Seandainya Halimah Yacob di Indonesia, Nasibnya Tak Semulus di Singapura

Seandainya Halimah Yacob di Indonesia, Nasibnya Tak Semulus di Singapura

8
Dok. Tempo.co

Dok. Tempo.co

Mungkin sebagian orang masih ragu mengenai masalah ini, namun yang ingin saya katakan bahwa petaka Pilkada Jakarta akan berdampak pada pola pikir masyarakat dari kalangan tertentu, yang dimana dulunya tak menjadi persoalan kini menjadi masalah, yang dulunya tak dipermasalahkan kini jadi menyeramkan.

Pahitnya kenyataan Pilkada Jakarta yang mau tak mau, suka tak suka, kita harus akui isu SARA menjadi trend baru dalam pola permainan politik kita. Sebuah kemuduran dalam paraktik berdemokrasi kita dimana jika anda shalat jenazah saja dipolitisasi.

Ada kabar baik datang dari tetangga sebelah dimana Halimah Yacob resmi dinyatakan sebagai Presiden terpilih pada Rabu siang 13 September 2017 setelah berkas nominasi kepresidenannya dinyatakan lengkap dan memenuhi syarat untuk menjadi Presiden Singapura.

Pernyataan ini disampaikan oleh Returning Officer Ng Wai Choong, Kepala Eksekutif Otoritas Pasar Energi, pada Pusat Nominasi Presiden di kantor pusat Asosiasi Rakyat (People’s Association) di jalan King George’s Avenue Singapura.

Perlu diketahui bahwa Halimah akan menjadi Presiden Singapura perempuan pertama dan Presiden dari etnis Melayu pertama dalam kurun 47 tahun terakhir. Mengutip dari media Singapura Channel NewsAsia, Kantor Perdana Menteri Singapura menyatakan pelantikan Halimah sebagai Presiden ke 8 Singapura akan dilaksanakan pada Kamis 14 September 2017 di Istana, Singapura pukul 18.00 waktu setempat.

Menariknya, Pemilihan Presiden Singapura tahun 2017 ini  dikhususkan bagi kandidat dari etnis Melayu. Dua kandidat lainnya, pengusaha Mohamed Salleh Marican dan Farid Khan, tidak memenuhi salah satu syarat yang diajukan Komite Pemilihan Presiden Singapura. Ini membuat Halimah Yacob menjadi kandidat tunggal pada pemilihan presiden Singapura tahun ini.

Halimah boleh berbahagia lantas terpilih menjadi Presiden di Singapura, tapi saya mencoba membayangkan bagaimana jika langkah Halimah ini ia lakukan di Indonesia, apakah akan semulus di Singapura?

Nah, jawaban yang sangat sederhanya adalah Halimah akan bertarung habis-habisan dengan berbagai tafsiran yang sengaja di politisasi. Lihat saja bagaimana pertarungan Ahok dengan tafsiran, ada yang melihat Ahok sebagai musuh utama sehingga memanfaatkan momentum dengan mulai meracik strategi yang luar biasa. Anda bisa bayangkan saja jika pendukung Ahok yang meninggal dunia sekalipun sampai enggan di shalatkan.

Halimah akan berjibaku dengan kelompok fundamentalis yang secara matematis tak terlalu banyak hanya saja pandai meracik isu, kepandaian mereka terorgansir dengan dukungan pihak-pihak yang berkepentingan  yang tentunya memainkan strategi jitu. Halimah juga akan harap-harap cemas dengan berbagai pendapat ulama yang bisa saja menghalangi langkahnya, maklum saja kini fatwa ulama yang menguntungkan pihak-pihak tertentu akan dimainkan secara manis oleh pihak yang di untungkan.

Memang kita pernah memiliki yang namanya Ibu Mega, tetapi itu dulu kala. Pasca Pilkada DKI saya justru pesimis bahwa akan hadir Mega yang baru, sebab persoalan yang lama seperti pada tahun 2014 munculnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan fatwa beberapa ulama di Jawa Timur yang mengharamkan presiden perempuan tidak perlu ditanggapi. Sikap MUI kala itu begitu, tapi kini saya yakin MUI bisa saja di minta untuk mengeluarkan fatwa berdasarkan kemauan pihak-pihak tertentu.

Pertarungan penafsiran dulu bisa diredam dengan MUI memilih tak mencampuri dan tidak ingin menanggapi fatwa tersebut. Namun perlu diketahui bahwa kini pergesaran terjadi seiring dengan munculnya kelompok yang berjubah agama dalam menggiring opini publik.

Maka yang Halimah akan temui di Indonesia adalah pertarungan tafsir antara yang setuju dan tidak setuju, misalkan pada konteks haramnya Presiden perempuan ini masih ada perbedaan pendapat atau khilafiah di kalangan ulama. Ini terjadi karena ada perbedaan penafsiran atas Al Qur’an dan Al Hadist.

Misalnya di Al Qur’an disebutkan laki-laki merupakan pemimpin atas perempuan. “Arti pemimpin atas perempuan ada penafsiran lain, bahwa pemimpin itu bukan mengatasi tetapi merupakan penyangga atau pendukung dari bawah. Tetapi ada pula yang bakal ngotot jika Presiden dari kalangan perempuan itu ‘haram’.

Mereka tentunya akan berpegang teguh dengan pola lama. Halima akan berhadapan dengan tafsiran bahkan demo berjilid-jilid. Sebab seperti yang sudah utarakan di atas bakal ada yang ngotot dengan pendapat mereka berdasarkan  hasil penafsiran mereka”Tidak akan bahagia suatu kaum apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita.

Halimah tentunya akan berhadapan dengan arti pemimpin dalam (QS. An Nisaa’ : 34) dimana “Laki-lakilah yang seharusnya mengurusi kaum wanita. Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita” walaupun Halimah akan mendpat sedikit angin segar dari penfasiran penafsiran lain, bahwa pemimpin itu bukan mengatasi tetapi merupakan penyangga atau pendukung dari bawah. Akan tetapi Halimah dipastikan akan bertarung habis-habisan walaupun Halimah layak, bersih dari korupsi, rekam jejak baik, kinerja baik, tapi jika sudah berbeda tafsiran maka pastinya Halimah bakal bertarung sampai ke akar, kalaupun menang Halimah maka itu sejarah baru juga bagi Indonesia, sebab isu yang mematikan adalah isu tafsiran yang dipolitisi.

Untuk kalian Halimah Indonesia, bermimpilah seperti Halimah Singapura tetapi ingat perbedaan tafsiran itu ada, bahkan berpotensi di politisasi maka hentikan mimpi kalian jika tak mampu membendung tafsiran yang dipolitisi.

Share.

About Author

Atas dasar romantisme kegelisan yang sama

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage