Ahok Ditahan di Mako Brimob, Fahri Hamzah Kejang-kejang

Ahok Ditahan di Mako Brimob, Fahri Hamzah Kejang-kejang

20

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah (http://www.jawapos.com/

Eksekusi hukuman Basuki Tjahaja Purnama (biasa dipanggil Ahok) oleh Jaksa ternyata membuat hati Fahri Hamzah panas membara. Ini, merupakan buntut dari sandiwara hukum, katanya. Merupakan bukti bahwa pemerintah Indonesia ditekan oleh dunia internasional serta merupakan bukti bahwa para penegak hukum tidak berpegang teguh pada hukum.

Dia bilang, sejak awal proses hukum Ahok di kepolisian hanya rekayasa. Skenario hukum dalam memroses Ahok sudah dibangun. Sangat tampak tidak-adanya keikhlasan menjadikan Ahok sebagai tersangka sehingga persidangan dan penahanannya dijadikan sandiwara, katanya kepada media (CNN Indonesia)

“Akhirnya pemerintah seperti ditekan secara internasional. Aparat hukum kita itu tidak memegang hukum sekuat kita memegang prinsip-prinsip yang benar dalam hidup, tapi hukum dibuat negotiable, dibelokkan, diputar, dan sebagainya,” jelas Fahri. “Inilah ujungnya, tidak ikhlas menersangkakan Ahok, tidak ikhlas menuntut Ahok. Persidangannya dibikin sandiwara, penahanannya juga dibikin sandiwara. Kacau negara seperti ini, nggak boleh,” lanjutnya. (detik.com).

Tak Mau Tahu

Dari pemberitaan itu tampak beberapa poin yang membuat hati Fahri panas. Pertama, ia tak setuju kalau Ahok ditahan di Mako Brimob. Bagi dia, penahanan Ahok di Mako Brimob tidak benar. Tidak sesuai ketentuan hukum. Sebagai terpidana, Fahri berpendirian Ahok harus ditahan di Lapas Cipinang. Tidak boleh lain.

Penjelasan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna H. Laoly dan Jaksa Agung M. Prasetyo mengenai permintaan Kalapas Cipinang agar Ahok tetap ditahan di Mako Brimob karena adanya ancaman keamanan bila ditempatkan di Lapas Cipinang tak mau dipedulikan Fahri.

“Tugas jaksa Kejari Jakarta Utara adalah untuk eksekusi ke pihak LP Cipinang. Tapi Kalapas Cipinang dengan pertimbangan keamanan (memutuskan) menempatkan Ahok menjalani pidana di Rutan Mako Brimob. Semua atas putusan pihak Lapas. Jaksa sudah melakukan tugasnya,” kata Prasetyo (detik.com), tapi Fahri tetap tak mau tahu.

Kedua, hukum menurut Fahri harus ditegakkan. Apa yang diatur dalam ketentuan hukum harus dilaksanakan. Inilah yang menurutnya diabaikan oleh para penegak hukum. Dalam pandangannya, penegak hukum di Indonesia tidak berpegang teguh pada hukum sekuat memegang prinsip yang benar dalam hidup. Mereka gampang diajak kompromi sehingga hukum bisa dinegosiasikan, dibelokkan, diputar sesuai keinginan orang tertentu.

“Kacau negara seperti ini, tidak boleh. Hukum tidak boleh bergeming dengan tekanan, opini, dan sebagainya. Itu kegagalan kita membangun hukum,” kata Fahri (jpnn.com)

Dikira Benar

Bagi yang tidak mengikuti kasus Ahok, pernyataan tersebut dikira benar. Apalagi karena hal itu diucapkan oleh seorang wakil ketua DPR RI. Namun, bagi yang paham kasus Ahok, yang mengikuti demo berjilid-jilid atas nama bela Islam, tapi sesungguhnya bertujuan untuk menumbangkan Ahok pada Pilkada DKI 2017, tentu saja merespon pernyataan itu dengan senyum-senyum. Mungkin juga ada yang geleng-geleng kepala membaca atau mendengarkannya karena terlalu sering menyaksikan hal-hal yang bertolak belakang dalam diri Fahri.

Dengan meyakinkan, Fahri bisa mengatakan hal yang 180 derajat berbeda dari tingkah laku nyatanya sehari-hari maupun dalam beberapa kali demo besar-besaran terhadap Ahok.

Dia bilang hukum seharusnya ditegakkan. Para penegak hukum seharusnya berpegang teguh pada ketentuan hukum. Tapi dirinya sendiri justru berbuat suka-suka. Ia kerap melakukan hal yang sebaliknya dari yang dikatakannya.

Contoh kecil saja waktu dia memimpin rapat paripurna tentang usul hak angket terhadap KPK. Dalam UU MD3 dan Tatib DPR sudah diatur mekanisme pengambilan keputusan. Harus ada kesempatan anggota menyampaikan pandangan, kemudian disusul voting untuk mengetahui jumlah yang setuju. Itu semua dilangkahi Fahri. Ia buru-buru mengetukkan palu keputusan sebelum ada jawaban pertanyaan setuju atau tidak dari peserta rapat.

Contoh berikutnya, pada saat demo 4/11/2016. Sebagai wakil ketua DPR semestinya tidak perlu turun ke jalan berteriak-teriak berdemonstrasi untuk dan atas nama penyampaian aspirasi masyarakat. Semestinya aspirasi masyarakat itu dia terima, ditampung, lalu dibahas di DPR kemudian disalurkan kepada lembaga yang relevan. Tapi, tipu, dia tidak lakukan, bukan? Yang dia lakukan malahan memprovokasi masyarakat agar melengserkan Presiden Jokowi.

Setelah Ahok dijadikan tersangka, Fahri ternyata belum puas. Ia tetap bersemangat berdiri di belakang para demonstran yang menuntut penegak hukum agar segera memenjarakan Ahok. Aneh bin tidak masuk akal, bukan? Bagaimana seseorang dipenjara sebelum disidang di pengadilan? Inilah kontradiksi dalam diri Fahri dan kawan-kawanya.

Rekayasa

Lebih lucu lagi, anggapannya bahwa penegak hukum tidak ikhlas menjadikan Ahok sebagai tersangka. Dia tidak mau paham bahwa Ahok memang tidak menista agama. Itulah sebabnya pendapat polisi terbelah ketika menetapkan status tersangka kepada Ahok.

Jadi kalau Fahri bilang dari awal kasus Ahok rekayasa, itu 100% benar. Perekayasa pertama adalah Buni Yani. Inilah yang kemudian dikukuhkan oleh pandangan keagamaan MUI, yang dikipas-kipas oleh GNPF MUI dalam berbagai pernyataan provokatif di berbagai media, termasuk youtube, sehingga menjadi sebuah rangkaian mata rantai yang menggoreng pidato Ahok untuk menjadikannya tersangka, terdakwa, dan akhirnya terpidana.

Bisa dipastikan kalau bukan desakan demo berjilid-jilid yang didukung penuh oleh Fahri Hamzah, Fadli Zon, Ahamd Dhani, Amien Rais, Rizieq Shihab, AA Gym, Bachtiar Nasir dan lainnya dengan ratusan ribu massa yang saya yakin tidak semua paham mengapa mereka harus demo, maka penetapan status tersangka kepada Ahok mungkin tak pernah terjadi.

Kalau saja hakim bisa independen selama 23 kali persidangan, tanpa tekanan dari massa yang terus menerus, termasuk komentar Fahri dan kawan-kawannya, ada kemungkinan Ahok divonis bebas oleh hakim. JPU sendiri tidak bisa membuktikan dakwaan penodaan agama yang dituduhkan kepada Ahok.

Akibatnya, JPU hanya menuntut Ahok satu tahun penjara dengan percobaan dua tahun. Tapi, karena tekanan massa yang terus menerus, hakim tak mau mengambil risiko. Mereka akhirnya memutuskan hukum Ahok 2 (dua) tahun penjara.

Bagi Fahri hukuman dua tahun penjara bagi Ahok tidak cukup. Ia tampaknya sangat bahagia kalau Ahok dihukum maksimal sebagaimana diatur dalam Pasal 156 KUHP yang dijadikan dasar putusan oleh hakim. Pokoknya Ahok harus menderita dalam Lapas Cipinang. Tampaknya Fahri Hamzah sangat menderita melihat orang lain (utamanya Ahok) senang, dan ia sangat senang melihat Ahok menderita.

Tampaknya Fahri Hamzah sangat menderita melihat orang lain (utamanya Ahok) senang, dan ia sangat senang melihat Ahok menderita.

Itulah sebabnya ketika ia mendengar berita Ahok dititipkan lagi di Mako Brimob, ia sangat gelisah. Ia merasa perlu membuat dirinya menderita karena Ahok dianggapnya senang. Fahri mirip orang sakit parah, kejang-kejang.

Ada apa dengan Fahri?

Share.

About Author

Warga negara Republik Indonesia yang terus berusaha belajar untuk bisa memaknai hidup dengan berbagi ide kepada publik.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage