Surat Terbuka Kepada BEM Seluruh Indonesia (BEM SI)

Surat Terbuka Kepada BEM Seluruh Indonesia (BEM SI)

79

Assalamualaikum wr.wb,,

Salam Sejahtera untuk kita semua..

Sore hari ini (Rabu, 11 Januari 2017), saya sedikit terkejut dengan adanya Postingan di FB yang berisi ajakan kepada Mahasiswa untuk mengikuti Aksi 121 pada Hari Kamis besok. Saya langsung mengernyitkan dahi ketika pertama kali mata saya tertuju pada tulisan Aktivis BEM dari Fakultas saya.

Betapa tidak? Baru beberapa hari ini kita sedang dilanda isu yang sangat sensitif, mengenai “Dugaan” Penistaan Agama oleh salah satu Cagub petahana asal DKI Jakarta. Dengan segala keambiguan pemaknaan serta penyalahgunaan Ayat “Al-Maidah 51”, maka aksi penuntutan tanpa didahului “Tabayyun” itu semakin menguat di bawah payung teduh bermerk “Bela Islam”. Pada akhirnya aksi menjadi semakin kentara motif Politiknya oleh oknum-oknum “ulama” palsu – “Hubbud dunya wa karahiyatul Maut” dengan mengeluarkan fatwa-fatwa sembrono. Lalu motif lain pun berkembang seiring dengan terkuaknya indikasi baru, yakni “Upaya Makar terhadap Pemerintah”. Alasannya karena pemerintah dinilai terlalu melindungi sang-terduga. Padahal memang sudah semestinya pemerintah bersikap netral dengan menegakkan Hukum yang seadil-adilnya sesuai aturan Perundang-udangan yang berlaku. Walau pada akhirnya Pemerintah dipaksa oleh tekanan massa untuk segera mengadili tersangka tanpa pertimbangkan Hukum Universal “Ada Reaksi (ungkapan Ahok) pasti karena ada Aksi (alasannya)”.

Baca: “Ahok dan Al-Maidah 51: Fanomena Intoleransi dan Ketidakadilan”

 

Namun rupanya Alloh SWT berkehendak lain. Satu persatu, kebohongan demi kebohongan pun terkuak dari berbagai kesaksian palsu para pelapor gadungan yang hanya bermodal “katanya” dan secuil Video potongan. Dengan demikian, ditetapkannya status Ahok sebagai Tersangka telah memberikan kita begitu banyak Hikmah.

Lalu apa kaitannya dengan Aksi 121 Besok?

Seperti yang telah terkuak sebelumnya bahwa telah ada indikasi upaya Makar terhadap Pemerintahan Jokowi-JK. Sangat pantas dipertanyakan apabila tiba-tiba muncul Ajakan Aksi Mahasiswa untuk mengikuti “Aksi Bela Rakyat 121”. Berikut ini salah satu Postingan dari seorang Mahasiswa BEM di Kampus saya:

[SERANGAN FAJAR BEM SELURUH INDONESIA]

*Hidup Mahasiswa !*
*Hidup Rakyat Tertindas Indonesia !*

Seruan Aksi Bagi Mahasiswa Seluruh Indonesia


_*Merapatlah ke titik aksi terdekat !*_

Atau buatlah mimbar di kotamu, sebagai upaya menyampaikan aspirasi rakyat
Agar mereka tahu bahwa mahasiswa masih ada
Agar mereka tidak bercanda dan sewenang-wenang mengelola negara

-19 Titik Aksi Bela Rakyat 121-

*A. Sumatera Bagian Utara*
1. ACEH : DPRD Aceh dan Lhokseumawe (085296628558)
2. PADANG : DPRD Sumbar (085364121493)
3. RIAU : DPRD Riau (085363815381)


*E. Bali-Nusa Tenggara/Sulawesi/Papua*
1. MATARAM : DPRD NTB (082340780876)
2. GORONTALO : DPRD Provinsi dan Kabupaten Gorontalo (082293572061)
3. MERAUKE : DPRD Papua (082399093364)

*_TURUNKAN HARGA!_*
Kami menagih janji politik di tahun 2014 itu
_*HILANGKAN DOMINANSI ASING!*_
Kami tak ingin menjadi kuli di negeri sendiri
*_DISTRIBUSI KESEJAHTERAAN!_*
Naiknya ekonomi hanya dirasakan para bangsawan

Jika hari ini rakyat masih disajikan dagelan drama pengelolaan negara, maka atas izin Dzat yang jiwa kami berada di tangan-Nya, akan bergulir Reformasi Jilid 2!
Semboyan kami tetap, MERDEKA atau MATI!

*Hidup Mahasiswa!*
*Hidup Rakyat Indonesia!*
#aksibelarakyat121

Apakah selama ini pernah ada Mediasi / Diskusi terbuka dengan Pemerintah?? Ataukah hanya sekadar mencari sensasi dengan bermain-main Aksi??

Makna “Agent of Changes” terlalu mulia untuk dikotori oleh Kekerasan dan Pengarahan massa tanpa arah.

Tak lain semua itu hanya akan menciptakankan Reformasi  Non-Solutif, yang hanya akan melahirkan Pemerintahan baru yang tidak lebih baik dari Pemerintah sebelumnya. Sejarah Membuktikan dengan adanya Reformasi (Peralihan Kekuasaan secara Paksa) justru hanya memperburuk perekonomian dan pembangunan Negara.

Kesalahan TERBESAR Mahasiswa Indonesia adalah JATUHNYA PEMERINTAHAN SOEKARNO AKIBAT AKSI 1966. Akibat jatuhnya Pemerintahan Presiden Soekarno, Rencana Kebijakan Pemerintah yang awalnya berusaha menahan masuknya tawaran “Investasi Asing” untuk melindungi kekayaan alam untuk (kepentingan) rakyat, (Sumber Daya Manusia) dari rakyat, dan (pengelolaan) oleh Rakyat, semua rencana itu harus BUYAR akibat perubahan Kebijakan oleh Pemerintahan Presiden Soeharto yang “mempersilahkan” masuknya Investasi Asing ke dalam Negeri. Pada Akhirnya menyebabkan bumi Indonesia kini dieksploitasi habis-habisan oleh “Saham-saham Asing”. Betapa mirisnya nasib negeriku..

Saya bukannya ingin menjelek-jelekkan Pemerintahan Presiden Soeharto. Saya tidak memungkiri fakta bahwa Presiden Soeharto telah berjasa membangun negeri ini dengan berbagai pembangunan-pembangunan yang masif dan “Pro-Rakyat”. Namun sekali lagi GARA-GARA aksi Mahasiswa menjatuhkan Pemerintahan Soeharto pada 1998, Bangsa Indonesia lagi-lagi harus menelan kembali pil pahit hasil Karya-Pembangunan yang masih mentah dari pemerintahan Soeharto. Belum sempat Indonesia menyahur hutang-hutang (modal pembangunan Negara) melalui sektor-sektor Perindustrian, belum sempat Indonesia menikmati Mahakarya “Pesawat N250-Gatotkaca” made in Indonesia, Indonesia harus menelan nasib pahit dengan perintah dibekukannya Perusahaan IPTN atas siasat licik IMF yaitu “menonaktifkan anggaran dan non-anggaran untuk proyek IPTN”. Demikian pula nasib berbagai Perusahan-Perusahaan BUMN lainnya.

Tidak hanya pada Reformasi Pemerintah, sejarah pun telah membuktikan bahwa adanya perombakan-perombakan Parlemen di Indonesia atas berbagai “Mosi tidak percaya” mengakibatkan tersendatnya pembangunan negara akibat nasib program-program dan pembangunan yang dis-continue. Perlu diketahui bahwa setiap Pemerintahan pasti memiliki “Strategi Khusus / Unik” yang berbeda dengan model pemerintahan lain dalam membangun negerinya. Apa yang terjadi ketika Program-program yang tengah dijalankan tiba-tiba harus mandeg di tengah jalan akibat kejatuhan atas nama Demokrasi??

Apakah tidak ada solusi yang lebih baik daripada sebuah Aksi Reformasi?

Haruskah Reformasi diadakan? Mengapa harus menjatuhkan Pemerintah yang sah? Apakah karena Jokowi-JK dianggap tidak becus menjalankan tugasnya sebagai kepala Pemerintahan lantas menjadikan alasan kita mengadakan Reformasi?? Apakah semua salah Presiden?

Apakah kita pernah bercermin betapa sulitnya menjadi Pemimpin yang Jujur dan Tegas di tengah-tengah Sistem yang Korup dan “anak-anak buah” yang brengsek??

 

 

Bila kemudian BEM SI menuntut MPR untuk mengadakan Sidang Istimewa (lihat tuntutan nomor 3 pada gambar di atas) untuk “menjatuhkan” Presiden, maka pertanyaannya:

“Coba tanyakan kepada anggota DPR berperut bucit dan berdandan menor di sana. Apa jasa yang telah mereka berikan untuk Rakyat??

Pertanyaan kedua, Kemana larinya uang Rakyat? Lantas apakah Presiden harus menangkap sendiri tikus-tikus itu satu persatu?? Sedangkan begitu banyak petinggi-petinggi negeri ini yang begitu hina meludahi janjinya sebagai Pelayan Rakyat.

Sementara itu di tengah pontang-pantingnya Presiden & Wakil Presiden memperbaiki nasib – masa depan Bangsa Indonesia, BEM SI justru menggoyang dari bawah tanpa memberi Solusi Sistematik??

            Ayo Cerdaslah!

Sebelum saya akhiri, saya akan mengutip salah satu ayat tentang etika dalam mengingatkan seorang Pemimpin menurut perintah Alloh SWT:

“Pergilah kamu berdua (Nabi Musa & Harun) kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut” [QS. Thaahaa : 43-44].

Ayat di atas jelas-jelas menunjukkan bahwa Alloh saja telah memerintahkan kepada kita untuk mengingatkan seorang pemimpin yang salah/khilaf harus dengan cara yang lembut & santun. Walaupun pemimpin yang dituju adalah Fir’aun, manusia biadab yang Mengaku dirinya sebagai Tuhan!

            Bijaklah Wahai Mahasiswa!

Sebagai penutup, saya memohon maaf apabila surat ini kurang berkenan di hati kawan-kawan seluruh mahasiswa BEM se-Indonesia. Sebagai Mahasiswa non-aktivis BEM, saya bukannya bermaksud menggurui. Namun semua ini karena dalam hati terdalam, saya sangat miris dengan sikap kekurang-bijakan sebagian Mahasiswa dalam mempertimbangkan diadakannya berbagai Aksi hingga Reformasi sepanjang Sejarah Bangsa Indonesia hingga kini.

Wassalamualaikum wr.wb,,

 

Best Regards!

Salam Generasi Emas Indonesia 2045

Share.

About Author

Aktivis Independen, Mahasiswa Teknik - Universitas Negeri Yogyakarta

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage