Saat Tua Nanti

Saat Tua Nanti

2

genggam tangan yang keriput

Saat tua nanti –kukira itu waktu yang
merangkum sekeranjang malu- aku ingin menjemputmu
dalam kenangan, milikku sendiri
meski ada diantaranya keping-keping retak
yang kauaku milikmu.

Usia seperti gamang jalanan memburu jejak, setapak
tempat semua orang akhirnya meniti. Pada satu tikungan
kutemu kamu yang menunggu malu-malu.
Aku tersesat mungkin, kamu pun terpesona lamunan.
Kita sepakat merapikan senyum seiring -sambil terus
berbagi jarak dan waktu, milik kita masing-masing.

Lalu soal malu –nyata lewat pias wajah dan sindirmu-
menandai wadah beras kosong, gas, mie instan
juga isi dompet melimbung. Satwa kecil di dinding pun
lincah menuturkan cara bersedih. Bagaimana kita?
Aku memintamu untuk menunda
dan merawatkan letih ini penanda kita ada.

Saat tua nanti –hari yang pasti tinggal dekat lagi-
aku ingin menyukuri segenap serpih kenangan
akhirnya milik kita.  Karena hanya itu
harta meski tanpa nilai. Lipatan-lipatan
haru yang tersusun,
dari tiap langkah lelah menelusuri liku-liku semu
yang mempertautkan dua orang malu, dulu.
Semarang, 10 Agustus 2017

Gambar : https://btbob.deviantart.com/art/Old-hand-124857032

Share.

About Author

Pensiunan. Menulis untuk merawat ingatan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage