunakan oleh Ahok untuk membaca, merenung, menulis, dan berolah-raga. Pada waktunya nanti Ahok yang termasuk pejabat, intelektual, dan berpendidikan berhak untuk mengajar – kesempatan bagi narapidana untuk mengumpulkan poin bagi remisi.

Tak terasa lebih sejam kami bersama Ahok. Waktu kunjungan pun habis. Seperti ketika kami sampai, kami pun disalami Ahok satu per satu. Memberi semangat dan dukungan. Sambil beberapa sembab dan terenyuh. Namun melihat ketegaran Ahok, Ahok layak memang menjadi pendekar demokrasi. Karena Ahok maka Indonesia kembali menengok Pancasila, NKRI, Bhineka Tunggal Ika dan pluralisme.

(Sebagai catatan Group WA yang mengunjungi Ahok antara lain Mbak Verawaty Budiyanto, Bung Denny Siregar, Mbak Srie Arianie Soenjoto, Mbak Reni Tanumulia, Mbak Shinta Dewi, Mbak Vivid Devianti (Vivid Sambas), Bung Teguh Kurniawan, Bung Ninoy N Karundeng, dan Mbak Michelle Dian Lestari.)

Dari kunjungan itu sesungguhnya dapat dipetik bahwa masuknya Ahok ke dalam penjara disebabkan oleh perlawanan koruptor. Bersatunya koruptor, politikus korup, dan bandar narkoba serta teroris yang merasa terusik oleh sikap Ahok yang pluralis, membuat segala cara ditempuh untuk menghantam Ahok.

(Yang tak kalah heboh adalah kisah Novel yang menyidik kasus E-KTP dan lain-lain. Penyidik hebat dan jempolan KPK ini bahkan mengalami serangan yang nyaris membutakan mata Novel secara permanen. Itu bentuk perlawanan koruptor dan politukus korup. Bahkan saking menghantamnya kasus E-KTP terhadap para pejabat di DPR sana, hak angket KPK digulirkan. Jelas upaya perlawanan, pelemahan, dan tekanan terhadap KPK. Namun, KPK yakin akan tetap konsisten di tengah perang melawan korupsi. Rakyat harus berdiri di depan KPK.)

Sebelumnya, dalam diskusi selama menunggu di mal, pertanyaan muncul. Kenapa para koruptor begitu serakah? Kenapa koruptor begitu tega melakukan tindakan mengriminalisasi? Penyebabnya adalah (1) para koruptor adalah manusia penikmat nafsu duniawi; pemuasan pada kenikmatan ragawi, (2) koruptor tidak percaya kepada kehidupan setelah mati, (3) para koruptor adalah manusia bejat yang senang dengan negara bobrok. Maka mereka bekerjasama dengan bandar narkoba dan teroris. Mereka saling bersinergi untuk kepentingan mereka.

Negara yang bobrok (dengan menyingkirkan pendekar anti korupsi dan demokrasi, seperti Ahok misalnya) memberi kesempatan kepada  teroris berkuasa merusak. Bagi bandar narkoba, negara yang lemah dengan pemimpin yang korup adalah pasar manis narkoba. Maka kaitan dan sinergi antara teroris, koruptor, dan bandar narkoba adalah kenyataan yang sangat menjijikkan yang harus dilawan oleh seluruh bangsa.

Itulah oleh-oleh kunjungan kami bersembilan ke Ahok. Ahok telah melakukan, dan berani berbuat. Kita baru dan hanya bisa berempati pada Ahok. Kunjungan ke Ahok selain tentang empati, kemanusiaan, kebhinekaan adalah dukungan kepada Ahok: pejuang dan pendekar demokrasi. Selamat ulang tahun Pak Ahok nanti ya. Salam bahagia ala saya.

Share.

About Author

Wakil Presiden Penyair Indonesia, Philosopher penemu teori filsafat "I am the mother of words"

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage