(Analisis) Mengapa Tabligh Akbar Bela Islam Berubah Menjadi Maulidan?

(Analisis) Mengapa Tabligh Akbar Bela Islam Berubah Menjadi Maulidan?

34

Kemarin saya menulis tentang bakal gagalnya Aa Gym ceramah di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Kesimpulan saya berdasar pada penolakan beberapa warga, salah satunya Abdullah bin Saidah, Ketua Kelompok Nelayan Pulau Pramuka. Abdullah tidak mau karena tabligh akbar ini, warga di Pulau Pramuka saling berselisih.

Ternyata. Tabligh akbar tetap berlangsung. Aa Gym tetap datang ke Pulau Pramuka. Dan disana sudah berkumpul ribuan jamaah untuk menghadiri tabligh akbar tersebut. Kelompok sebelah sudah kegirangan setengah mati. Dugaan pembatalan takbir akbar ternyata tidak terbukti. Apakah saya harus menghapus tulisan saya? Bagi kelompok sebelah, saya hapus atau tidak pun mereka tetap akan menjadikan seword sebagai sasaran selanjutnya untuk dimusnahkan, seperti halnya “katakita”.

Saya tidak akan menghapus tulisan saya sebelum ini. Mengapa? Jawabannya adalah karena acara tabligh akbar yang tadi siang terselenggara tidak sesuai dengan rencana awal. Rencana awalnya kan “Tabligh Akbar Aksi Bela Islam”, sesuai yang tertulis di poster yang telah beredar luas di jagat maya. Tapi, mengapa tabligh akbar tadi siang bermetamorfosis menjadi “Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw”?

Saya jadi menduga-duga, agak-agaknya, panitia lokal telah merubah bentuk acara dari “Aksi Bela Islam” menjadi “Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw” dengan mengambil tema: Kepulauan Seribu Bersyukur, Kepulauan Seribu Bertadabbur Al-QURAN.

Mengapa saya bisa berkesimpulan bahwa “agak-agaknya” panitia lokal, bisa jadi setelah berkoordinasi dengan panitia inti (GNPF MUI), merubah bentuk acara tabligh akbar di Pulau Pramuka? Jadi, memang bukan dari awal acara tabligh akbar ini murni agama. Ada hal yang membuat tabligh akbar “Bela Islam” harus dirubah menjadi pure tabligh akbar.

Pertama, dalam surat izin yang ditujukan kepada Kapolres tertulis, “…menyelenggarakan acara Tabligh Akbar Kepulauan Seribu Bela Islam dengan tema..” Ternyata, frase “Bela Islam” masih dipakai dalam surat izin. Apa itu sengaja atau khilaf saya tidak punya kepentingan atas itu.

Setidaknya, dengan penambahan frase “Bela Islam” ini telah mengonfirmasi bahwa acara tabligh akbar di Pulau Pramuka tidak terlepas dari kelanjutan spirit 212 dengan hastag #TahanPenista. Meski, saat acara berlangsung, panitia telah menyatakan bahwa acara ini pure tabligh akbar.

Kedua, mengapa harus Kepulauan Seribu? Mengapa harus Pulau Pramuka? Bukankah masih ada Pulau Tidung, Panggang, Kelapa dan lain sebagainya? Sepertinya, tabligh akbar ini sengaja menyasar Pulau Pramuka, TKP kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok. Kalau kita merujuk ke poster yang telah beredar luas, memang tabligh akbar sengaja diadakan di Pulau Pramuka. Tujuannya pasti sudah terbaca, yakni mempengaruhi warga bahwa memang ada kasus penistaan agama disana.

Sayangnya ini tidak jadi dilakukan. Plan A diganti plan B. Mengapa ada pergantian rencana? Karena, telah muncul penolakan-penolakan agar acaranya diundur, dari beberapa orang disana. Salah satunya, Abdullah bin Saidah. Ia tidak mau, setelah disakiti dengan kata-kata Novel Bamukmin bahwa orang Kepulauan Seribu imannya kurang, kini, dengan tabligh akbar itu bisa membuat warga disana makin panas.

Sebagai warga disana Abdullah tentu boleh curiga. Karena 60 persen warga di Pulau Pramuka masih terikat hubungan keluarga. Saya menduga, agak-agaknya, kedua kubu (panitia lokal dan warga yang berkeberatan dengan tabligh akbar) saling menahan diri. Demi hubungan kekeluargaan, tabligh akbar tetap berlangsung tapi dengan syarat unsur “Bela Islam”nya harus dihilangkan. Bahkan materi yang akan disampaikan pun tak boleh menyentuh tentang isu-isu yang sensitif.

Itulah sebabnya, Aa Gym dalam ceramahnya, lebih banyak menjelaskan tentang persatuan dan kesatuan bangsa. Ia berharap negeri ini harus terus benar-benar kokoh, ia tidak mau negeri ini pecah. Katanya, sudah takdirnya negeri ini beragam, suku beragam, agama beragam. Mari kita jaga sama-sama.

Ceramah yang sangat mengesankan. Saya membayangkan Aa ceramah seperti ini di hadapan FPI, MUI dan yang secingkrangan dengannya. Mengajak Rizieq Syihab untuk menjaga lisannya dari kata-kata keji. Menasehati MUI agar jangan terlalu ngurusin agama orang, bahkan sampai topi natal sekalipun. Juga, Aa perlu memberikan semacam taushiyah kepada kelompok-kelompok pro ISIS dan mereka yang telah banyak mensuplai bantuan terhadap ISIS agar mereka sadar bahwa benih perpecahan bisa berawal dari situ.

Memangnya apa urgensinya ceramah tentang persatuan di sebuah masyarakat yang 60 persennya telah terikat pada tali kekeluargaan? Kurang bersatu apa mereka? Justru, ra(i)sa-ra(i)sanya, berceramah di jamaah Petamburan akan sangat terlihat urgensinya. Aa jangan pilih kasih, untuk Ahok berlaku “lakum dinukum waliya din”, sedang untuk Rizieq, Aa tak pernah bisa bersuara. Ini sangat tidak adil.

Ketiga. Mengapa ada spanduk yang dipasang di dermaga Pulau Pramuka yang berisi tulisan #TahanPenista? Selain #TahanPenista, pada spanduk tersebut tertulis juga beberapa kalimat seperti Tabligh Akbar Aksi Bela Islam, Kawal Terus Aksi Bela Islam III, dan #SpiritBerjamaah. Ini sama dengan yang ada di poster.

Dan mengapa spanduk ini di pasang di dermaga, tempat orang lalu lalang? Apakah ini disengaja? Atau, itu adalah semacam karomah yang membuat spanduk tersebut terpasang tiba-tiba? Atau, penyelenggara mau menyalahkan simpatisan Ahok yang telah memasang spanduk itu agar seakan-akan tabligh akbar tersebut masih bermuatan “Bela Islam”? Nggak ada kerjaan banget yah simpatisan Ahok itu.

Kalau memang tabligh akbar ini pure, seperti yang dikatakan panitia, kegiatan agama berupa peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, lalu apa penjelasan untuk spanduk tadi? Lalu mengapa peringatan Maulidnya jauh sekali dari hari H? Ini seperti orang Kristen yang memperingati Natal pada tanggal 25 Januari.

Rasa Maulidnya sudah tergerus oleh banyak hal, natal, tahun baru, dan libur panjang sekolah. Memang sih peringatan Maulid boleh kapan aja. Tapi, dengan rentang yang hampir sebulan, apakah masih relevan memperingati Maulid Nabi? Sebagai pakar ra(i)sa, agak-agaknya, perayaan Maulid ini sungguh dipaksakan. Tidakkah ada ulama, ustadz, atau kiayi untuk dapat mengisi peringatan Maulid Nabi selain Aa Gym? Hingga harus menunggu hampir sebulan? Ra(i)sa-ra(i)sanya saya enggan untuk mempercayainya.

Jadi, apakah saya perlu menghapus tulisan saya? Sebab, tabligh akbar tetap berlangsung? Jawabannya saya tegaskan lagi, “Tidak Perlu!” Karena, tabligh akbar yang dilakukan ini dipaksakan untuk tetap terlaksana, meski harus menghilangkan pesan “Bela Islam”nya. Kalau tidak ada penolakan, bahkan seluruh warga minta diadakan tabligh akbar, tentu plan A yang akan dilaksanakan.

Semoga saja analisis saya salah, sebab benar hanyalah milik-Nya.

Ra(i)sa-ra(i)sanya begitulah.

Share.

About Author

Tukang Dakwah, Tukang Mikir, Pakar Ra(i)sa, Spesialis agak-agak, WA: +6285217877894

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com, jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat menghubungi:

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage