Untung Saja Bukan Ahok yang Orasi Saat Azan

Untung Saja Bukan Ahok yang Orasi Saat Azan

52

Foto: tempo.co

Kampanye yang dilakukan sambil bagi-bagi kalender tahun 2017 oleh calon gubernur DKI Jakarta nomor urut 1, Agus Harimurti Yudhoyono, hari ini dilaksanakan di Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Senin 9 Januari 2017 siang.

Setelah berjalan melalui gang-gang, di penghujung kampanyenya telah dipersiapkan dengan manis sebuah panggung untuk calon nomor 1 berorasi. Di panggung tempat Pak Agus berorasi hanya beberapa meter dari Masjid Jami Al-Anfal inilah sang calon mengajak warga untuk memilihnya pada tanggal 15 Februari 2017 nanti untuk sebuah perubahan di Jakarta.

“Coblos nomor berapa? Nomor satu!” ujar Agus yang dilansir kompas.com hari ini 9 Januari 2017.

Kampanye dengan panggung yang telah disiapkan dan berorasi ya sudah biasa untuk calon nomor satu ini. Namun suatu hal yang “mungkin” tidak biasa terjadi di kampanye hari ini yaitu di tengah orasinya terdengar suara azan dari masjid yang berdekatan dari lokasi. Agus dan rombongan diberitakan terus melanjutkan seruan dan teriakannya di tengah berkumandangnya azan tersebut. Menurut pemberitaan kompas.com, orasi Agus di panggung yang lengkap dengan mikrofon berikut pengeras suaranya, sehingga volumenya cukup keras dan terdengar beradu dengan suara azan dari masjid tersebut.

Sepengetahuan saya, seperti yang juga kerap terjadi di lingkungan sekitar rumah saya, kegiatan-kegiatan yang mengeluarkan suara yang keras biasanya dihentikan sejenak ketika azan dari masjid terdengar di lokasi untuk menghormati saudara-saudara yang ingin atau sedang beribadah. Ditambah lagi, azan yang merupakan panggilan untuk beribadah ini sebaiknya memang tidak terganggu oleh suara-suara yang lain agar suaranya dapat terdengar dengan jelas oleh umat Muslim di sekitar lokasi.

Bukannya menjadikan azan untuk mengingatkan diri sendiri atau warga yang beragama Islam untuk sholat, sang calon nomor 1 malah melanjutkan orasinya. Saya cukup “prihatin”.

Seketika ini juga saya teringat cerita yang saya baca tentang calon nomor 2 di jakartaasoy.com. Cerita tentang penulis tersebut dan teman-temannya yang pada tahun 2012 sedang bersama dengan Pak Ahok berkampanye dan mereka ingin Sholat Ashar tapi belum ada tempat dan tidak bawa mukena. Cerita yang jelas menggambarkan sikap toleransi dan saling menghormati yang dimiliki Pak Ahok yang kemudian mengingat-ingat dan menelpon teman-temannya di sekitar daerah Meruya, Jakarta Barat dan pada akhirnya berhasil membantu para umat Muslim tersebut menemukan tempat sholat di rumah seorang dokter.

“Untung saja bukan calon nomor 2,” begitulah yang ada di benak pikiran saya ketika membaca pemberitaan ini hari ini. Ya, untung saja bukan kegiatan hari ini di Jakarta Utara tersebut bukan kegiatan Pak Ahok, meskipun saya sangat meragukan bahwa beliau yang telah terbukti sangat menghormati umat Muslim yang ingin beribadah ini akan membiarkan hal yang sama terjadi seperti apa yang terjadi hari ini.

Tidak bisa saya bayangkan apa yang akan terjadi jika hal yang dilakukan calon nomor 1 beserta timnya ini dilakukan oleh Pak Ahok. Bisa-bisa calon nomor urut 2 ini akan dibilang tidak punya sopan santun atau tidak punya rasa toleransi antar umat beragama. Atau mungkin bisa-bisa para haters beserta bot-nya akan membuat cerita “Ahok melecehkan Islam” menjadi trending topic di Twitter dan media sosial lainnya malam ini.

Untung saja bukan Pak Ahok, karena kalau tidak mungkin juga bisa-bisa besok pagi sudah ada laporan polisi terhadap Pak Ahok oleh Front Pembela Islam (FPI) yang diwakili Novel Bamukmin dengan tuduhan telah menistakan agama Islam lagi karena tidak menghormati suara azan dari masjid. Maafkan saya yang mungkin suudzon ini karena memang faktanya sudah banyak laporan-laporan sebelumnya telah dilakukan oleh pihak yang satu ini.

Ngomong-ngomong, saya tidak menuduh pihak calon nomor 1 melakukan penistaan agama loh ya, saya tidak memiliki kapasitas untuk menilai atau menyimpulkan hal itu. Saya hanya menebak tindakan keagamaan (atau politik) yang akan dilakukan pihak-pihak lain apabila hal yang sama dilakukan oleh Pak Ahok.

Untung saja bukan Pak Ahok dan jangan sampai terjadi pada Pak Ahok ya! Semoga Pak Ahok dan timnya menjadikan kejadian calon lain ini untuk pembelajaran mereka untuk lebih berhati-hati dan tidak memberikan celah kepada lawan politik dan haters untuk membawa-bawa isu agama lagi, karena memang buktinya masih banyak manusia di negara ini yang belum bisa move on dari masalah SARA.

 

Share.

About Author

I am just a man with a lot of words to talk, sentences to convey and lines to write.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage