Tak Apa Ahok Kalah, yang Penting Jokowi 2 Periode

Tak Apa Ahok Kalah, yang Penting Jokowi 2 Periode

13

Terus terang saya sedikit kecewa ketika Ahok dinyatakan kalah pada putaran ke-2. Perbedaan agama dan  ras-lah yang membuat ia kalah telak. Pada putaran pertama isu SARA sepertinya kurang diminati oleh warga Jakarta, sebab itu Ahok masih unggul meskipun suaranya tergerus. Tapi pada putaran kedua isu agama semakin digembor-gemborkan. Tim Anies gencar sekali menyuarakan isu agama ini lewat masjid-masjid. Demo berjilid-jilid atas nama agama dilakukan. Provokasi, intimidasi, dan ancaman jadi makanan sehari-hari. Dan mereka berhasil. Anies menang. Tapi lihatlah, seluruh media asing menyebut kemenangan  Anies-Sandi karena pengaruh kelompok Islam garis keras yang gencar menggunakan isu SARA. Martabat Indonesia yang dikenal Islam moderat hancur seketika.

Naiknya Anies menjadi Gubernur tentu akan memberikan jalan bagi Prabowo untuk mencalonkan kembali menjadi Presiden, dan PKS tetap setia menjadi tim pendukungnya. Ironi memang karena sebelum mencalonkan jadi Presiden, Prabowo dikenal tokoh nasionalis yang sama sekali tak pernah kampanye atas nama agama. Terbuti saat itu Ahok pernah diusung oleh Gerindra. Tapi ada ungkapan yang mengatakan,”Jika kau berteman dengan pandai besi, bisa jadi percikannya tidak mengenai dirimu, tapi kau tetap akan mendapatkan bau asapnya”. Nah, ungkapan ini berlaku bagi Prabowo, dia memlih PKS menjadi kawan sejati (atau PKS yang deket-dekat?) pada akhirnya ikut cara-cara PKS yang sangat getol sekali memakai isu primordial dalam berkampanye: jualan agama dan ayat bahkan ras.

Lihat juga Anies. Sebelum mencalonkan diri jadi Gubernur ia bisa disebut nasionalis. Bahkan ia pernah dituduh syiah oleh kaum sapi-sapian gara-gara menjabat Rektor Paramadina yang dimiliki oleh Nurcholis Madjid, yang sangat getol menyuarakan pluralisme. Tapi setelah ia bergabung dengan PKS, kelakuannya sama saja. Ia selalu mencitrkan dirinya orang yang agamis. Kampanye atas nama agama juga ia biarkan. Anies seperti kehilangan identitias, menggunakan ayat untuk mendulang suara.

Sungguh saya sejatinya masih bisa menerima kenyataan bahwa Anies lah yang terpilih menjadi Gubernur. Tapi suatu hal yang tak bisa saya terima adalah PKS dan kelompok lain yang berafiliasi, misalnya HTI, FPI,FUI berpesta pora mendapatkan ruang kebebasan di kota Jakarta. Secara nalar, tidak mungkin Anies menyia-nyiakan kelompok tersebut, pasti ada politik balas jasa. Bahkan saat pidato kemenangan, Prabowo berterus terang berterimakasih pada kelompok FPI dan kroninya.

Politisasi agama ini sungguh memalukan. Lihatlah orang-orang dibalik semua itu, para elit politik dan cukong China kelas atas. Kelompok garis keras itu meneriakkan agama, ayat, surga-neraka, terhadap Ahok padahal mereka sendiri disetir oleh Cukong China yang rakus harta. Pilkada yang panas memang hanya menguntungkan segelintir orang, yaitu orang yang haus kekuasaan. Ahok hanyalah batu ganjalan untuk menjatuhkan Jokowi.

Bahkan dalam investigasi Allan Nairn disebut bahwa Hary Tanoe memberitahu Trump tentang pentingnya mendukung kubu Prabowo dan menyingkirkan lawan politiknya, termasuk Jokowi, dan itu dimulai dari Ahok. Sumber : https://tirto.id/investigasi-allan-nairn-ahok-hanyalah-dalih-untuk-makar-cm2X . Ya, Jokowi dalam bahaya, bisa jadi Amerika nantinya ikut andil untuk melengserkannya.

Tak peduli bagaimana Jokowi bekerja keras membangun pedalaman tanah air yang sejak merdeka tak pernah mendapat haknya, ia akan tetap dipandang musuh oleh orang yang haus harta dan kekuasaan. Tak peduli Jokowi mati-matian membangun infrastruktur dan menguhubungkan semua pulau Indonesia dengan jalan dan kereta, ia akan dirongrong pemerintahannya. Kita tentu masih ingat dulu saat Jokowi baru menjabat, DPR banyak bertingkah. Setelah itu perseteruan tak henti-henti antara TNI-Polri, Polri-KPK, Isu PKI, dsb tapi Jokowi berhasil melewatinya.

Pada pilpres mendatang isu agama dan komunis tetap akan dipakai. Para penggeraknya tentu orang-orang PKS dan ‘konco-konconya’ yang gencar sekali dakwah di masjid. Suara ulama NU yang paling getol mendukung Jokowi bisa jadi akan terpecah, seperti saat ini. Memang dilema membubarkan FPI dan organisasi radikal lainnya. Jika dibiarkan mereka menjadi duri dalam pemerintahan, jika diberangus Jokowi akan dianggap kriminalisasi ulama sebagaimana yang sering dituduhkan saat ini.

Penguasaan Jakarta dan Jawa Barat oleh kubu Prabowo bisa menjadi halangan terbesar Jokowi. Proyek-proyek penting yang ditandatangani Jokowi akan molor dan sulit terealisasi. Jika PKS dan Gerindra saat ini sudah menguasai Jakarta, maka jangan biarkan hal itu terjadi pada Jawa Barat-yang merupakan basis terbesar PKS. Jika kedua wilayah itu berhasil dikuasai PKS dan Gerindra bukan mustahil kebhinnekaan Indonesia akan terancam. Isu SARA akan kembali terulang.

Tak apa Ahok saat ini kalah, toh ia masih bisa jadi Menteri. Tapi Jokowi harus tetap didukung, dua periode untuknya harga mati !!!

Tulisan lain bisa dilihat di FB: Anisatul Fadhilah

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage