Waspada 1, Pertarungan Jokowi-Ahok Mencapai Puncak

Waspada 1, Pertarungan Jokowi-Ahok Mencapai Puncak

111

Tidak ada yang pernah menyangka bahwa Pilkada DKI 2017 akan berakhir dengan lahirnya sebuah musim yang baru bukan hanya bagi Ahok, tapi juga bagi bangsa ini. Kekalahan Ahok ternyata tidak mematikan dia, bunga dan balon membuat sakit hati para pemenang “perang badar”.  Akhirnya, yang terburuk pun harus diterima Ahok, hakim-hakim PN yang “masuk angin” telah menyalakan api revolusi baru, revolusi lilin (candle revolution).

Bukan hanya di Jakarta, tapi kota-kota di dalam dan diluar negeri bergerak tanpa henti untuk menyalakan lilin mendukung Ahok.  Bagaikan wabah, revolusi lilin ini telah membangunkan kelompok pecinta NKRI yang selama ini senyap dalam diam.  Para keluarga muda dan profesional tiba-tiba semua merasa terusik.  “Kalau Ahok saja bisa dibui, maka siapapun bisa”, itulah yang menjadi pemahaman yang mendorong gelombang revolusi lilin.

Apakah Ahok akan ditangguhkan penahananya atau tidak menjadi isu yang kedua. Isu yang utama adalah Ahok sudah divonis bersalah penistaan agama oleh Hakim, meskipun jaksa tidak menuntut. Hal ini membuat peperangan Ahok tidak hanya sekedar membebaskan diri dari penjara, tapi menjadi peperangan melawan ketidakadilan dari lembaga Yudikatif Indonesia.

***

Apabila kita mengikuti kiprah Jokowi-Ahok sejak 2012, maka kita melihat bahwa peperangan level #1 ada di eksekutif, disinilah Ahok membabat habis birokrasi dan menjadi contoh birokrasi yang bersih. Disinilah para penjahat PNS yang kena gusur, sakit hati.

Di level #2, peperangan dengan legislatif terlihat antara Ahok dan DPRD sekaligus Jokowi dengan KMP.  Proses panjang peperangan eksekutif – legislatif ini akhirnya terkulminasi di lembaga Yudikatif.  Disini Polri, dan isu “dewan jendral” mulai muncul.  Dan puncaknya, wajah para hakim yang dengan dingin mengeksekusi Ahok telah membuat seluruh bangsa, bahkan masyarakat internasional tertegun.  Sebegitu parahkah Indonesia?

Inilah realitasnya, kanker pemerintahan Indonesia ada disemua level eksekutif, legislatif, dan yudikatif, bahkan harus ditambah dengan realitas parpol-parpol yang bagaikan piranha kelaparan anggaran.

Jokowi-Ahok bagaikan dua sekawan yang tidak memiliki teman ataupun kelompok yang 100% mendukung.  Yang mereka miliki hanya suara rakyat.  Ketika rakyat berhenti bersuara, berhentilah mereka.

****

Sekarang ini peperangan telah sampai ke puncak, Jokowi harus mengambil langkah politiknya, karena sang benteng sudah dikorbankan. Semua lawan politik sudah tidak malu-malu lagi menyatakan perangnya. Jakarta seakan-akan hendak dijadikan “republik Jakarta” dan terpisah dari Jokowi.  Para mantan menteri Jokowi berkumpul di Jakarta adalah bukti nyata, malu bukanlah lagi kosa kata.

Sementara itu, meskipun Ahok tidak lagi memiliki posisi, tapi ternyata Ahok justru muncul sebagai kekuatan politik independen terbesar yang pernah ada sejak reformasi.  Bisa dikatakan, “Teman Ahok” telah bermanifestasi dengan sempur di revolusi lilin.  Tidak heran, PDI-P langsung merapat dan terus membina komunikasi. Airmata Djarot juga memperlihatkan bahwa Ahok telah memenangkan hati petinggi-petinggi PDI-P.

Sebab itu koalisi Jokowi – PDI-P – Ahok – Para Relawan menjadi benteng – benteng terakhir NKRI dalam konteks politik praktis. Bagaimana dengan Nasdem, Hanura? Kekuatan mereka tidak begitu meyakinkan. Support ke Ahok sebatas legalitas, tidak terasa sampai keakar rumput.  Apalagi Golkar, lupakan saja partai orba ini, karena hampir tidak ada loyalitas sama sekali.  Demikan juga partai-partai agamis, setengah hati atau bahkan seperempat hati.

Diluar politik praktis, NU (Nahdatul Ulama) dan Ansor adalah benteng penting melawan radikalisme dan intoleran. Tapi karena tidak bermain langsung di politik, gerak NU dan Ansor tetap ada batasan-batasan. Istilahnya, NU menjadi pagar luar NKRI.  Ketika NU bobol, maka Indonesia akan dalam siaga 1 secara sosial budaya dan ideologi.

Kelompok-kelompok non muslim adalah kelompok-kelompok yang sangat netral dan termasuk bagian besar dari SILENT MAJORITY yang sedang menjadi trending topic saat ini.  Kelompok-kelompok ini lebih safe bergabung dengan NU yang mengusung Islam Nusantara. Tapi sayangnya, kelompok-kelompok non muslim lebih mudah disalahgunakan karena tidak ada pengalaman dalam kegerakan-kegerakan sosial.

***

Saat ini agenda reformasi Indonesia Baru terlihat agak tersendat, tapi secara gambar besar sebenarnya perjuangan Jokowi-Ahok dalam menuntaskan reformasi 1998 yang akan genap 20 tahun di 2018 ada didepan gawang.

Seluruh elemen bangsa saat ini harus bersatu dan bergandeng tangan melawan manifestasi neo orba, radikalisme, para oportunis sektarian yang bermain didua kaki, dan para koruptor yang menjadi the real king maker. Waspada!

It’s not over, it’s just a beginning.

Pendekar Solo

Share.

About Author

Seorang WNI yang merindukan Indonesia Baru

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage