Anies-Sandi Sudah Menuai Hasil, Al-Khaththtath Masih Ditahan Dan Harus Berjuang Sendiri

Anies-Sandi Sudah Menuai Hasil, Al-Khaththtath Masih Ditahan Dan Harus Berjuang Sendiri

27


Kemenangan Anies-Sandi tidak terlepas dari jasa-jasa para ulama dadakan yang terus memainkan isu sara. Bahkan, kontribusi dari para ulama dadakan ini disinyalir merupakan faktor yang paling menentukan terhadap kemenangan Anies-Sandi. Isu-isu penistaan agama sangat manjur untuk memberikan doktrin kepada masyarakat awam bahwa haram hukumnya memilih Ahok karena non-muslim.

Beberapa aksi yang terjadi juga membuat warga Jakarta ketakutan dan terpaksa memilih Anies karena tidak ingin ada aksi demo lagi. Mereka butuh keenangan dan ketentraman meskipun harus menghianati hati nurani. Tanpa pasukan ini, Anies-Sandi hampir pasti kesulitan berhadapan dengan Ahok karena tak punya track record yang bagus.

Fakta bahwa tingkat kepuasan kinerja Ahok mencapai 70% namun kemudian muncul fenomena ‘asal bukan Ahok’ adalah buah dari kerja mereka. Mereka yang berhasil membuat ancaman kepada warga Jakarta. Mereka juga yang siap membuat warga Jakarta tidak tenang (dengan aksi demo) jika Ahok menang di Pilkada.

Namun sayangnya, Anies-Sandi hanya akan memanfaatkan pasukan ini. Anies-Sandi sangat menikmati hasil-hasil dari kegiatan aksi, politisasi masjdi dan penolakan jenazah. Ketika pasukan ini sedang mengalami permasalahan, Anies-Sandi justru cuci tangan dan membiarkannya berjuang sendiri. Terlebih, Anies-Sandi juga sudah menang. Tidak ada pengaruhnya lagi untuk membantu pasukan-pasukan yang sekarang harus berurusan dengan polisi.

Salah satu diantara pasukan yang sedang mengalami persoalan adalah Al-Khaththath. Polda Metro Jaya telah memperpanjang penahanan tersangka kasus dugaan makar, Muhammad al Khaththath hingga 40 hari sejak Selasa (18/4) lalu. “Sudah kita perpanjang masa penahanannya, terus kita periksa,” ujar Kabid Humas Polda etro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono, Kamis (19/4).

Namun, Argo enggan mengungkapkan alasan penyidik memperpanjang penggerak aksi 313 tersebut. Menurut dia, hal itu merupakan subjektifitas penyidik. “Ya itu haknya penyidik lah ya, tentunya untuk penyidik,” ucapnya.

Beberapa pihak mendesak kepolisian agar segera membebaskan Al Khaththath. Namun, menurut mantan Kabid Humas Polda Jatim tersebut, beberapa pihak tersebut tidak dapat campur tangan dalam prnegakan hukum.

Hanya saja, Argo mempersilakan, jika mereka akan mengajukan penangguhan penahanan kepada Kompolnas, sehingga nantinya bisa dianalisa penyidik dipenuhi atau tidaknya. “Ya hukum tidak bisa diintervensi lah ya,” katanya.

Argo menambahkan, dalam menangani kasus dugaan makar Al Khaththath tersebut penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap delapan saksi, serta dua saksi ahli. “Sudah ada delapan saksi-saksi yang kita periksa, ada dua saksi ahli juga. Saksi ahli dari ahli bahasa dan ahli pidana,” ujarnya.

Nasib Al-Khaththath seperti Buni Yani yang harus berjuang menghadapi proses hukum sendiri. Bahkan, Buni Yani harus kehilangan pekerjaan dan membayar pengacaranya dari kantong pribadi akibat perbuatannya yang sangat membantu mengantarkan Anies-Sandi memenangkan Pilkada. Sampai saat ini, Buni Yani masih terlunta-lunta dan sangat mengharapkan bantuan baik materi maupun non-materi.

Disaat Anies-Sandi sedang bergembira merayakan kemenangannya, di sudut lain ada orang yang telah berjasa terhadap kemenangan Anies-Sandi justru sedang meringkuk di tahanan. Polisi memperpanjang penahanan Al-Khaththtath. Beliau harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri.

Apa pernah kita lihat kubu Anies-Sandi yang sedikit mau bersimpati dengan Al-Khathtahath? Kubu Anies-Sandi justru terkesan cuci tangan. Menganggap Al-Khaththath bukan bagian dari mereka namun mereka sangat menikmati hasil kerja Al-Khathtath. Bahkan mungkin, nama Al-Khaththath bukan bagian dari nama-nama yang perlu diperhatikan oleh Anies-Sandi seperti Rizieq Syihab.

Sungguh malang nasib Al-Khaththath. Tidak jelas apa yang diperjuangkan. Sekarang, dia harus mempertanggungjawabkan sendiri perbuatannya. Tidak ada kawan yang membantu. Tidak ada yang peduli.

Sangat disayangkan. energi orang-orang seperti ini harus dikuras habis untuk kepentingan politik. Apa karena mereka sangat bodoh sehingga tidak bisa membedakan mana tindakan yang benar dan mana tindakan yang salah. Sungguh keji para politikus yang dengan liciknya memanfaatkan jasa mereka. Dan ketika tujuan telah tercapai, mereka ibarat sampah yang sudah tidak ada gunanya. Kata pepatah habis manis sepah dibuang.

Mudah-mudahan dengan ini membuat Al-Khaththath sadar bahwa apa yang diperbuatnya hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang haus kekuasaan. Keberadaan dirinya nyaris tak dianggap oleh orang-orang tersebut. Mereka hanya ingin memanfaatkan saja.

Silahkan baca artikel saya yang lain di: https://seword.com/author/saefudin/

Sumber:

 

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/04/21/ooqdvv396-polda-metro-perpanjang-masa-penahanan-al-khaththath

Share.

About Author

Bukan Siapa-Siapa email : saefudinachmad1991@gmail.com BBM : D22E6398

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage