Pilkada DKI 2017 Memperlihatkan Anies Baswedan Mengikuti Jejak Amien Rais

Pilkada DKI 2017 Memperlihatkan Anies Baswedan Mengikuti Jejak Amien Rais

24

Fenomena Anies Baswedan di Pilkada DKI 2017 baik menang atau kalah sudah menjadi sejarah tersendiri. Ada “guyonan” mengatakan kalau ingin dicatat sejarah berbuatlah sebaik mungkin, atau segila mungkin.  Nampaknya Anies memilih jalan kedua, segila mungkin.

Setelah satu kubu dengan “kelompok baik” dan protagonis  dengan Jokowi, Ahok, Ridwan Kamil, dan Risma, sekarang ini karena manuver politik Anies yang luar biasa “gila” dalam 3 bulan terakhir, Anies menempatkan diri menjadi kelompok antagonis bersama para radikalis, politikus pencemooh, bahkan sampai keluarga cendana.

Bolehlah para pendukungnya menjustifikasi gaya politik Anies sebagai “cara normal” menuju DKI 1. Bahkan para pendukung rasionalis berusaha mensejajarkan kebrutalan Anies dengan gaya Ahok yang ke Golkar, dan dipihak Ahok ada Setyo Novanto, Surya Paloh, dan Hendropriono.

Tapi, justifikasi mereka  justru membuat kita mengerti bahwa sebenarnya sisa-sisa pendukung nasionalis dan rasionalis Anies juga tidak nyaman bersama para radikalis, dan politisi-politisi yang hanya berbasis kepentingan bukan pengabdian.

Tapi apa daya, mereka sudah terkadung memakai “way of evil”, maka mau tidak mau harus bisa mengikuti permainannya.  Harapannya, nanti kalau sudah menang menjadi DKI 1, maka Anies akan kembali menenun sobekan-sobekan kebangsaan menjadi tenunan yang indah lagi. Good wish, stupid way of thinking.

***

Kehilangan Anies di Pilkada DKI sebenarnya sebuah kehilangan besar bagi NKRI.  Apakah Anies bisa kembali menjadi “nasionalis sejati” dari “nasionalis SARA” adalah sebuah misteri Ilahi yang hanya waktu yang bisa membuktikan, dan Tuhan yang tahu bagaimana akhir karir politik Anies.

Karena masa depan milik Tuhan, maka yang kita bisa kita katakan hanyalah sekarang ini, dan memprediksi apa yang akan terjadi berdasarkan data yang sudah terjadi, dan sedang terjadi.  Dalam konteks seorang Anies, track record Anies bercampur antara sangat baik, dan sangat jelek.

Saat ini, Anies ada di titik paling rendah dari sudut pandang sebagai tokoh nasionalis, pluralis, dan bhinneka. Dan sejarah mencatat bahwa lawan politik Anies, yaitu Ahok-Djarot TIDAK PERNAH menyerang baik Anies, maupun Sandi dengan isu-isu agama ataupun sektarian.

Sebab itu sekarang ini nilai raport Ahok-Djarot sebagai nasionalis jauh lebih tinggi dari Anies-Sandi. Dan raport ini lahir karena manuver-manuver politik Anies sendiri.  Jadi, jangan pernah menyalahkan siapapun apabila nama baik Anies hancur.  Fakta-fakta memperlihatkan dengan jelas dan disaksikan seluruh bangsa Indonesia.

Artinya, secara politis posisi Anies untuk keluar dari cengkraman Gerindra – PKS adalah hampir mustahil.  Exit point yang mungkin terjadi adalah kalau Prabowo naik jadi Presiden 2019, dan kembali Anies masuk kabinet, dan dia mulai menggalang lagi cerita melawan Prabowo, maka para oportunis nasionalis akan bergabung dengan Anies melawan Gerindra – PKS.  Tapi ini skenario mahal dan jangka panjang. Hingga, dalam waktu dekat Anies akan selalu berwajah agamis, dan SARA.

Lebih menyedihkan, apabila tidak ada exit point, maka nasib karir politik Anies Baswedan akan serupa dan sama dengan Amien Rais. Keduanya sama-sama P.hd.  Amien Rais adalah S3 dari Universitas Chicago, dan Anies Baswedan adalah S3 dari Universitas Northern Illinoi.  Keduanya dibidang Ilmu Politik (political science)

Amien dari tokoh reformasi yang terhormat, menjadi tokoh antagonis yang selalu kalah dalam percaturan politik nasional. Terakhir, malah menurunkan derajat dengan ikut berdemo bersama FPI di demo 212.  Terlihat, Amien tidak bisa exit dan harus terus bergantung dengan isu SARA untuk bisa eksis di politik Indonesia.

Kisah ironis yang sama bisa terjadi, bahkan sedang terjadi.  Anies dari tokoh nasionalis, pluralis, dan bhinneka yang terhormat terpuruh menjadi politisi SARA yang haus kekuasaan.

***

Baik Amien dan Anies sama-sama telah mempraktekkan ajaran Niccolo Machiavelli dengan sangat baik.  Dalam istilah bahasa Indonesia, Amien dan Anies adalah MAKEAVELIS sejati.  Siapakah Niccolo Machiaveli?

Filosof politik Italia, Niccolo Machiavelli, termasyhur karena nasihatnya yang blak-blakan bahwa seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman penggunaan kekuatan (sumber)

Tentunya derajat ke-makeavelis-an Amien, Anies, dan konsep Machiavelli bisa diperdebatkan, tapi yang bisa disimpulkan adalah cara “by all means” sudah dan sedang dipraktekkan baik Amien maupun Anies.

Fenomena ini menarik dikaji, apakah universitas-universitas di Amerika terutama jurusan ilmu politik akan menghasilkan makeavelis-makeavelis yang lain?   Ataukah memang sejak dari awal baik Amien maupun Anies adalah seorang makeavelis yang natural?

Apapun jawabannya, Pilkada DKI 2017 telah menghadirkan sosok Anies Baswedan menjadi manifestasi Amien Rais.  Dari seorang yang diharapkan menjadi negarawan, tetapi ternyata “hanya” seorang politisi biasa.  Ibu pertiwi pun menangis kembali.

Pendekar Solo

Share.

About Author

Seorang WNI yang merindukan Indonesia Baru

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage