Taktik Jitu Kapolri Tito Tekuk Habib Rizieq

Taktik Jitu Kapolri Tito Tekuk Habib Rizieq

177

Tito dan Rizieq (Tribunnews.com)

Saya sebetulnya terus mengamati nasib Rizieq di era Kapolri Tito. Setelah menikmati masa kejayaan di era SBY sebagai ‘attack dog’nya aparat, kini di jaman Ahok-Jokowi merana. Saat Tito menjadi Kapolda Metro Jaya 2014, 21 Anggota FPI termasuk Habib Novel ditangkap. Novel sendiri masuk penjara. Sejak saat itu kiprah FPI meredup dan mulai berkedip-kedip.

Akan tetapi nasib tidak bisa diprediksi. Kesempatan emas bagi FPI datang tanpa diundang. Keputusan SBY menjadikan puteranya, Agus sebagai calon Gubernur DKI, membuat FPI tersenyum lebar. Publik paham bahwa lawan tangguh Agus adalah Ahok. SBY yang cerdas, lagi-lagi menggunakan FPI sebagai ‘attack dog’nya. Seolah SBY kembali ingat masa lalu, ketika ia seolah-olah membiarkan FPI sebagai ‘attack dog’ aparat. SBY paham bahwa Ahok bisa ditekuk dengan senjata agama.

Seandainya Ahok tidak menyerempet Surat Al-Maidah ayat 51 itu, Ahok tetap saja menjadi sasaran kampanye SARA Habib Rizieq. Publik juga yakin bahwa menjelang Pilkada DKI, FPI akan bergerak lebih ganas berkampanye anti Ahok. Lima tahun sebelumnya FPI dengan di bawah pimpinan Rizieq, telah berjuang menghentikan Ahok dengan berbagai cara. Nah, dengan adanya pencalonan Agus dari kubu Cikeas, Rizieq-FPI seolah mendapat teman baru, energi baru.

Bagai mendapat durian runtuh, sebaris ucapan Ahok tentang Surat Al-Maidah itu digunakan menjadi senjata dahsyat. Dipicu dengan video Buni Yani yang telah diedit, ucapan video Ahok bagai kilat menyebar ke seluruh pelosok jagat maya. Jadilah Rizieq dengan cekatan memanfaatkan ucapan Ahok itu untuk menghimpun dukungan.

Lewat Fatwa MUI, Rizieq membentuk GNPF-MUI. Aksi bela Islam I, II dan III terlaksana membahana. FPI kembali berjaya. Rizieq mendapat gelar sebagai ‘The man of the year’ dari komunitas Tionghoa. Mantap. Rizieq juga terlihat beberapa kali bertemu dan duduk bersama dengan Kapolri Tito. Yang menarik adalah kesediaan Tito merangkul Rizieq.

Taktik Tito merangkul Rizieq sebetulnya, hanyalah sementara. Alasannya, saat gencar-gencarnya aksi demo, posisi Rizieq lagi di awang-awang. Rizieq bagai aktor hebat yang sedang memanen dukungan untuk menghantam Ahok. Ia dengan amat mudah dapat bersatu dengan para lawan politik Ahok untuk menghancur-leburkan Ahok.

Tito yang cerdas mengikuti arah angin yang memihak Rizieq. Ia merapat dan duduk bersama dengan Rizieq untuk sementara. Dan Tito berhasil. Rizieq bagai singa ganas, dapat dijinakkan dengan elusan halus di punggung. Taktik Tito yang mau berbicara dengan Rizieq berefek aksi  demo berlangsung damai dan bahkan super damai.

Jelas, Rizieq tidak selamanya di atas angin. Ketika arah angin mulai menghuyunkan Rizieq, Tito sudah siap menerjangnya. Tito sangat paham, bahwa orang yang berada di balik kasus-kasus intoleran  selama ini adalah Rizieq  dengan FPI-nya. Dengan menekuk Rizieq dan FPI-nya maka NKRI sebetulnya amat mudah ditegakkan.

Akan tetapi Tito tidak langsung menekuk Rizieq. Tito juga paham bahwa ada beberapa kekuatan di belakangnya. Jadi untuk menekuk Rizieq, maka orang-orang yang sempat membuat dia berada di atas angin, yang pertama-tama dipreteli. Dan itulah yang terjadi. Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, dan kawan-kawan, sudah ditekuk. Setelah itu, kini kubu Cikeas sedang dipanah terkait penyandang dana makar. Gde Sardjana yang telah terbukti mentransfer uang ke Jamran, adalah pintu awalnya.

Ketika angin sudah mereda dan Rizieq sudah berada di daratan, saatnya mulai menekuk Rizieq. Laporan-laporan tentang Rizieq soal penistaan agama, laporan tentang penghinaan Pancasila, serta laporan penghinaan uang baru, kini mulai diproses. Nah, tentu saja di antara laporan-laporan itu, yang paling sensi adalah laporan tentang penghinaan Pancasila. Hal itu mendapat moment bagus ketika militer Australia menghina Pancasila menjadi Pancagila.

Jika Gatot dengan tegas memutuskan hubungan militer Indonesia dengan Australia karena menghina Pancasila, mengapa Rizieq yang menghina Pancasila dibiarkan bebas berkeliaran? Jelas momen tepat datang. TNI dan segenap rakyat mendukung Polisi mengusut si penista Pancasila, Habib Rizieq.

Panggilan pemeriksaan kepada Rizieq untuk diperiksa 5 Januari 2017 dilakukan. Prediksi polisi bahwa Rizieq tidak datang, lagi-lagi benar. Bukankah saat dipanggil terkait soal makar kemarin, Rizieq juga tidak datang? Rizieq mangkir dengan alasan sakit. Kalau demo tidak sakit, kalau diperiksa polisi sakit. Menarik. Pertanyaannya mengapa Rizieq sakit saat dipanggil soal Pancasila?

Sebetulnya Rizieq dilanda stress saat mempertimbangkan panggilan polisi itu. Kalau Rizieq datang, ia merasa malu. Bagaimana mungkin orang pembawa damai “The man of the year’ memenuhi panggilan polisi Jawa Barat? Bukankah Rizieq pernah berdiri sejajar dengan Jokowi saat demo 212? Bagaimana mungkin seorang Rizieq yang pernah duduk sejajar dengan Tito, memenuhi pangilan polisi Jawa Barat? Lalu bagaimana mungkin Habib Rizieq, yang didaulat sebagai imam besar umat  Islam Indonesia datang untuk diperiksa? Malu.

Akan tetapi kalau tidak mau datang, Rizieq ingat wajah Tito. Tito adalah Kapolri cerdas, tegas dan berani. Dialah yang menekuk FPI saat mendemo Ahok di Balai Kota. Selama Tito menjadi Kapolda Metro Jaya, Rizieq dengan FPInya terpaksa memilih tiarap. Namun kalau panggilan polisi itu tidak dipenuhi apa kira-kira reaksi Tito? Mungkinkah dia akan menjemput paksa saya alias ditangkap. Memikirkan hal itu, Rizieq sakit, stress.

Jawaban perdebatan pikiran Rizieq itu, akhirnya dia mendapatkannya hari ini (9/1/2017). Tito sudah mengeluarkan ancaman bahwa jika Rizieq mangkir, maka akan dijemput paksa. Menurut Tito, Rizieq tidak memenuhi panggilan penyidik pada tanggal 5 Januari 2017 lalu dengan alasan sakit. Karena itu Rizieq rencananya akan diperiksa kembali pada tanggal 12 Januari 2017 mendatang.

“Yang bersangkutan (Rizieq Shihab) sedang diproses hukum di Jawa Barat. Dipanggil tanggal 5 Januari kemarin tapi tidak hadir dengan alasan sakit. Dipanggil kembali tanggal 12 Januari 2017”, ujar Kapolri Tito. “Kita lihat, datang atau tidak. Jika datang diperiksa. Jika tidak, sesuai hukum, KUHP tentu kita lakukan surat perintah membawa”, tegas Tito seperti dilansir oleh Merdeka.com (9/1/2017).

Saya yakin bahwa Tito kini mendapat momen yang tepat untuk menekuk Rizieq. Ketika Indonesia tegas kepada Australia yang menghina Pancasila, maka Indonesia juga tegas kepada seorang Rizieq yang melakukan hal yang sama. Dan sentimen inilah yang hendak dipakai Tito untuk menekuk Rizieq. Akankah Rizieq menolak datang lagi? Atau dia memilih untuk dijemput paksa? Mari kita dengar jawaban sikura-kura.

Salam Seword

Share.

About Author

Warga biasa, tinggal di Jakarta. E-mail: lahagu@gmail.com

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage