Penghina Ibu Negara Tidak Suka Presiden Jokowi? Sini Saya Lapis!

Penghina Ibu Negara Tidak Suka Presiden Jokowi? Sini Saya Lapis!

62

Saya tidak tega dengan penghinaan yang dilakukan oleh kaum bumi peang otak setengah ons yang telah dibekuk Polisi di rumah orang tuanya di Palembang. Hanya lantaran kebencian yang tidak mendasar kepada kepala negara Presiden Jokowi, ibu negara Iriana diserang dengan kata kata jorok yang tidak pantas, vulgar dan teramat kasar.

Akibat perbuatan laknatnya itu banyak yang marah ibu negara dihina dengan cara yang vulgar begitu. Dalam hidup berbangsa dan bernegara indonesia kita dari kecil ditanamkan untuk menghormati orang yang lebih tua, khususnya kaum ibu.

Tega-teganya dan sampai hati menghina Ibu negaranya sendiri dengan kalimat dan kata-kata yang jorok dan kasar. Entah orang ini punya ibu atau tidak, coba seandainya ibunya atau saudari perempuannya yang dikata-katain orang seperti itu, kira-kira dia terima atau tidak?

Pernahkah si penghina itu membayangkan betapa terhinanya dirinya jika ada orang lain yang menyebut ibu kandung atau saudara perempuannya dengan kata-kata vulgar seperti yang dia sebutkannya kepada ibu negara.

Mungkin di sekolah atau orantuanya tidak mengajarkannya budi pekerti. Coba ibunya disebut pelacur, walaupun ibunya bukam seorang pelacur, kira-kira dia marah atau tidak? Ini ibu negara disebut pelacur. Ibu negara loh. Sangat keterlaluan dan kurang ajar.

Anak-anak jaman sekarang sok hebat, demokrasi kebablasan, tidak tahu sopan santun dan etika. Mereka tidak merasakan jaman Orba, jangankan menghina, ngomongin keluarga Cendana di warung kopi saja kena ringkus.

Semakin kesini semakin masif saja serangan-serangan terhadap pak Jokowi dan keluarganya dari kaum bumi peang, bani pentol korek otak setengah ons. Masihkah bangsa ini bangsa yang beradab dalam etika dan kesantunan? Ini masalah serius yang tidak bisa dianggap enteng dan diabaikan begitu saja karena akan menghancurkan norma-norma kepatutan yamg dianut bangsa ini.

Saat ini nilai-nilai luhur yang dianut bangsa ini telah mengalami kerusakan yang sedemikian parahnya akibat hasutan dan provokasi ormas-ormas radikal seperti FPI itu. Akibat aksi-aksi intoleran mereka, bangsa ini mengalami degradasi dari masyarakat beradab menjadi bangsa yang biadab.

Terkikis sudah moral bangsa kita oleh manusia licik yang haus kekuasaan yang menghalalkan segala cara. Mereka lupa Jokowi terpilih sebagai Presiden oleh rakyat secara konstitusional, sah menurut hukum dan Undang-Undang yang berlaku di negeri ini.

Sampai detik ini saya tidak habis pikir, sejak Jokowi jadi Presiden RI segala macam fitnah keji dan hinaan-hinaan terus dilancarkan secara masif, terstruktur dan terencana. Padahal Presiden Jokowi bukan seorang Diktaktor ataupun koruptor. Beliau sedang kerja keras mengejar ketertinggalan untuk membangun neheri ini dengan melakukan pemerataan pembangunan dan infrastruktur.

Beliau sedang kerja keras untuk berusaha menciptakan keadilan sosial di seluruh negeri. Anak-anaknya pun mandiri tidak terlibat proyek-proyek pemerintah seperti pada jaman Orba dulu. Kalau benci dan tidak suka sama Presiden Jokowi karena jagoannya kalah dalam pilpres 2014 yang lalu, lebih baik mingkem dan tutup bacot rapat-rapat.

Suka tidak suka harus siap menerimanya. Jangan asal main caci maki, sumpah serapah dan hinaan-hinaan diluar batas kewajaran. Sungguh memalukan generasi muda di era Instagram saat ini yang seharusnya berpikir dan berperilaku positif untuk negara malah justru jadi penghujat yang keji.

Kebebasan mengemukakan pendapat dengan tameng demokrasi yang didewakan bikin moral bangsa ini rusak karena kebablasan yang over dosis. Memang parah kwadrat akhlak mereka yang diliputi dendam dan kebencian yang menguasai seluruh hati dan pikiran mereka.

Paham radikalisme sudah sangat-sangat membahayakan generasi penerus bangsa. Sudah saatnya ditumpas sampai ke akar-akarnya. Jangan biarkan meracuni alam bawah sadar generasi muda tulang punggung bangsa.

Untungnya Polisi bergerak cepat menciduk manusia jagoan yang ternyata nama aslinya Dodik Ikhwanto, yang dengan sok jago dan sok hebatnya menghina ibu negara dengan sebutan pelacur.

Orang yang hati dan pikirannya dipenuhi kebencian memang tidak menggunakan otak saat bertindak. Entah di mana gerangan manusia satu ini belajar tentang budi pekerti, dan entah bagaimana orang tuanya mendidik soal etika.

Setelah kena ciduk baru mukanya pucat pasi, bibir gemetar, kaki dan tangan gemetaran. Ya beginilah kelakuan pengecut yang panik blingsatan setelah tercyduk. Ciri khas para haters otak setengah ons.

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage