Siswa SMA Tewas Diadu Seperti Gladiator, Ibunya Curhat ke Pak Jokowi

Siswa SMA Tewas Diadu Seperti Gladiator, Ibunya Curhat ke Pak Jokowi

358

theasianparent.com

Sebuah status FB berisi curhat memilukan dari seorang ibu bernama Maria Agnes kembali mencuat karena hatinya hancur kehilangan anaknya yang setahun lalu dihabisi teman-temannya sebaya secara brutal. Anaknya bernama Hilarius Christian Event Raharjo siswa  10 di sekolah SMU BUDI MULIA mengalami kekerasan tetapi dijadikan tontonan puluhan siswa bahkan divideokan tanpa ada satupun yang iba dan menolongnya. Ibu Maria Agnes mencurahkan kembali kepedihannya yang mendalam sekaligus mengiba kepada Pak Jokowi agar menaruh perhatian serta memberi keadilan bagi kasus yang menimpa anaknya.

Kepada Bpk Presiden RI JOKO WIDODO yg saya hormati…Salam sejahtera buat bpk sekeluarga dan seluruh rakyat Indonesia. Bpk..sy adalah seorang ibu biasa dari kota Bogor yg biasa bpk kunjungi…sy tinggal di dekat istana batutulis bogor…Bpk..ijinkan sy mengadu dan bicara apa adanya tentang kekerasan yg merenggut nyawa anak saya Hilarius Christian Event Raharjo kls 10 di sklh SMU BUDI MULIA jl kapt Muslihat bogor lingkungan gereja Katedral Bogor..dan siswa yg membunuh anak sy adlh siswa SMU MARDI YUANA jl Sukasari bogor lingk gereja katolik Santo Fransiskus Asisi ….

Kabarnya Hilarius dijebak dengan dibujuk untuk menonton pertandingan basket. Tak tahunya dia dijebloskan ke dalam ajang tarung a la gladiator oleh temannya. Lebih miris lagi saat kejadian itu banyak siswa yang menyaksikan tetapi tidak ada empati atau belas kasihan. Tak ada usaha sedikitpun untuk mencegah dan malah merekamnya melalui video. Itulah yang membuat sedih dan prihatin, fenomena orang saat ini yang sudah tidak lagi punya kepekaan dan menjadikan aksi penganiayaan serta kekerasan itu sebagai entertainment alias tontonan serta parahnya, menikmatinya!

Hari demi hari adalah siksaan buat sy yg menginginkan KEADILAN UTK PENGHILANGAN NYAWA ANAK SY PAK PRESIDEN…Iya Pak…sy terhalang oleh hati sy yg tersiksa oleh syarat autopsi yg harus di lakukan terhadap anak sy yg sehat walafiat di bunuh…dan hrs di siksa lg dgn Autopsi…bukankah sy berhak utk menolak Autopsi…Tapi sy inginkan supaya semua pelaku nya di hukum….KARENA ADA 50 ORG LEBIH YG MENONTON ANAK SY DISIKSA SAMPAI SAKRATUL MAUT YG DI VIDEOKAN OLEH SISWA2 SKLH KATOLIK TSB DLM WKT HANYA BEBERAPA MENIT…kenapa anak sy setelah meninggal hrs di siksa lg Pak Presiden? HILARIUS di adu spt binatang di arena sorai sorai anak MY dan BM…meninggal sebentar krn dlm kondisi jatuh di tarik kakinya di injak ulu hati nya…jantung nya di injak…mata memutih…Hila berusaha bangun dan saat Sakratul Maut kejang2…di pukul di bagian kepala 6 kl pukulan di kepala dan Hila meninggal di tkp…di lapangan smu negeri 7 indrapasta bogor…atas suruhan promotor dari MY DO an utk pukul Hila yg blm KO kt nya….

Yang lebih sadis lagi adalah ada ketua OSIS yang ikut menjadi pelaku dan menedang korban. Mengerikan jika seorang leader dalam sebuah lembaga resmi sekolah juga ikut memimpin aksi kekerasan. Ngeri, perilaku bar bar yang teramat tidak patut ini jika dibiarkan terjadi di dalam maupun di luar sekolah. Lebih ngeri lagi ternyata acara ini digelar menjadi pertunjukan dengan adanya promotor! Lebih gila lagi sampai ketua OSISnya juga mendukung acara ini!

Saat Hila ingin mundur tdk mau berkelahi…pinggang Hila di tendang oleh ketua osis BUDI MULYA yg saat itu menjabat…hingga Hila meninggal dlm hitungan detik atau beberapa menit….dan mrk pelakunya ini tidak di hukum Pak….hanya yg saat itu sdg berkelahi saja yg di keluarkan dari sklh…Sementara promotor acara BOM BOM AN dr DO an BUDI MULYA ini msh bebas berkeliaran tak ada tanggung jawab secara moral…hanya uang pemakaman saja…Bpk Presiden…sy memohon Pak…spy ada penyempurnan peraturan hukum utk kekerasan yg mengakibatkan tunas bangsa harapan negara dan orang tua nya….nyawa nya hilang tanpa belas kasih…biar mereka pembunuhnya masih di bawah umur…tapi akibatnya tetap sama….hilang nyawa org lain….Sy sedih dan hancur Bpk Presiden…Mohon Bpk membantu sy utk solusi keadilan….

Sebagai seorang pendidik dan orang tua, saya bisa merasakan kepedihan seorang tua yang kehilangan anak dan siswa yang menjadi harapan orang tua, keluarga dan sekolah serta bangsa.  Sekolah seharusnya bersikap tegas dan menunjukkan tanggung jawabnya dalam kasus ini. Jika acara ini digelar menjadi acara yang berlaku secara rutin,  pihak sekolah seharusnya menciduk para dalang atau promotor agar mencegah kejadian seperti ini. Pihak sekolah tidak boleh mendiamkan apalagi cuci tangan. Seharusnya pihak sekolah atau pimpinan sekolah juga peduli dan ikut membantu keluarga korban yang mengalami kepedihan yang luar biasa ini.

Bullying atau kekerasan terus menjadi hantu yang gentayangan di mana-mana. Sekolah seharusnya menjadi tempat untuk mendapatkan pendidikan dan serta sosialisasi yang baik tetapi malah menjelma menjadi tempat pesemaian bibit-bibit kekerasan. Jika sekolah tidak mendeteksi sejak dini maka beginlah hasilnya, anak didik secara massal malah menjadi pelaku kekerasan atau tidak lagi memiliki empati terhadap korban kekerasan.

Budaya kekerasan di sekolah harus distop dan semua pihak harus terlibat tidak hanya para siswa tetapi juga guru, kepala sekolah serta semua pihak terkait. Pemerintah terutama Presiden Jokowi sudah menyerukan serta mengkampanyekan stop bullying pada bulan Juli lalu. Menunjukkan beliau sangat perhatian terhadap anak atau siswa di sekolah di Indonesia.

Berharap suara dari Ibu ini bisa terdengar sampai ke Pak Jokowi atau pihak-pihak terkait untuk segera turun tangan. Karena sejarah pendidikan kita kerap tercoreng dengan aksi kekerasan dari mulai pendidikan dasar bahkan sampai perguruan tinggi. Pihak kepolisian harus turun tangan jika kasus ini belum tuntas.

Semoga Ibu korban tetap diberi ketabahan dan keluarganya diberikan penghiburan oleh Tuhan. Kita ingin kasus ini segera bisa terusut dan keadilan serta kebenaran ditegakkan. Suara keadilan itu bukan sekedar untuk membalas dendam tetapi agar penegakan hukum bisa berjalan. Negara kita adalah negara hukum dan hukum itu didisain untuk melindungi serta juga sekaligus memberi rasa aman buat warga negara termasuk anak kecil, pelajar dan siapapun yang berhak atas perlindungan dan penegakan hukum.

Baca juga :
Share.

About Author

Seorang guru, penggemar bakmi dan makanan rica-rica...

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage