Pidato ‘Sujud Syukur’ Prabowo dan Pasukan Rusuh yang Gigit Jari

Pidato ‘Sujud Syukur’ Prabowo dan Pasukan Rusuh yang Gigit Jari

138

Sebelumnya saya sudah memprediksi bahwa Pilgub DKI nantinya akan ada quick count terbalik, stasiun terbalik, serta sujud syukur yang tertukar. Alurnya sudah bisa dilihat di media-media partisan dan lembaga survey pesanan yang sejak dahulu kala sudah sering meleset.

Bagi saya dan banyak penulis Seword, memahami bahwa semua itu adalah bagian dari propaganda media. Tapi bagi masyarakat awam, yang tidak memiliki kemampuan menganalisis atau tidak mau berpikir detail, mereka hanya tau bahwa Anies Sandi diunggulkan oleh lembaga survey. Tidak penting lembaga kredibel atau tidak. Apalagi melihat history kemelesetannya. Tapi memang di sinilah fungsi serta hikmah kehadiran Seword. Kami melawan propaganda dan mempertahankan kewarasan warga.

Namun belum sempat saya menulis tentang kemungkinan terjadinya quick count terbalik dan seterusnya, rupanya Prabowo sudah ‘sujud syukur’ lebih dulu. Jika 2014 lalu mereka menunggu quick count untuk berpidato atau apapun istilahnya, sekarang Prabowo sudah pidato beberapa hari sebelum pencoblosan.

“Kami membaca melihat hasil-hasil lembaga survei, sebagian besar, hampir semuanya menunjukkan kehendak rakyat Jakarta adalah perubahan, Anies Baswedan sebagai Gubernur dan Sandiaga Uno sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta,” kata Prabowo.

Sampai di sini saya tidak bisa sedikitpun berprasangka baik pada Prabowo, Anies, Sandi, Rizieq dan seluruh kelompok bumi datar. Klaim Rizieq dan Anies yang mengatakan hanya kecurangan yang bisa mengalahkan Anies Sandi. Serta klaim Rizieq soal Anies pasti menang 80 persen jika tidak dicurangi, merupakan satu kesatuan, tak terpisahkan dengan pidato ‘sujud syukur’ Prabowo dan seluruh rangkaian lembaga survey yang selama ini dikenal lembaga kampret (terbalik).

Mereka satu komponen yang sama-sama melakukan propaganda dan membentuk opini publik seolah-olah sudah pasti menang.

Prabowo dan koalisi yang kebelet

Melihat alur yang jauh lebih keras dan kotor dibanding Pilpres 2014, sampai jenazah pun dijadikan alat politik, sepertinya ambisi Prabowo untuk menjadi Presiden Indonesia masih sangat-sangat tinggi. “kalau kalian ingin saya jadi Presiden 2019, Anies Sandi Gubernur DKI, betul?” begitu kata Prabowo beberapa waktu lalu.

Sehingga untuk mendukung ambisi tersebut, Prabowo belajar dari kegagalan pidato serta sujud syukur tahun 2014 yang baru dilakukan setelah pencoblosan, kini Prabowo berpidato ‘sujud syukur’ mengklaim kemenangan sebelum pencoblosan. Luar biasa.

Jika pada 2014 lalu Prabowo belum sempat membahas tim transisi, sekarang ini bahkan belum hari pencoblosan pun Prabowo sudah meminta Anies Sandi untuk membentuk tim transisi. Gila! Benar-benar kebelet.

Komponen propaganda yang sangat sempurna

Jika melihat rilis lembaga survey yang memenangkan Anies Sandi dan terus diulang-ulang oleh teve anu dan one, mendengar klaim Rizieq dan Anies, mendengar pidato ‘sujud syukur’ Prabowo, ini semua benar-benar merupakan propaganda yang sangat sempurna. Lembaga survey, media dan tokoh sudah sama-sama mengklaim kemenangan. Semua dikondisikan dengan begitu rapi.

Sehingga kalau hari ini Anies kalah, nantinya mereka bisa bilang telah dicurangi secara terstruktur, sistematis dan massif. Lanjut menggugat ke MK, bawa barang bukti seratus kontener seperti Pilpres 2014 lalu.

Tamasya Almaidah sebagai intimidasi

Sebetulnya saya heran dengan muslim Waktu Indonesia Bagian Bumi Datar (WIB.BD). Almaidah dijadikan nama sabun, roti, sampai tamasya, mereka bangga dan senang luar biasa. Padahal mereka dulunya protes dan menyebut Ahok menista agama karena menyindir dengan pembuatan nama wifi Almaidah.

Tapi ya sudahlah. Mereka ini percaya bahwa bumi itu datar, sementara saya percaya bahwa bumi itu bulat. Jadi mungkin memang ada perbedaaan yang sangat fundamental di situ.

Masalahnya adalah, tamasya almaidah yang merupakan nama lain dari mobilisasi massa, sama seperti aksi bela Islam padahal aslinya ya demo biasa saja, merupakan bagian yang juga tak terpisahkan dari kelompok Anies Sandi dan Prabowo.

Kehadiran alumni kelompok pecinta nomer togel 411, 212 dan 313 merupakan sebuah intimidasi yang sangat nyata kepada seluruh rakyat Jakarta tanpa terkecuali. Sebab dulu mereka sudah pernah berhasil membuat kerusuhan hingga malam hari dan nyaris mengantarkan negera ini di pintu kegelapan seperti yang terjadi pada 98.

Jika pada 2014 lalu kelompok Prabowo hanya mampu protes ke MK lalu mengancam pemakzulan Jokowi, saat ini mereka benar-benar siapkan penolakan sebelum pencoblosan. Yang kalau mereka kalah, maka langsung bisa berekspresi sebab semuanya sudah ada di lapangan. Lagi-lagi satu langkah lebih maju.

Namun beruntung berkat kecerdikan Presiden Jokowi, Tito karnavian, Panglima Gatot dan ulama NU, diturunkanlah tamasya Banser NU, tamasya TNI dan tamasya Polri. Pesannya jelas sekali, NKRI harga mati! Yang mau khilafah ke negeri onta saja!

Sehingga melihat respon pemerintah yang sangat brilian, si tua Rais mantan ketum Partai Ajaib Nasional itu hanya bisa berseloroh “dulu Pak Karno dan Pak Harto belum pernah terang-terangan melibatkan TNI, tapi yang satu ini, luar biasa.”

Saya jadi ingat kata teman, sekali Belanda tetap Belanda. Sekali tokoh tukang onar ya tetap sampai mati jadi tukang onar. Si tua Rais tersebut sepertinya kecewa karena strategi kerusuhan yang dirancangnya kini dimentahkan oleh pemerintah. Sekarang yang tersisa hanyalah sedikit provokasi tidak penting, seperti cokelat di atas tumpukan lauk nasi padang, nggak penting!

TNI, Polri dan Banser NU memang harus bergerak bersama menjaga NKRI dari kelompok radikal yang berkoalisi dengan kelompok kebelet berkuasa. Sudah benar. Kita tidak mau kecolongan seperti aksi 411 yang hanya mengandalkan Polri. Kini TNI, Polri dan NU sudah bersatu menjaga Indonesia. R.I.P khilafah cingkrang!

Terakhir, mari terus pantau dan lawan setiap detail propaganda yang mereka lancarkan. Karena meskipun pidato ‘sujud syukur’ serta aksi negatif yang terstruktur sistematis dan massif sudah mereka siapkan serta lancarkan lebih awal, bisa jadi siang atau sore nanti mereka akan tetap mengulang quick count terbalik dan sujud syukur tertukar episode dua.

Kepada Polri, TNI dan Banser NU selamat bertugas mengamankan Jakarta. Tetap waspada, sebab kaum bumi datar sudah keluar banyak uang untuk bayar logistik tamasya almaidah.

Begitulah kura-kura.

Share.

About Author

Analyst, Pemikir, Pakar Mantan dan Spesialis Titik-titik WA: +15068028643 BBM: 74B86AE4

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage