Pilkada DKI 2017 Membuka Tabir Radikalisasi Indonesia

Pilkada DKI 2017 Membuka Tabir Radikalisasi Indonesia

5

Kurang dari 1 minggu, dalam 5 hari, Jakarta akan memilih antara Ahok-Djarot atau Anies-Sandi.  Lupakan semua mimpi pesta gagasan dan ide, pilkada DKI kali ini bahkan lebih buruk dari Jokowi melawan Foke di 2012. Ahok dan Anies adalah faktor akselerasi terbukanya wajah asli Indonesia.  Sebuah tabir sudah terbuka, rahasia busuk pun terungkap.

Begitu masifnya kelompok radikalisme mulai dari bergaya preman seperti FPI dan FUI, atau gaya institusi seperti MUI, sampai akademis dan professor doktor seperti Alfian Tanjung memperlihatkan radikalisme telah mengalami inkubasi yang cukup panjang.

Bahkan, kasus terakhir, ketika Universitas Paramadina, yang pada dasarnya adalah kawah para pemikir Islam moderat dan modern, ternyata menunjukkan indikasi kuat adanya “proses radikalisasi” dari dalam. (Baca : Para Politisi Busuk Itu Merampas Paramadina )

Yayasan Paramadina sekarang ini memiliki Dewan Pembina Jusuf Kalla dan Didik J. Rachbini, dua orang yang jelas adalah pendukung Anies.  Didik bahkan adalah orang PAN dan bisa dikatakan “Jokowi Haters” sejak dari awal.

Dan ternyata, Anies Baswedan pun masih menjadi anggota yayasan, dan Sandiaga Uno adalah bendahara umum yayasan.  Semua jadi masuk akal, rupa-rupanya, semua yang terlibat sudah bergerombol cukup lama dan Paramadina adalah “tempat memadamkan api”.

Kasus ditolaknya istri Cak Nur untuk berdialog di Auditorium Nurcholish Madjid di Universitas Paramadina, yang didirikan suaminya sendiri oleh “komite universitas” ini jelas adalah sebuah politisasi kampus.  Dan kekuatan yang besar ini tidak mungkin tiba-tiba hadir.

Secara sistematis, kekuatan kelompok sektarian ini telah mengambil alih kekuatan kelompok sang Surya (Cak Nur).  Sebuah fakta yang tidak bisa dianggap ringan, karena sekarang ini JK adalah RI2, sekaligus ketua Dewan Mesjid Indonesia.  Artinya, kekuatan jaringan Paramadina sekarang bertumpu di JK yang notabene adalah oportunis sektarian.

Sumber: http://paramadina.or.id/struktur-organisasi/

****

Dari lapisan paling bawah, bisnis, akademis, rohaniwan, sampai birokrat benih-benih sektarian telah bertumbuh menjadi garis keras, dan di Pilkada DKI 2017 telah mulai berbuah radikalisme.  Dan momentum buah radikalisme ini tepat dengan kondisi global yang sedang diwarnai dengan munculnya ISIS berserta jaringannya.

Hudud Law (syariah) di Malaysia yang terus diusahakan untuk disetujui parlemen, masalah sosial politik karena imigran-imigran di Eropa, sampai terakhir bom yang meledak di gereja koptik Mesir yang menewaskan 44 orang, dan ratusan terluka semuanya memperlihatkan bahaya radikalisme adalah bahaya global yang sekarang bermanifestasi secara nasional.

Fakta-fakta ini jelas data yang memprihatinkan.  Perjuangan melawan radikalisme akan semakin menempuh jalan yang terjal dan berliku apabila Anies-Sandi memenangkan Pilkada DKI 2017.  Anies-Sandi bagaikan bulan yang tidak memiliki sumber sinar sendiri, bulan hanyalah pantulan dari matahari.  Artinya, sebuah kamuflase yang sangat sulit untuk dilihat.

Dibutuhkan ketajaman dan kecerdasan spiritual yang cukup untuk bisa melihat bahwa, semua yang terlihat hanyalah pantulan, karena yang asli ada sang matahari yang memancarkan panasnya tanpa henti.  Apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, paling tidak kita bisa berusaha untuk mencegah radikalis memiliki Jakarta.  Karena dengan didudukinya Jakarta, maka akan terbentuk benteng (stronghold) yang dikemudian hari akan lebih sulit untuk menghancurkannya.  Memenangkan Ahok-Djarot adalah langkah awal deradikalisasi.  Itulah sebabnya, PKB, PPP, NU, Ansor dan semua kelompok Islam Moderat mendukung Ahok.  Karena sudah dipetakan, kali ini adalah pertempuran moderat vs radikal.  (Baca: 19 April 2017 Akan Memperlihatkan Wajah Indonesia )

Kedua, mulai proses deradikalisasi disemua segmen masyarakat. Bisnis dan sekolah adalah dua tempat di masyarakat yang bisa menjadi kendaraan utama untuk deradikalisasi.  Para pemimpin bisnis dan pemilik sekolah harus memasukan untuk nasionalisme yang Pancasilais menjadi nilai dalam institusi-institusi yang dikelola.

Ketiga, menjadi “penjaga bangsa”.  WNI haruslah bangkit dan menjadi penjaga-penjaga bangsa.  Setiap kali ada sesuatu yang membawa kepada radikalisme harus segera dilaporkan kepada yang berwajib dan diberantas sedini mungkin.

***

Pilkada DKI 2017 bukan lagi soal memilih Ahok-Djarot atau Anies-Sandi semata. Tapi resiko yang ada lebih besar dari sebelumnya.  Pilkada kali ini adalah pertempuran antara moderat dan radikalisme.  Para pendukung Anies-Sandi yang nasionalis, dan masih rasionalis harusnya sadar this is not a joke anymore.

Untuk Indonesia bisa hancur seperti Suriah, tidak akan serta merta terjadi apabila Anies-Sandi menang. Tapi jalan menuju Indonesia yang tidak kondusif untuk non-muslim akan terjadi. Proses radikalisasi yang masif dan terstruktur pasti terjadi.

Tidak malu lagi, PKS salah satu motor utama sektarianisme di Indonesia, mengatakan melalui Ketua Fraksi DPR RI, Jazuli Juwaini  (sumber):

“Kami tak minta ongkos pulang, tapi kembalikan 30 kursi PKS di DKI Jakarta,” kata Jazuli.

“Tanggung jawab Pak Anies, setelah mengurus rakyat DKI, memenangkan PKS di DKI Jakarta,” kata Jazuli.

Dan permintaan itu sudah disanggupi Anies Rasyid Baswedan!  Sejarah mencatat hal ini.

“Kalau nambah kursi, Insya Allah gampang Pak Jazuli,” ujar Anies.

Inilah panggilan untuk semua relawan Indonesia Baru untuk bangkit dari kenyamanan. 10 tahun SBY telah menjadi masa inkubasi radikalisme.  In waktunya Indonesaia Baru dikembalikan ke wajah aslinya, Bhinnek Tunggal Ika.

 

Pendekar Solo

Share.

About Author

Seorang WNI yang merindukan Indonesia Baru

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage